Beritakota.id, Jakarta – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dody Hanggodo, memperkirakan proses pemulihan infrastruktur pascabencana banjir dan longsor yang melanda Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh akan memakan waktu antara dua hingga tiga tahun. Rencana realistis pemerintah mencakup pemulihan hingga tiga tahun ke depan, meskipun pemulihan tercepat diprediksi dapat dicapai dalam dua tahun.

“Paling cepat (pulih) 2 tahun. Itu paling cepat. Tapi di dalam proposal rencana kita ke Bappenas, kita bikin 3 tahun,” ujar Dody dalam media briefing penanganan bencana di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat (16/1/2026). Lamanya proses pemulihan ini disebabkan oleh skala kerusakan infrastruktur yang masif, mulai dari jalan, jembatan, hingga sumber daya air.

Beberapa proyek fisik perbaikan, seperti pembangunan sabo dam dan cek dam, serta penanganan ruas jalan Tarutung-Sibolga dan perbaikan Jalan Tol Lembah Anai, memerlukan waktu bertahap dan tidak bisa diselesaikan dalam jangka pendek.

Prioritas utama pemerintah saat ini adalah memastikan masyarakat tidak lagi terisolasi. Menteri Dody melaporkan bahwa seluruh jalan dan jembatan nasional yang terdampak bencana kini telah berfungsi kembali secara fungsional. Dari 99 ruas jalan nasional dan 33 jembatan nasional yang sempat terputus, kini seluruhnya sudah dapat dilalui, meskipun sebagian masih bersifat sementara.

Meskipun demikian, tantangan besar masih dihadapi di tingkat daerah. Hingga kini, masih terdapat sekitar 2.000-an jalan dan jembatan daerah yang masih terputus dari total 2.710 unit infrastruktur daerah yang terdampak.

Dari jumlah tersebut, jalan daerah yang kembali berfungsi fungsional baru mencapai 72 persen, sementara penanganan jembatan daerah baru sekitar 12 persen. Pemerintah terus berupaya untuk mempercepat pemulihan di semua tingkatan infrastruktur demi memulihkan kehidupan normal masyarakat.