0
News
    Home Berita Featured Pendidikan Pendidikan Tinggi Perguruan Tinggi Spesial UMI

    Rektor UMI: Perguruan Tinggi Tak Diukur dari Besarnya Gedung tapi Dampak bagi Manusia dan Wilayahnya - Tribunnews

    6 min read

      

    Rektor UMI: Perguruan Tinggi Tak Diukur dari Besarnya Gedung tapi Dampak bagi Manusia dan Wilayahnya

    Rektor UMI Prof Dr Hambali Thalib mengatakan, perguruan tinggi tidak diukur dari besarnya gedung, tapi dari besarnya dampak bagi manusia

    Rektor UMI: Perguruan Tinggi Tak Diukur dari Besarnya Gedung tapi Dampak bagi Manusia dan Wilayahnya

    MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Perguruan tinggi tidak semestinya diukur dari megahnya bangunan atau tingginya menara kampus, melainkan dari sejauh mana dampaknya dirasakan masyarakat dan wilayah sekitarnya.

    Demikian ditegaskan Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof Dr Hambali Thalib saat menerima kunjungan silaturahmi pimpinan perguruan tinggi lingkup LLDikti Wilayah XIV di Smart Classroom lantai 6 Menara UMI, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, Sulsel, Rabu (11/2/2026).

    “Perguruan tinggi tidak diukur dari besarnya gedung, melainkan dari besarnya dampak bagi manusia dan wilayahnya,” tegas Hambali dalam forum tersebut, sebagaimana siaran pers diterima.

    Kunjungan yang dipimpin perwakilan Kepala LLDIKTI Wilayah XIV sekaligus Rektor Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Dr Rustamadji MSi itu menjadi ruang dialog penguatan jejaring kerja sama perguruan tinggi di Indonesia Timur, khususnya dalam peningkatan mutu, riset, dan pengembangan sumber daya dosen.

    Baca juga: Dekati Gen Z dan Alpha di Gorontalo dan Manado, UMI: Kami Kampus Inklusif Hormati Budaya dan Agama

    Menurut Hambali, Indonesia Timur—termasuk Papua—bukanlah wilayah pinggiran dalam pembangunan pendidikan tinggi, melainkan ruang strategis tumbuhnya masa depan Indonesia. Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antarkampus agar penguatan mutu tidak berjalan sendiri-sendiri.

    “UMI tidak hadir untuk merasa lebih tinggi, tetapi siap berdiri sejajar dan berjalan bersama,” ujarnya.

    Dalam kesempatan itu, UMI memaparkan capaian akademiknya.

    Kampus yang berdiri sejak 23 Juni 1954 dan kini memasuki usia 72 tahun tersebut telah meraih akreditasi Unggul selama dua periode berturut-turut.

    UMI menjadi salah satu perguruan tinggi di luar Pulau Jawa—baik negeri maupun swasta—yang berhasil mencapai status tersebut.

    Saat ini UMI memiliki 13 fakultas dan pascasarjana dengan total 67 program studi, mulai dari jenjang sarjana, profesi, magister, spesialis kedokteran hingga doktor.

    Jumlah mahasiswa aktif sekitar 23 ribu orang dengan lebih dari 150 ribu alumni.

    UMI juga didukung 1.084 dosen, termasuk 118 guru besar atau profesor, yang tercatat sebagai jumlah profesor terbanyak di kalangan perguruan tinggi swasta di Indonesia.

    Untuk program pascasarjana, UMI mengelola 19 program studi, terdiri atas enam program doktor dan 13 program magister.

    Dalam waktu dekat, kampus ini juga berencana membuka S3 Teknik Sipil, S3 Teknik Kimia, S2 Kenotariatan, S2 Biomedik, serta tiga program spesialis kedokteran yakni Bedah, Mata, dan Anestesi.

    Rustamadji menyampaikan, kunjungan tersebut bertujuan memperkuat sinergi pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi sekaligus mendorong peningkatan akreditasi kelembagaan di wilayah Indonesia Timur.

    “Kami berharap perguruan tinggi di wilayah XIV dapat terus meningkatkan mutu dan terakreditasi Unggul. Sinergi menjadi kunci dalam pelaksanaan Tridharma,” katanya.

    Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof Dr Masrurah Mokhtar MA menambahkan bahwa tata kelola kampus ditopang sistem kepemimpinan kolektif serta penguatan konsep Caturdharma Perguruan Tinggi, dengan penekanan pada pendidikan karakter sebagai fondasi ekosistem akademik.

    Ketua Pembina YW-UMI Prof Mansyur Ramly mengingatkan pentingnya kolaborasi lintas wilayah.

    “UMI berprinsip saling membantu antarperguruan tinggi. Kita ditakdirkan untuk saling menguatkan,” tuturnya.(*)


    Komentar
    Additional JS