Siapa Reza Pahlavi? Putra Mahkota yang Diasingkan dan Kini Disorot di Tengah Demo Iran - Tribunnews
Siapa Reza Pahlavi? Putra Mahkota yang Diasingkan dan Kini Disorot di Tengah Demo Iran - Tribunnews.com
Ringkasan Berita:
- Iran tengah diguncang gelombang protes besar sejak akhir Desember 2025 akibat krisis ekonomi dan jatuhnya nilai rial
- Ratusan orang tewas dan ribuan orang lainnya dalam penahanan.
- Reza Pahlavi, putra mahkota yang hidup di pengasingan, muncul sebagai tokoh oposisi menonjol dengan seruan merebut pusat kota dan melanjutkan demonstrasi.
TRIBUNNEWS.COM – Iran dilanda aksi protes selama dua minggu terakhir.
Pemerintah di Teheran mengakui adanya protes tersebut, sembari terus melakukan penindakan.
Mengutip NPR, jumlah korban tewas akibat bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan pemerintah telah mencapai 116 orang hingga Minggu (11/1/2026) pagi.
Lebih dari 2.600 orang juga dilaporkan ditahan, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat.
Di antara tokoh yang menjadi pendukung utama aksi protes berkelanjutan terhadap pemerintah adalah Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran, Mohammad Reza Pahlavi.
Reza Pahlavi kerap mengeluarkan pesan yang menyemangati para demonstran.
Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad, pada Sabtu mengumumkan bahwa para peserta kerusuhan akan dianggap sebagai “musuh Tuhan”.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, disebutkan bahwa bahkan mereka yang membantu perusuh akan menghadapi tuduhan tersebut, yang dapat berujung pada hukuman mati.
Pemicu Demo di Iran
Gelombang protes saat ini dimulai pada 28 Desember 2025, menyusul runtuhnya mata uang nasional Iran, rial.
Saat ini, rial diperdagangkan di atas 1,4 juta per dolar AS dan telah kehilangan setengah nilainya sejak September.
Sanksi internasional disebut telah mencekik perekonomian, sementara keluhan publik akibat kondisi tersebut memicu tantangan langsung terhadap teokrasi Iran.
Sebagai tanggapan, pemerintah memobilisasi pasukan keamanan serta media yang dikendalikan negara.
Televisi pemerintah menyiarkan demonstrasi pro-pemerintah.
Pada saat yang sama, rekaman pengawasan yang dirilis kantor berita Fars (yang berafiliasi dengan pemerintah) menampilkan seorang demonstran di Isfahan yang diduga menembakkan senjata laras panjang.
Rekaman lain menunjukkan individu yang menyalakan api dan melempar bom bensin ke lokasi yang tampak sebagai kompleks pemerintah.
Kantor berita Tasnim, yang juga berafiliasi dengan pemerintah dan memiliki hubungan dekat dengan Garda Revolusi Iran, melaporkan bahwa pihak berwenang telah menahan hampir 200 orang yang disebut sebagai bagian dari “tim teroris operasional”.
Tasnim mengeklaim para tersangka memiliki senjata, termasuk senjata api, granat, dan bom bensin.
Munculnya Reza Pahlavi
Di tengah situasi tersebut, Reza Pahlavi (65), yang hidup di pengasingan di Amerika Serikat, kembali muncul sebagai tokoh menonjol dalam berbagai gerakan oposisi Iran.
Dalam postingan yang menantang langsung pemerintah Iran, Pahlavi menyerukan warga untuk merebut pusat kota dan bersiap menyambut kepulangannya ke Iran yang disebut akan segera terjadi.
Karena seruan itu, media pemerintah Iran melaporkan sejumlah serangan teroris bersenjata.
“Tujuan kami bukan lagi sekadar turun ke jalan,” kata Pahlavi dalam pernyataan yang dirilis melalui akun X miliknya.
“Tujuannya adalah bersiap merebut pusat kota dan mempertahankannya.”

Meski lahir di Iran, Pahlavi telah hidup dalam pengasingan selama hampir 50 tahun.
Mengutip Al Jazeera, Reza Pahlavi lahir di Teheran pada 31 Oktober 1960, tujuh tahun setelah Amerika Serikat dan Inggris merekayasa kudeta terhadap Perdana Menteri Iran terpilih saat itu, Mohammad Mosaddegh.
Mosaddegh sebelumnya menasionalisasi aset perusahaan minyak Anglo-Persia, yang kini dikenal sebagai BP, pada 1951.
