0
News
    Home Berita Buah Tengkawang Featured Kalimantan Kelapa Sawit Minyak Goreng Minyak Sawit Sawit Spesial Tengkawang

    Menjelajahi Potensi Buah Tengkawang: Bisakah Gantikan Minyak Sawit dan Selamatkan Hutan Indonesia? - Liramedia

    10 min read

      

    Menjelajahi Potensi Buah Tengkawang: Bisakah Gantikan Minyak Sawit dan Selamatkan Hutan Indonesia?

    Berita
    Buah tengkawang, buah alam dari hutan Kalimantan yang bisa diolah menjadi pengganti butter, Selasa (13/8/2024).(Kompas.com/ Suci Wulandari Putri)

    Sebuah unggahan di media sosial Instagram pada Selasa, 13 Januari 2026, menyoroti buah tengkawang sebagai alternatif potensial pengganti minyak sawit yang diklaim tidak merusak hutan. Tanaman ini disebut mampu memproduksi minyak nabati serupa sawit, namun dengan sistem penanaman yang lebih lestari.

    Pohon sawit dikenal luas sebagai penghasil minyak, namun sistem penanamannya yang monokultur berpotensi mengurangi keanekaragaman hayati dan merusak ekosistem hutan, menjadikannya rentan terhadap erosi dan banjir. Lantas, benarkah buah tengkawang dapat menjadi solusi ramah lingkungan?

    Potensi Tengkawang sebagai Alternatif Minyak Sawit

    Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Sigit Sunarta, membenarkan bahwa buah tengkawang berpotensi menggantikan minyak goreng dari sawit. “Ya, memang buah tengkawang yang berasal dari tanaman famili dipterocarpaceae menghasilkan minyak nabati yang berpotensi menggantikan minyak goreng dari sawit,” ungkap Sigit kepada Kompas.com pada Senin, 2 Februari 2026.

    Sigit menjelaskan, terdapat perbedaan kandungan asam lemak utama antara kedua jenis minyak tersebut. Minyak sawit didominasi asam palmitat dan asam oleat, sementara minyak tengkawang kaya akan asam stearat dan asam oleat. Meskipun demikian, turunan dari kedua minyak nabati ini sama-sama dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk bahan pangan dan kosmetik. “Kandungan asam lemak yang didapat dari buah tengkawang pun juga bermanfaat baik bagi tubuh,” tambahnya.

    Keunggulan dan Tantangan Budidaya Tengkawang

    Buah tengkawang berasal dari pohon shorea atau meranti, yang merupakan famili dipterocarpaceae. Keunggulan utama tanaman ini adalah kemampuannya tumbuh dalam hutan campuran. “Yang membedakan adalah bahwa shorea itu tanaman berkayu, bisa tumbuh mix atau campur dengan tanaman lain, sehingga bisa membentuk hutan campuran yang menghasilkan benefit atau fungsi yang beraneka ragam layaknya sebuah hutan,” jelas Sigit.

    Namun, Sigit mengakui bahwa produktivitas buah tengkawang masih jauh di bawah sawit. Hingga saat ini, belum ada Hutan Tanaman Industri (HTI) atau Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang secara khusus menanam shorea atau meranti, sehingga produksi masih mengandalkan hutan alam. “Masih menjadi keunggulan sawit dalam produktivitas per hektar yang sangat tinggi, yang sampai saat ini belum bisa dilampaui oleh tengkawang,” ujarnya.

    Untuk meningkatkan daya saing, Sigit menyarankan adanya pemuliaan terhadap tanaman meranti, khususnya untuk tujuan menghasilkan buah. “Barangkali produktivitasnya bisa lebih tinggi dan bisa dihadap-hadapkan atau berkompetisi dengan sawit,” harapnya.

    Perbedaan Ekologis Hutan Alam dan Kebun Sawit

    Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Fakultas Kehutanan UGM, Hatma Suryatmojo, menegaskan bahwa lahan hijau tanaman sawit tidak sama dengan hijaunya hutan. “Meski sawit sering diklaim tetap membuat lahan hijau, tapi sesungguhnya sama sekali berbeda dengan hijaunya hutan,” ujar Hatma dalam wawancara dengan Kompas.com pada Sabtu, 6 Desember 2025.

    Dari sudut pandang ekologi dan hidrologi, kebun sawit tidak dapat menggantikan peran hutan alam. Struktur vegetasi hutan tropis jauh lebih kompleks, baik secara vertikal maupun horizontal, dibandingkan kebun sawit yang homogen. Di hutan alam, hujan tertahan oleh tajuk pohon berlapis dan serasah tebal, memungkinkan air meresap dengan baik, mengurangi limpasan, dan mengendalikan erosi.

    Sebaliknya, kebun sawit tidak memiliki kanopi bawah dan serasah tebal. Ditambah pemadatan tanah akibat alat berat, infiltrasi air menurun drastis. “Hujan lebat jelas akan menghasilkan limpasan dan erosi yang besar,” pungkas Hatma, menyoroti risiko lingkungan yang lebih tinggi pada perkebunan sawit.

    Informasi mengenai potensi buah tengkawang sebagai alternatif minyak sawit dan perbandingan ekologisnya disampaikan melalui pernyataan resmi para pakar dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.

    Sains

    Studi University of Michigan: Polusi Suara Ganggu Reproduksi dan Picu Stres Akut pada Populasi Burung

    Penelitian global terbaru yang dipimpin oleh University of Michigan mengungkapkan bahwa polusi suara akibat aktivitas manusia berdampak jauh lebih dalam terhadap populasi burung daripada yang diperkirakan sebelumnya. Kebisingan dari mesin kendaraan, pesawat terbang, hingga proyek konstruksi terbukti mengganggu perilaku, fungsi fisiologis, hingga tingkat keberhasilan reproduksi burung di berbagai belahan dunia.

    Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences ini menggunakan metode meta-analisis dengan meninjau lebih dari 150 penelitian sejak tahun 1990. Analisis tersebut mencakup enam benua dan sekitar 160 spesies burung untuk melihat pola konsisten dari dampak kebisingan buatan manusia.

    Analisis Global dari Enam Benua

    Tim peneliti mengevaluasi 944 efek terukur dari berbagai sumber kebisingan, termasuk lalu lintas perkotaan, mesin industri, aktivitas militer, dan transportasi udara. Natalie Madden, penulis utama studi tersebut, menyatakan bahwa meta-analisis ini memungkinkan peneliti melihat tren yang lebih luas dibandingkan studi sebelumnya yang hanya fokus pada satu spesies.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa suara bukan sekadar latar belakang bagi burung, melainkan instrumen vital untuk mencari pasangan, memberi peringatan adanya predator, dan komunikasi antara induk dengan anak. Gangguan pada sistem akustik ini secara langsung mengancam kemampuan burung untuk bertahan hidup di habitat yang bising.

    Perubahan Perilaku dan Gangguan Reproduksi

    Paparan suara keras secara terus-menerus memicu perubahan signifikan pada perilaku burung. Beberapa poin utama yang ditemukan dalam penelitian ini meliputi:

    • Perubahan Pola Kicauan: Burung cenderung menaikkan nada atau volume kicauan agar terdengar, meski cara ini tidak selalu efektif.
    • Kewaspadaan Berlebihan: Burung menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengamati ancaman dan mengurangi waktu mencari makan.
    • Penurunan Keberhasilan Bertelur: Terdapat hubungan negatif antara kebisingan dengan daya tetas telur serta jumlah anak burung yang berhasil tumbuh hingga terbang.
    • Ketidakseimbangan Hormon: Kadar hormon stres seperti kortikosteron mengalami perubahan yang berdampak buruk pada sistem kekebalan tubuh dan metabolisme.

    Variasi Dampak Berdasarkan Karakteristik Spesies

    Respons terhadap polusi suara tidak seragam pada seluruh spesies. Burung yang bersarang di lubang atau cavity nesters menunjukkan dampak pertumbuhan negatif yang lebih nyata dibandingkan burung yang bersarang di tempat terbuka. Sebaliknya, burung di hutan lebat dengan kanopi rapat cenderung mengalami perubahan hormon yang lebih kecil karena vegetasi berfungsi sebagai peredam suara alami.

    Selain itu, spesies omnivora yang memiliki fleksibilitas sumber makanan lebih mampu beradaptasi dibandingkan spesies spesialis. Namun, adaptasi vokal saja dinilai tidak cukup untuk melindungi burung dari tekanan lingkungan yang bising secara permanen.

    Solusi Pengendalian Kebisingan

    Sejak tahun 1970, populasi burung di Amerika Utara telah menurun drastis dengan hilangnya sekitar 3 miliar burung dewasa. Polusi suara kini diidentifikasi sebagai tekanan tambahan yang signifikan di samping alih fungsi lahan dan penggunaan pestisida. Meski demikian, para ilmuwan menekankan bahwa masalah ini relatif dapat diatasi secara teknis.

    Neil Carter, penulis senior studi ini, menjelaskan bahwa pengendalian kebisingan sangat memungkinkan untuk dilakukan melalui beberapa langkah strategis:

    1. Penggunaan material bangunan yang mampu meredam suara.
    2. Perancangan tata kota yang lebih ramah terhadap satwa liar.
    3. Penambahan sabuk vegetasi sebagai penyangga suara di area terbuka.
    4. Penerapan permukaan jalan yang lebih senyap dan pemasangan penghalang suara di area padat lalu lintas.

    Carter menegaskan bahwa teknologi untuk mengurangi kebisingan sudah tersedia. Hal yang paling dibutuhkan saat ini adalah kesadaran dan kemauan kolektif untuk menciptakan lingkungan yang lebih sunyi demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati.


    Komentar
    Additional JS