0
News
    Home Bekasi Berita Featured Spesial

    Bekasi Tak Terbendung, Lahan Industri Termahal Se-Indonesia di Luar Jakarta - Kompas

    7 min read

     

    Bekasi Tak Terbendung, Lahan Industri Termahal Se-Indonesia di Luar Jakarta

    Hilda B Alexander

    Penulis

    JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah fluktuasi nilai tukar Rupiah yang sempat menekan aktivitas ekspor-impor global, sektor lahan industri Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang impresif.

    Termasuk Bekasi, Jawa Barat. Laporan Jakarta Property Market Insight Q4 2025 yang dirilis oleh Leads Property Services Indonesia, menunjukkan bahwa Bekasi mengukuhkan diri sebagai wilayah dengan harga lahan industri termahal di luar batas administratif DKI Jakarta.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Baca juga: Rumah Siap Huni di Bekasi Jadi Rebutan, Konsumen Tak Mau Skema Inden

    Berdasarkan data riset per Januari 2026, harga rata-rata lahan industri di Bekasi menyentuh angka Rp 3,42 juta per meter persegi (psm).

    Angka ini melampaui tetangganya, Karawang dan Purwakarta, serta wilayah penyangga lainnya seperti Tangerang dan Bogor.

    Jalan Daan Mogot Lagi-lagi Banjir akibat Hujan Deras, Arus Lalin Macet

    Mengapa industri tetap merapat ke Bekasi meski label harga kian menyundul langit?

    Infrastruktur dan Konektivitas Terpadu

    Kenaikan harga lahan sebesar 2,5 persen secara kuartalan di wilayah koridor timur ini bukan tanpa alasan fundamental.

    Associate Director Research Leads Property Services Indonesia, Martin Samuel Hutapea, memandang Bekasi sebagai episentrum manufaktur dan logistik Nasional.

    Konsentrasi pasokan industri di wilayah ini mencapai 44 persen dari total pasokan nasional sebesar 13.930 hektar, mendominasi peta distribusi lahan industri di Indonesia.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Martin menyebutkan, pengoperasian jalan tol Japek II di tahun 2026 menjadi katalis utama. Infrastruktur bukan hanya memperpendek jarak tempuh, tetapi meningkatkan nilai strategis tanah.

    Di mata investor, efisiensi logistik yang ditawarkan Bekasi jauh lebih berharga dibandingkan penghematan biaya pembelian lahan di wilayah lain yang infrastrukturnya belum semapan koridor ini.

    "Pasar menerima permintaan kuat dari sektor logistik, barang konsumsi (consumer goods), hingga pusat data (data center)," icap Martin, dikutip Kompas.com, Kamis (19/2/2026).

    Khusus untuk data center, Bekasi menjadi primadona karena kestabilan pasokan listrik dan kedekatan dengan pusat bisnis Jakarta.

    Bekasi vs Jakarta

    Secara teknis, Jakarta memang masih memegang rekor harga tertinggi di angka Rp 5,72 juta psm.

    Namun, dengan distribusi pasokan Jakarta yang hanya tersisa 1 persen, pasar secara otomatis bergeser ke Bekasi sebagai alternatif utama dengan spesifikasi teknis yang setara namun dengan ketersediaan lahan yang lebih masuk akal.

    Baca juga: 5 Kecamatan Terpadat Penduduknya di Kabupaten Bekasi

    Tangerang, yang selama ini menjadi kompetitor kuat di sisi barat, kini harus puas berada di angka Rp 2,90 juta psm, sementara Karawang meski memiliki pasokan luas (30 persen), berada di angka Rp 2,76 juta psm.

    Kesenjangan harga antara Bekasi dan Karawang mencerminkan tingkat kematangan ekosistem industri, di mana Bekasi dianggap telah mencapai fase mature dengan fasilitas penunjang sosial dan industri yang jauh lebih lengkap.

    Efek Domino Upah dan Lahan Mentah

    Meski prospek investasi nasional 2026 ditargetkan mencapai Rp 2.175,2 triliun atau naik 12,6 persen dari tahun sebelumnya, Bekasi mulai menghadapi tantangan internal kejenuhan harga.

    Baca juga: Bekasi Naik Kelas, Punya Fasilitas Rooftop Wellness Pertama di Indonesia

    Martin pun memperingatkan para pengembang di Bekasi. Tingginya harga lahan dan Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang kompetitif mulai memaksa sebagian industrialis untuk melirik wilayah "Eastbound" yang lebih jauh, seperti Subang atau bahkan Indramayu.

    Di sana, lahan mentah (raw land) ditawarkan dengan harga yang jauh lebih kompetitif.

    "Kami mengantisipasi adanya pergeseran preferensi industrialis ke arah timur yang lebih jauh demi mendapatkan upah minimum dan harga lahan yang lebih terjangkau," ungkap Martin.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS