0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Rusia Spesial Ukraina

    Pertemuan Trilateral AS, Rusia, Ukraina Diwarnai Serangan Udara, Diplomasi Terancam Gagal - Tribunnews

    12 min read

     

    Pertemuan Trilateral AS, Rusia, Ukraina Diwarnai Serangan Udara, Diplomasi Terancam Gagal

    Serangan udara besar-besaran Rusia di Ukraina mengancam diplomasi yang sedang dilaksanakan di Abu Dhabi.


    Ringkasan Berita:
    • Pertemuan trilateral antara Amerika Serikat (AS), Rusia, dan Ukraina di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) pada Jumat (23/1/2026) dan Sabtu (24/1/2026) ternodai dengan serangan udara.
    • Serangan rudal dan drone besar-besaran dari Rusia dilaporkan menghantam Ibu Kota Ukraina, Kyiv dan Kharkiv pada Sabtu (24/1/2026).
    • Otoritas setempat mengonfirmasi satu warga sipil tewas dan sedikitnya 27 orang lainnya luka-luka akibat insiden tersebut.

    TRIBUNNEWS.COM - Pertemuan trilateral antara Amerika Serikat (AS), Rusia, dan Ukraina di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) tercam mencapai kesepakatan.

    Sebab, Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran di wilayah Ukraina pada Sabtu (24/1/2026).

    Serangan rudal dan drone besar-besaran dari Rusia dilaporkan menghantam Ibu Kota Ukraina, Kyiv dan Kharkiv.

    Otoritas setempat mengonfirmasi satu warga sipil tewas dan sedikitnya 27 orang lainnya luka-luka akibat insiden tersebut.

    Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiha, menyampaikan kecaman keras melalui akun media sosialnya.

    Ia menyebut tindakan Rusia sebagai bentuk teror yang tidak menunjukkan iktikad baik dalam berdiplomasi.

    "Upaya perdamaian? Pertemuan trilateral di UEA? Diplomasi? Bagi rakyat Ukraina, ini adalah malam teror Rusia lainnya," tulis Sybiha, mengutip The Moscow Times.

    Ia menambahkan bahwa Presiden RusiaVladimir Putin sengaja memerintahkan serangan brutal tersebut saat delegasi sedang duduk bersama untuk membahas proposal perdamaian yang diprakarsai oleh AS.

    Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan bahwa Rusia telah meluncurkan lebih dari 370 drone serbu dan 21 rudal dari berbagai jenis dalam satu malam.

    Serangan ini kembali menyasar infrastruktur energi, menyebabkan ribuan warga di Kyiv terpaksa bertahan hidup tanpa pemanas di tengah suhu ekstrem di bawah nol derajat Celsius.

    "Rudal-rudal itu tidak hanya menghantam rakyat kami, tetapi juga menghantam meja perundingan," tegas Zelensky.

    Baca juga: Serangan Dahsyat Rusia Lumpuhkan Ukraina, Zelenskyy Desak Amerika Penuhi Janji Bantuan

    Kondisi ini memicu keprihatinan internasional.

    Uni Eropa menuduh Moskow sengaja menggunakan cuaca dingin sebagai senjata dengan merampas fasilitas pemanas bagi warga sipil.

    Di sisi lain, negosiasi di Abu Dhabi yang dimediasi oleh Amerika Serikat memasuki hari kedua dengan tensi tinggi.

    Kepala negosiator Ukraina, Rustem Umerov, menyatakan bahwa diskusi berfokus pada parameter untuk mengakhiri invasi dan logika proses negosiasi ke depan.

    Meski upaya diplomasi terus dipacu, kedua belah pihak dilaporkan masih menemui jalan buntu terkait sengketa wilayah, khususnya di kawasan Donbas, Ukraina Timur.

    Kremlin tetap bersikeras bahwa Ukraina harus menarik pasukannya dari wilayah yang diklaim telah dianeksasi oleh Rusia jika ingin kesepakatan damai tercapai.

    Perundingan di Abu Dhabi telah Selesai

    Perundingan yang berlangsung hari ini di Abu Dhabi antara perwakilan RusiaUkraina, dan AS untuk mengakhiri perang telah berakhir, demikian dilaporkan kantor berita AFP, mengutip seorang negosiator Ukraina.

    Kantor berita milik negara RusiaRIA Novosti, mengatakan bahwa tim Rusia telah kembali ke hotel mereka, sedangkan delegasi AS menuju ke bandara.

    Tidak jelas apakah ada kemajuan yang telah dicapai.

    Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan Moskow terbuka untuk pembicaraan lebih lanjut dengan Ukraina.

    Sebuah sumber anonim yang dikutip oleh kantor berita TASS mengatakan bahwa pembicaraan di Abu Dhabi membuahkan beberapa hasil, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

    Sementara itu, seorang juru bicara pemerintah UEA mengatakan bahwa perundingan perdamaian Rusia-Ukraina berpusat pada "elemen-elemen penting" dari kerangka perdamaian yang diusulkan AS.

    Pejabat tersebut, yang dikutip oleh kantor berita Reuters, tidak memberikan rincian tentang hasil negosiasi.

    Baca juga: Kekhawatiran Perang Dunia III Meningkat, Royal Navy Cegat Kapal-kapal Rusia di Selat Inggris

    Namun, ia mengatakan bahwa "keterlibatan langsung" antara Rusia dan Ukraina berlangsung dalam "suasana yang konstruktif dan positif".

    Fokus Utama Pembicaraan

    Menurut laporan yang dihimpun, perundingan trilateral ini difokuskan pada dua isu krusial yang selama ini menjadi ganjalan utama.

    Pertama adalah masa depan wilayah Donbas, di mana status wilayah yang sebagian besarnya masih diduduki oleh pasukan Rusia tetap menjadi poin paling kontroversial.

    Mengutip The Kyiv IndependentRusia dilaporkan tetap teguh pada tuntutan agar Ukraina menarik pasukannya dari seluruh wilayah Donetsk sebagai syarat penghentian perang.

    Lalu yang kedua adalah gencatan senjata infrastruktur energi.

    Tim perunding Ukraina dan AS mengusulkan kesepakatan untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing.

    Skema yang diajukan adalah Rusia berhenti menyerang fasilitas energi Ukraina, sebagai imbalan Kyiv akan menghentikan serangan drone terhadap kilang minyak dan kapal tanker Rusia.

    Penasihat Presiden Ukraina, Dmytro Lytvyn, menjelaskan bahwa perundingan berlangsung dalam berbagai format.

    Para peserta bergantian antara sesi pleno bersama, diskusi bilateral terpisah, hingga kelompok kerja kecil yang membahas isu spesifik secara teknis.

    Selain isu wilayah dan energi, aspek ekonomi juga turut dibahas, termasuk rencana penggunaan aset Rusia yang dibekukan di AS untuk mendanai rekonstruksi pascaperang di Ukraina.

    (Tribunnews.com/Whiesa)


    Komentar
    Additional JS