Pahlavi secara resmi dinobatkan sebagai putra mahkota pada usia tujuh tahun.
Pada usia 17 tahun, ia meninggalkan Iran untuk mengikuti pelatihan sebagai pilot tempur di Pangkalan Angkatan Udara Reese, Texas, Amerika Serikat.
Jalannya tampak telah ditakdirkan untuk naik takhta hingga Revolusi 1979 mengguncang Iran.
Sebagai informasi, Revolusi Iran (1978–1979) adalah gerakan massa yang menggulingkan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi dan melahirkan Republik Islam Iran di bawah kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Dinasti Pahlavi berakhir pada 1979, ketika jutaan warga Iran dari berbagai latar belakang, mulai dari kaum kiri sekuler, serikat pekerja, profesional, mahasiswa, hingga ulama Muslim, bersatu dalam gelombang protes menentang Shah.
Ia kemudian menyaksikan ayahnya melarikan diri dari Iran pada awal peristiwa yang dikenal sebagai Revolusi Islam, yang berujung pada berdirinya pemerintahan teokratis Syiah.
Setelah kematian ayahnya, istana kerajaan di pengasingan mengumumkan bahwa Reza Pahlavi mewarisi peran Shah pada 31 Oktober 1980, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-20.
Selama berada di AS, Pahlavi menyelesaikan pelatihan militernya dan meraih gelar ilmu politik dari University of Southern California.
Upaya Pahlavi memosisikan diri sebagai pemimpin masa depan Iran telah memicu perdebatan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Meski sejumlah pengunjuk rasa meneriakkan dukungan terhadap Shah dalam beberapa aksi, belum jelas apakah seruan tersebut merupakan dukungan langsung terhadap Reza Pahlavi atau sekadar kerinduan terhadap era sebelum Revolusi Islam 1979.
Dukungan terbuka Pahlavi terhadap Israel juga menuai kritik tajam dari sebagian warga Iran dan kelompok oposisi lain, terutama setelah perang 12 hari yang dilancarkan Israel pada Juni 2025.
Perkembangan Terbaru di Iran
Mengutip The Guardian, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia tengah mempertimbangkan tindakan militer yang sangat keras terhadap rezim penguasa Iran.
Namun, Trump juga mengklaim pada hari Minggu (11/1/2026) bahwa para pemimpin Iran telah menghubunginya dan mengusulkan negosiasi.
“Pertemuan sedang diatur. Mereka ingin bernegosiasi,” kata Trump.
“Kita mungkin harus bertindak sebelum pertemuan."
Iran juga memperingatkan agar tidak ada serangan dan bersumpah akan membalas jika Amerika Serikat melancarkan tindakan militer.
Selain itu, dalam perkembangan penting lainnya:
- Aksi protes meningkat dalam beberapa hari terakhir meskipun terjadi pemadaman internet selama lebih dari 72 jam, menurut pemantau Netblocks.
Para aktivis mengatakan pemadaman tersebut membatasi arus informasi.
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh musuh bebuyutan Iran berusaha meningkatkan kerusuhan dan membawa teroris dari luar negeri, dalam wawancara yang disiarkan pada Minggu oleh media pemerintah.
- Puluhan jenazah dilaporkan menumpuk di luar kamar mayat di selatan Teheran, menurut rekaman video yang lokasi pengambilannya telah diverifikasi oleh kantor berita Agence France-Presse pada hari Minggu.
- Televisi pemerintah menayangkan gambar bangunan yang terbakar, termasuk sebuah masjid, serta prosesi pemakaman personel keamanan.
Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa sejumlah anggota pasukan keamanan telah tewas.
- Trump pada hari Sabtu mengatakan ia akan “menyelamatkan” para demonstran jika pemerintah Iran membunuh mereka, sekaligus mengulangi ancamannya untuk campur tangan.
Ia menuliskannya di platform Truth Social miliknya: “Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!”
- Pemerintah Iran pada hari Minggu mengumumkan tiga hari berkabung nasional bagi para “martir,” termasuk anggota pasukan keamanan yang tewas, menurut televisi pemerintah.
- Pezeshkian mendesak masyarakat untuk bergabung dalam “pawai perlawanan nasional” berupa demonstrasi nasional pada hari Senin guna mengecam kekerasan tersebut, yang menurut pemerintah dilakukan oleh “penjahat teroris perkotaan,” lapor televisi pemerintah.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)