0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Iran Reza Pahlavi Spesial

    Siapa Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran Dekat dengan Israel | tempo

    7 min read

      

    Siapa Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran Dekat dengan Israel | tempo.co

    Putra mahkota Iran Reza Pahlavi bersuara keras di tengah demonstrasi panas. Ia dikenal dekat dengan Israel.

    13 Januari 2026 | 08.40 WIB


    Reza Pahlavi. Dok. Rezapahlavi.com
    Logo

    SOSOK putra mahkota, Reza Pahlavi muncul di tengah panasnya demonstrasi di Iran. Dari jauh, ia mendorong protes Iran hingga menjadi ancaman serius bagi teokrasi negara tersebut. Putra mahkota Iran yang diasingkan itu bersuara mendorong para pengunjuk rasa untuk menggelar demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Reza Pahlavi, 65 tahun, tinggal di pengasingan di luar negeri selama hampir 50 tahun.

    Siapakah Putra Mahkota Reza Pahlavi?

    Reza Pahlavi lahir pada 31 Oktober 1960, tujuh tahun setelah AS dan Inggris merekayasa kudeta terhadap Perdana Menteri Iran yang terpilih saat itu, Mohammad Mosaddegh. Kejatuhan Mosaddegh setelah ia menasionalisasi aset perusahaan minyak Anglo-Persia, yang sekarang dikenal sebagai BP, pada 1951.

    Ia mewarisi takhta dari ayahnya sendiri, Shah Mohammad Reza Pahlavi, seorang perwira militer yang merebut kekuasaan di Iran dengan dukungan dari Inggris. Pada usia tujuh tahun, foto-foto menunjukkan dia duduk di samping singgasana bertatahkan permata milik ayahnya dengan mengenakan seragam anak-anak yang menyerupai seragam Shah.

    Dilansir dari Sky News, gaya hidup mewah monarki pada waktu itu turut memicu ketidakpuasan di kalangan warga Iran yang terpinggirkan akibat kesenjangan kekayaan yang semakin lebar. Selain itu inflasi yang melonjak dan upaya Shah untuk memodernisasi ekonomi yang bergantung pada minyak membuat rakyat Iran tak puas.

    BACA JUGA
    Top 3 Dunia: Klaim Trump, Zaman Pahlavi di Iran

    Reza Pahlavi meninggalkan Iran sebelum ayahnya dipaksa turun dari jabatannya. Ia pergi ke Amerika Serikat untuk sekolah pilot tempur. Ia kemudian menulis bahwa ia menawarkan diri bertugas dalam perang melawan Irak pada 1980-an ketika negara teokratis Iran yang masih muda itu diserang. Namun tawarannya ditolak.

    Pahlavi menyelesaikan pelatihannya dan kemudian meraih gelar di bidang ilmu politik dari Universitas Southern California. Selama Perang Iran-Irak pada tahun 1980-an, ia terkenal karena menawarkan diri untuk bertugas sebagai pilot tempur bagi negaranya, tetapi ditolak oleh pihak berwenang di Teheran.

    BACA JUGA
    Oposisi Klaim Korban Tewas dalam Demo Iran 500 Orang

    Ia hidup dalam pengasingan sejak saat itu, menetap di AS bersama istrinya, Yasmine Pahlavi, dan ketiga putri mereka. Dia belajar ilmu politik di Universitas Southern California. Dia memiliki seorang istri dan tiga anak.


    Bagaimana Dukungan terhadap Reza Pahlavi?

    Selama hampir lima dekade di pengasingan, Reza Pahlavi telah menganjurkan referendum dan perubahan tanpa kekerasan di Iran. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di di Los Angeles dan Washington DC, Amerika Serikat.

    Selama demonstrasi massal pada 2009 terkait pemilu yang dipersengketakan, dan protes nasional pada 2022 atas kematian Mahsa Amini, ia telah mengkritik penguasa Iran dan menyerukan perubahan. Ia mendapat banyak dukungan dari kalangan diaspora, termasuk di antara warga Iran di AS.

    Reza Pahlavi telah menyuarakan pendiriannya tentang masa depan Iran melalui video-video di media sosial. Saluran berita berbahasa Persia telah menyoroti seruannya untuk melakukan protes lebih lanjut.

