Dari Negara Tropis ke Panggung Dunia, Indonesia Raih Juara 2 Kompetisi Patung Salju di Sapporo 2026 - Kompas
Dari Negara Tropis ke Panggung Dunia, Indonesia Raih Juara 2 Kompetisi Patung Salju di Sapporo 2026
OHAYOJEPANG - Udara minus dan hujan salju tidak menghentikan langkah tim Indonesia di Sapporo Snow Festival 2026 hingga akhirnya mereka berdiri sebagai juara kedua dalam International Snow Sculpture Contest.
Pahatan patung salju bertajuk Tari Merak mengantarkan mereka membawa pulang penghargaan yang begitu istimewa.
Prestasi ini terasa istimewa karena Indonesia berasal dari negara tropis yang tidak memiliki musim salju, sedangkan beberapa pesaingnya berasal dari negara yang terbiasa berkarya di tengah suhu ekstrem.
Tim patung salju Indonesia bernaung di bawah Garuda Sculpture Indonesia, komunitas yang lahir dari perkumpulan para pemahat es profesional.
“Awalnya itu ice carving yang biasa buat di hotel itu kan ada tuh. Iya, yang dia berbahan es balok gitu,” ujar salah satu anggota tim, Bambang Suryana, kepada Ohayo Jepang (12/2/2026).
Sebagian anggota berdomisili di Tangerang dan Bekasi dan mereka telah lama berkarya sebagai pemahat ice carving.
Sementara, Bambang bergabung dengan Garuda Sculpture Indonesia pada 2018 sekaligus menjadi tahun pertamanya mengikuti kompetisi patung salju di Sapporo.
Selain Bambang, tim patung salju Indonesia terdiri dari kapten tim bernama Bambang Supriyanto dan anggota lain bernama Giri Subagio.
Mereka berdua merupakan seniman yang lebih dulu berkecimpung dalam dunia pahat es profesional di Indonesia.
Menurut Bambang, anggota tim yang berangkat ke Sapporo tahun ini mempertimbangkan kemampuan teknis, kesiapan fisik, dan mental bertanding di level internasional.
“Kita nggak sekadar membuat bentuk karya seni, tapi kita harus siap secara internasional,” katanya.
Baca juga:

Empat Bulan dari Sketsa hingga Maket
Perjalanan Tari Merak dalam bentuk pahatan salju dimulai sekitar empat bulan sebelum keberangkatan.
Kapten tim meminta setiap anggota mencari ide yang tidak hanya indah secara visual, melainkan juga aman secara konstruksi ketika diterapkan pada balok salju tiga meter kubik.
Bambang Suryana menelusuri referensi di Google dan Pinterest untuk mencari gerakan tari yang kuat secara struktur.
Ia sempat menemukan tari dengan gerakan tangan terbuka yang ekspresif, tetapi desain itu dinilai terlalu berisiko.
Gerakan tangan tanpa penopang dianggap rentan patah jika diterpa hujan salju atau angin.
“Nah, kalau tangan biasa yang cuma gerak doang, itu enggak ada penopangnya,” ujarnya.
Pencarian berlanjut hingga ia menemukan gerakan Tari Merak dari Jawa Barat.
Penari merak menggenggam kain menyerupai sayap di kedua tangannya.
“Nah, kalau kita aplikasikan ke patung, si tangannya itu bisa ditopang sama kain,” katanya.
Kain tersebut menjadi solusi teknis untuk menjaga tingkat keamanan struktur sekaligus memperkuat komposisi visual.
Sketsa awal hanya menampilkan penari.
Setelah diskusi internal, tim menilai komposisi tersebut kurang maksimal dan belum efisien dalam penggunaan salju.
Mereka kemudian menambahkan figur penabuh gendang agar karya lebih dinamis dan volume balok salju termanfaatkan optimal.
“Kalau penari doang, kan harusnya ada pemain gendangnya,” ujarnya.
Efisiensi material menjadi pertimbangan penting karena salju yang terbuang terlalu banyak dapat memengaruhi penilaian.
“Salju yang terbuang itu harus sepersekian persen, jadi jangan banyak yang dibuang,” katanya.
Tim membuat maket tiga dimensi dari clay, tetapi bobotnya terlalu berat untuk dibawa ke luar negeri dengan jatah bagasi terbatas.
Mereka harus membagi ruang koper antara pakaian musim dingin, alat pahat, dan perlengkapan lainnya.
Akhirnya maket dibuat ulang menggunakan styrofoam agar lebih ringan.
Maket tersebut dipajang di depan balok salju saat kompetisi sebagai panduan skala dan referensi bentuk akhir.
Dari maket itu, mereka menentukan tinggi, lebar, dan rentang gerakan agar tidak melebihi batas tiga meter yang ditentukan panitia.
Jika melampaui batas, tim bisa didiskualifikasi.

