0
News
    Home Berita Featured Keuangan Ray Dalio Spesial

    Ray Dalio Peringatkan Dunia di Ambang Perang, Uang Jadi Senjata Mematikan - Viva

    5 min read

     

    Ray Dalio Peringatkan Dunia di Ambang Perang, Uang Jadi Senjata Mematikan

    Jakarta, VIVA – Investor legendaris, Ray Dalio, memperingatkan dunia sedang di ujung tanduk perang seiring meningkatnya ketegangan geopolitik.

    KPK Sebut Pegawai Bea Cukai Punya 'Safe House' untuk Simpan Uang-Emas Hasil Suap

    Perang yang dimaksud pendiri hedge fund Bridgewater Associates bukan bentrokan menggunakan senjata atau perlengkapan militer, melainkan perang modal (capital war) sehubung volatilitas pasar keuangan global.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Dalio menyoroti konflik global tidak lagi hanya berbentuk militer, tetapi mulai bergeser ke ranah finansial. Uang, kata Dalio, dijadikan alat tekanan politik dan ekonomi mulai dari embargo perdagangan, pembatasan akses ke pasar keuangan, hingga pemanfaatan kepemilikan utang sebagai alat tekanan terhadap negara lain.

    KPK Tangkap Hakim di Depok Terkait Suap, Sita Uang Ratusan Juta

    “Kita berada di ambang batas (perang modal). Belum masuk ke dalam perang modal, tetapi kita sangat dekat,"  ujar Dalio dalam acara World Governments Summit di Dubai, Uni Emirat Arab, dikutip dari CNBC Internasional pada Rabu, 4 Februari 2026.

    Ilustrasi Uang

    Megawati: Seharusnya Sudah Tidak Ada Perang, Kita Satu Bumi

    Ia menambahkan bahwa sangat mudah untuk tergelincir ke perang modal karena adanya ketakutan timbal balik. Ia menyinggung meningkatnya kecemasan di kalangan investor Eropa terhadap aset-aset berbasis dolar AS sehingga muncul kekhawatiran bahwa aset tersebut suatu saat bisa terkena sanksi geopolitik.

    “Ada ketakutan di pihak Eropa bahwa aset mereka bisa disanksi. Di sisi lain, Amerika Serikat juga bisa merasa khawatir tidak mendapatkan aliran modal atau dukungan pembelian dari Eropa,” imbuh Dalio.

    Data riset Citigroup menunjukkan bahwa investor Eropa menyumbang sekitar 80 persen pembelian obligasi pemerintah AS (US Treasurys) oleh investor asing dalam periode April hingga November 2025. Ketergantungan ini, menurut Dalio, menjadi titik rawan dalam dinamika geopolitik global.

    “Modal itu penting. Uang itu berpengaruh besar. sudah melihat kontrol modal terjadi di berbagai belahan dunia saat ini. Siapa yang akan terdampak berikutnya masih menjadi tanda tanya," tegas Dalio.

    Dalio menilai, kebijakan ekonomi agresif kembali menguat sejak Presiden AS Donald Trump kembali ke Gedung Putih. Trump diketahui telah memberlakukan lalu mencabut kembali sejumlah tarif balasan terhadap mitra dagang dan lawan politik AS yang kembali memicu gejolak di pasar keuangan global. 

    Tidak hanya itu, Dalio juga menyinggung ketegangan terbaru dari aksi pemerintahan Trump untuk mengambial Greenland, wilayah otonomi Denmark. Isu ini menambah daftar panjang ketegangan antara Amerika Serikat dan Eropa.

    Menurut Dalio, secara historis, perang modal kerap muncul menjelang konflik besar dunia. Ia mencontohkan sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS kepada Jepang sebelum Perang Dunia II sebagai bagian dari eskalasi hubungan kedua negara.

    “Situasi serupa bisa saja terjadi saat ini, misalnya antara Amerika Serikat dan China, atau bahkan antara Amerika Serikat dan Eropa,” ujarnya.

    Ia menambahkan, ketidakseimbangan perdagangan global turut memperbesar risiko perang modal. Dalio menekankan, defisit perdagangan pada dasarnya mencerminkan ketergantungan terhadap aliran modal asing, yang suatu saat dapat digunakan sebagai alat tekanan.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    “Di balik defisit perdagangan, ada ketidakseimbangan modal. Dan modal itu bisa dijadikan alat perang,” pungkas Dalio.

    Peringatan Dalio menjadi sinyal keras bagi pelaku pasar global bahwa risiko geopolitik tidak lagi sebatas konflik senjata. Kondisi ini sangat mungkin memicu perang finansial yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi dunia.


    Komentar
    Additional JS