0
News
    Home Aceh Bencana Berita Featured Lintas Peristiwa Longsor Spesial Sumatera

    Empat dari Lima Desa di Linge Aceh Tengah Masih Terisolir, Akses Terputus dan Ancaman Longsor Mengintai - NU Online

    5 min read

     

    Empat dari Lima Desa di Linge Aceh Tengah Masih Terisolir, Akses Terputus dan Ancaman Longsor Mengintai


    Aceh Tengah, NU Online Jateng 

    Sebanyak empat dari lima desa di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, hingga kini masih terisolir pascabanjir bandang yang terjadi pada Selasa (26/11/2025) yaitu Desa Payung, Desa Kute Reje, Desa Jamat, Desa Delung Sekunil. Untuk Desa Linge masih bisa dekat dengan jalur dan tidak terlalu terdampak.

     

    Warga setempat masih hidup dalam bayang-bayang ancaman longsor serta keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar.

     

    Warga Desa Linge, Muhammad Yasin mengatakan bahwa kondisi air memang telah surut. Namun, dampak lingkungan pascabanjir justru menimbulkan kekhawatiran baru bagi warga.

     

    “Sekarang air sudah surut, tapi di atas gunung retak semua. Kayu-kayu dari hulu sungai terkumpul di desa kami. Sudah dua bulan tidak hujan sebelumnya,” ujar Yasin, Jumat ketika ditemui oleh NU Online Jateng Kamis (5/2/2026).

     
    Warga bertahan di hunian darurat pascabanjir bandang di Kecamatan Linge, Aceh Tengah, dengan latar perbukitan yang rawan longsor, Kamis (5/2/2026).
     

    Ia menjelaskan, banjir bandang pertama datang sekitar pukul 11.00 WIB dan menghanyutkan sejumlah rumah warga. Pada malam harinya, banjir kembali melanda dengan intensitas yang tak kalah besar. Warga kini diliputi kecemasan apabila hujan turun lebih dari dua jam karena potensi longsor dari perbukitan di atas kampung.

     

    “Kalau hujan lebih dua jam, kami harus siap-siap berkemas, ibaratnya pindah rumah. Di atas kampung ada longsor dan tumpukan kayu, itu bisa dilihat dari drone,” katanya.

     

    Meski bangunan Sekolah Dasar (SD) di desa tersebut masih berdiri, aktivitas pendidikan terganggu akibat kondisi lingkungan dan keterbatasan akses. Saluran air di bagian atas kampung juga dinilai terlalu sempit sehingga rawan meluap saat hujan deras.

     

    Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Zaenal Abidin, mengungkapkan bahwa banjir bandang telah menghilangkan sebagian besar infrastruktur desa.

     

    “Masjid yang dulunya berdiri dua, sekarang tinggal sisa satu karena hanyut oleh banjir. Seluruh rumah warga terdampak, dengan sedikitnya sepuluh unit rumah dilaporkan hanyut terbawa arus,” ujarnya.

     

    Ia menambahkan, sebagian warga terpaksa mengungsi karena kondisi desa tidak memungkinkan untuk ditinggali secara aman.

     

    Kondisi ekonomi warga pun semakin terpuruk. Banjir menyebabkan lahan pertanian rusak dan ternak hanyut. Warga yang sehari-hari menggantungkan hidup dari berkebun dan beternak kini kehilangan mata pencaharian.

     

    “Kalau tidak ada bantuan dari pemerintah dan para relawan, kami kelaparan. Kebun tidak bisa digarap, kerbau tidak tahu ke mana. Anak-anak yang biasa minta uang jajan sekarang hampir tidak ada sama sekali,” tutur seorang warga Desa Linge.

     

    Ia menambahkan, jumlah warga yang sempat mengungsi di wilayah Kute Reje sebelumnya mencapai sekitar 60 kepala keluarga (KK), namun kini tersisa sekitar 20 KK. Aktivitas pendidikan pun belum berjalan normal.

     

    “Kadang guru datang murid tidak ada, kadang murid ada gurunya tidak bisa datang,” keluhnya.

     

    Berdasarkan pengamatan NU Online Jateng, akses menuju Kecamatan Linge masih sangat terbatas karena jalur Bintang tidak dapat dilalui.

     

    Perjalanan diwarnai jalan berlubang, longsor, serta hujan deras yang memperparah kondisi medan. Tim terpaksa bermalam di Koramil Isak karena jalur ekstrem.

     

    Perjalanan dilanjutkan hingga Jembatan Kalili, namun jalur terputus total akibat debit air sungai yang meningkat. Kendaraan tidak dapat melintas sehingga tim harus melanjutkan koordinasi dari lokasi tersebut.

     

    Dari hasil komunikasi dengan warga setempat, diketahui bahwa empat desa di Kecamatan Linge yaitu Desa Payung, Desa Kute Reje, Desa Jamat, Desa Delung Sekunil masih terisolir. Sejumlah warga masih mengungsi di posko darurat.

     

    Tim kemudian melakukan survei terbatas menggunakan sepeda motor dengan waktu tempuh sekitar dua jam dari jembatan, melewati jalan rusak, tanpa listrik dan sinyal komunikasi.

     

    Hasil pantauan di lapangan menunjukkan persoalan utama warga meliputi keterbatasan akses, minimnya air bersih, serta terganggunya aktivitas pendidikan dan ibadah. Hingga kini, sebagian besar bantuan belum dapat menjangkau desa-desa tersebut secara optimal.

    Komentar
    Additional JS