Tiga Hari Melawan Suhu Minus
Pemahatan dimulai pada 3 Februari dan berlangsung selama tiga hari penuh.
Juri berkeliling setiap hari untuk memantau proses dan strategi masing-masing tim.
Penilaian mencakup kualitas artistik, kreativitas, originalitas, ekspresi tema, kemampuan teknis, serta tingkat keamanan struktur.
Pengalaman masa lalu menjadi pengingat serius.
Salah satu tim pada kompetisi sebelumnya pernah didiskualifikasi karena patungnya ambruk sebelum selesai.
Cuaca menjadi tantangan terbesar.
“Saya pas lagi bikin detail mata itu hujan salju deras,” ujarnya.
Sarung tangan menjadi basah dan membeku.
Tim hanya mampu bekerja beberapa menit sebelum harus masuk ke ruang penghangat yang disediakan panitia.
“Kita berapa menit kerja, lalu masuk buat manasin badan sama ngeringin sarung tangan,” katanya.
Pada siang hari, suhu sempat menghangat dan membuat detail berisiko meleleh.
Ia harus menunda pengerjaan wajah dan menutup patung dengan terpal agar tidak rusak.
“Kalau lagi panas, kita tutupin terpal dulu,” ujarnya.
Strategi kerja berubah mengikuti cuaca.
Mereka tidak bisa bekerja berdasarkan suasana hati, melainkan harus menyesuaikan urutan pengerjaan dengan kondisi lingkungan.

Di Antara Para Juara Dunia
Sebanyak 10 negara mengikuti kompetisi tersebut.
Thailand dikenal sebagai langganan juara, sedangkan Mongolia pernah menang dua kali berturut-turut.
Austria dan Finlandia yang berasal dari negara bersalju berada di blok berdekatan dengan Indonesia.
Tekanan mental terasa nyata.
“Kita tuh ngelihatnya secara global, banyak banget seniman dunia,” ujarnya.
Dukungan pengunjung menjadi penghangat di tengah suhu minus.
Warga Indonesia di Jepang juga terus menyemangati mereka bahkan ketika proses pemahatan berlangsung.
Pengumuman dilakukan pada hari Sabtu (7/2/2026) setelah penjurian pagi.
Nama pemenang dipanggil satu per satu dari peringkat kelima hingga pertama.
Nama Indonesia disebut sebagai juara kedua.
“Kita hampir nggak percaya, soalnya sejauh ini tim kita paling mentok di juara tiga,” ungkapnya.
Pencapaian tersebut menjadi rekor baru bagi perjalanan mereka di Sapporo.

Viral Berkat Media Sosial
Euforia kemenangan berlanjut di media sosial.
Video dan foto karya mereka menyebar luas dan mendapat respons positif dari warganet Indonesia.
“Saya cukup kaget kok bisa seviral ini,” kata Bambang.
Ia menjelaskan bahwa tim tidak memiliki tim dokumentasi khusus.
Popularitas kemenangan mereka justru terdongkrak oleh dua akun TikTok yang lebih dulu membagikan cerita tersebut yaitu @ariffebrian.2023 dan @malavarifilms.
“Aku mau berterima kasih sama mereka berdua,” ujarnya.
Menurutnya, tanpa bantuan dua akun tersebut, kabar kemenangan mungkin hanya diketahui kalangan internal.
Seiring dengan hal tersebut, video kemenangan Garuda Sculpture Indonesia dibagikan di akun TikTok Bambang.
Menariknya, terdapat beragam komentar dukungan dan takjub dari netizen.
"Kok keren banget padahal di Indonesia nggak ada salju tapi mereka bisa berkarya sebagus itu," tulis salah satu warganet.
"Kalau nggak ada TikTok kita nggak tau orang-orang berbakat, soalnya di tv gak ada yang nampilin," tulis netizen lain.
Di balik pahatan Tari Merak yang anggun itu, tersimpan empat bulan perencanaan, perhitungan struktur, strategi logistik, serta keberanian menghadapi suhu minus.
Dari ruang diskusi sederhana di Indonesia hingga panggung bersalju di Sapporo, perjuangan itu membuktikan bahwa seniman dari negara tropis mampu berdiri sejajar dengan para pemahat dunia.