    Beberapa pengunjuk rasa telah menyuarakan dukungan untuknya dalam video terverifikasi yang beredar di media sosial, dengan beberapa di antaranya meneriakkan "hidup Shah."

    Selama demonstrasi di kota-kota Eropa untuk mendukung para demonstran Iran, beberapa orang mengangkat gambar Reza Pahlavi.

    Yang lain hanya menyerukan perubahan politik besar-besaran, dengan slogan-slogan seperti "turunkan diktator" yang merujuk pada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang di bawah sistem pemerintahan ulama Iran memiliki wewenang terakhir dalam semua urusan negara.

    Media pemerintah Iran, menggambarkan Pahlavi sebagai sosok yang tidak peka dan korup. Media Iran menyalahkan unsur teroris monarkis atas demonstrasi pada 8 Januari yang menyebabkan pembakaran kendaraan dan serangan terhadap pos polisi.

    Ia juga hanya mendapat sedikit dukungan dari pemerintah Barat di luar negeri. AS yang merupakan sekutu dekat Iran pada masa pemerintahan Shah, maupun di ibu kota Eropa, yang sejak lama kritis terhadap Republik Islam dan program nuklirnya tak berpihak pada Reza Pahlavi. Bahkan Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa saat ini ia tidak berniat untuk bertemu dengan Pahlavi, menunjukkan bahwa ia menunggu hasil protes sebelum mendukung seorang pemimpin oposisi.


    Dicap Teroris oleh Pemerintah Iran

    Respons dari Teheran sangat keras. Pada hari Minggu, media yang berafiliasi dengan pemerintah menyebut protes tersebut sebagai "fase baru ketidakamanan" dan "perang bersenjata internal".

    Sebuah laporan dari surat kabar konservatif Vatan-e Emrooz, yang dikutip oleh kantor berita Tasnim, menggambarkan seruan Reza Pahlavi sebagai kedok bagi “inti teroris” untuk menyerang polisi dan pasukan Basij.

    “Jangan salah sangka; ini bukan sekadar kerusuhan. Ini adalah serangan teroris bersenjata,” demikian pernyataan dalam laporan tersebut, yang mengklaim bahwa puluhan personel keamanan telah tewas seperti dilansir dari Al Jazeera.

    Para pejabat mengaitkan peningkatan ketegangan yang dilakukan Pahlavi dengan campur tangan asing, khususnya menuduh AS dan Israel. Mereka mengklaim kerusuhan tersebut adalah "Rencana B" dari Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah berakhirnya perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Mei tahun lalu.


    Kedekatan dengan Israel

    Reza Pahlavi dikenal dekat dengan Israel. Ia pernah berkunjung ke sana pada 2023 dan bertemu dengan para pejabat tinggi, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

    Seperti diwartakan Al Jazeera, dalam kunjungan itu, ia disambut serta didampingi oleh Menteri Intelijen Gila Gamliel. Ia mengadakan pertemuan dengan Netanyahu dan Presiden Isaac Herzog.

    Pahlavi, yang menyebut dirinya sebagai "pendukung Iran yang sekuler dan demokratis", mengatakan kunjungannya bertujuan untuk membangun masa depan yang lebih cerah karena ia ingin "rakyat Israel tahu bahwa Republik Islam tidak mewakili rakyat Iran".

    Kunjungannya disambut baik oleh pemerintah sayap kanan Israel, yang menjulukinya sebagai "tokoh Iran paling terkemuka yang mengunjungi Israel dalam sejarah" dan menyebutnya sebagai "putra mahkota yang diasingkan" dari Iran.

    Pahlavi juga terlibat dalam berbagai kegiatan dengan para pejabat Israel, termasuk berpartisipasi dalam acara Hari Peringatan Holocaust, mengunjungi dan berdoa di Tembok Barat. Dia tidak menyebutkan Palestina atau mengunjungi Masjid Al-Aqsa, yang telah berulang kali menjadi sasaran penggerebekan oleh tentara Israel selama bulan suci Ramadhan.

    Iran dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik penuh selama pemerintahan ayah Pahlavi, tetapi mempertahankan hubungan konsuler dan ekonomi pada tahun 1960-an dan 1970-an. Situasi itu berbalik setelah revolusi tahun 1979, dan kedua negara tersebut menjadi musuh bebuyutan.

    Komentar
    Additional JS