0
News
    Home Bekasi DLH Featured Kasus Keuangan Spesial

    DLH Cari Tahu Asal Cacahan Uang Rupiah yang Berserakan di TPS Liar Bekasi - Kompas

    6 min read

     

    DLH Cari Tahu Asal Cacahan Uang Rupiah yang Berserakan di TPS Liar Bekasi



    BEKASI, KOMPAS.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi berkoordinasi untuk menelusuri temuan cacahan uang rupiah pecahan Rp 50.000 dan Rp 100.000 yang berserakan di area tempat pembuangan sampah liar di Kampung Serang RT 02 RW 06, Desa Taman Rahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi.

    Kepala DLH Kota Bekasi Kiswatiningsih mengatakan, pihaknya telah mengecek lokasi dan masih menelusuri lebih lanjut terkait temuan tersebut.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    “Berdasarkan hasil cek lapangan, saat ini kami sedang berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), DLH Provinsi Jawa Barat, dan DLH Kabupaten Bekasi,” ujar Kiswatiningsih saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (4/2/2026).

    Baca juga: Cacahan Kertas Diduga Uang Rp 50.000 hingga Rp 100.000 Berserakan di TPS Liar Bekasi

    Terkait keaslian uang tercacah itu, Kiswatiningsih belum dapat memastikannya.

    Momen Khidmat Timnas Futsal Nyanyi "Tanah Airku" Usai Melaju ke Semifinal Piala Asia

    “Belum dapat kami pastikan keasliannya, sehingga kami bersurat ke KLH untuk memastikan lebih lanjut,” kata dia.

    Tim Penegakan dan Pengawasan Lingkungan Hidup (PPLH) DLH Kota Bekasi telah melakukan pemeriksaan lapangan pada 26 Januari 2026.

    Dari hasil pengecekan, diketahui adanya aktivitas pembuangan sampah liar di Kampung Serang.

    Lokasi tersebut merupakan lahan milik seseorang bernama Santo. Aktivitas pembuangan sampah di area itu disebut telah berlangsung selama kurang lebih satu tahun.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Tumpukan sampah di lokasi TPS liar tersebut bahkan meluas hingga memasuki wilayah Kampung Cisalak RT 02 RW 04, Kelurahan Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.

    Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan lintas wilayah.

    Sementara itu, Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan, pihaknya masih menelusuri temuan cacahan yang diduga uang rupiah tersebut.

    Baca juga: Pilu Warga Bekasi: Rumah Rusak Diterjang Longsor, Tidur Samping Kandang Ayam

    Sebelumnya, sebuah video yang beredar di media sosial Instagram @sahabatpedulilingkungan memperlihatkan cacahan uang rupiah pecahan Rp 50.000 hingga Rp 100.000 yang berserakan di area TPS liar tersebut.

    Video yang diunggah pada Rabu (28/1/2026) itu viral dan memicu beragam spekulasi di kalangan warganet.

    Sejumlah pihak mempertanyakan keaslian potongan tersebut, apakah merupakan uang rupiah asli atau hanya menyerupai pecahan rupiah.

    Sambas Purganda (32), keluarga pemilik lahan TPS liar itu, membenarkan adanya temuan cacahan kertas sebagaimana terlihat dalam video viral tersebut.

    “Yang di video itu memang betul. Tujuan kita kan memang mau urug tanah, yang penting tanahnya rata. Kita juga enggak tahu waktu itu pakainya apa,” ujar Sambas saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (3/2/2026).

    Menurut Sambas, aktivitas pengurukan tanah di lokasi TPS memang kerap memanfaatkan berbagai jenis sampah yang dibawa ke area tersebut.

    Sebelum video viral, temuan cacahan yang menyerupai uang itu pertama kali direkam oleh seorang konten kreator.

    Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah cacahan tersebut merupakan uang asli atau palsu.

    Baca juga: Lesunya Pendapatan Ojol: Dulu Bisa Rp 1 Juta Sehari, Kini Rp 100.000 Pun Sulit

    “Bentuknya kecil-kecil banget. Saya juga enggak tahu itu palsu apa enggaknya. Kayak duit memang, tapi sudah dipotong kecil-kecil banget di dalam karung,” kata Sambas.

    Sambas tidak pernah mengecek cacahan yang diduga uang tersebut. Hal itu lantaran fokus utama mereka adalah meratakan tanah.

    “Kita enggak pernah nyari tahu. Karena memang butuh urukan buat ngeratain tanah, ya sudah ditumpuk-tumpuk saja. Kalau beli tanah kan lumayan mahal,” ujarnya.

    Sambas mengaku tidak mengetahui pihak yang membawa karung berisi cacahan tersebut ke lokasi TPS.

    Namun, ia menjelaskan bahwa sampah yang masih memiliki nilai ekonomi biasanya akan dipilah, sementara sisanya digunakan sebagai urukan tanah.

    “Yang masih ada nilainya kita pilah. Yang enggak ada nilai uangnya ya kita buat urug. Langsung ditarik ke belakang buat ngeratain tanah,” jelasnya.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS