Analisis Intelijen Barat: Bunuh Pemimpin Iran, AS Belum Tentu Menang Perang - Tribunnews
Analisis Intelijen Barat: Bunuh Pemimpin Iran, AS Belum Tentu Menang Perang
Intelijen Barat menilai tewasnya Ali Khamenei tak otomatis menjatuhkan rezim Iran. Struktur kekuasaan Teheran dinilai masih kuat
Ringkasan Berita:
- Analisis intelijen Barat menyebut tewasnya Ali Khamenei belum tentu menggulingkan pemerintahan Iran.
- Meski perang dengan AS dan Israel terus berlangsung, struktur kekuasaan Teheran dinilai masih cukup kuat bertahan.
- Sementara Mojtaba Khamenei telah ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel diperkirakan tidak akan segera berakhir, bahkan setelah tewasnya pemimpin tertinggi Iran dan pergantian kepemimpinan di Teheran.
Analisis intelijen Barat menyebut tekanan militer saja tidak cukup untuk menggulingkan rezim Republik Islam, seperti diberitakan IntelNews.org.
Hal itu terungkap dalam analisis keamanan yang menyatakan bahwa serangan udara Amerika Serikat dan Israel memang berhasil menghancurkan sejumlah target strategis Iran, termasuk menewaskan Ali Khamenei.
Namun keberhasilan militer tersebut belum tentu menghasilkan perubahan politik yang diharapkan Washington.
Kematian Khamenei terjadi pada 28 Februari 2026 dalam serangan udara yang menargetkan elite kepemimpinan Iran di Teheran.
Operasi tersebut merupakan bagian dari konflik bersenjata yang lebih luas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Serangan itu memicu krisis kepemimpinan di Iran. Sesuai konstitusi negara tersebut, kekuasaan sementara dijalankan oleh sebuah dewan kepemimpinan transisi sebelum pemimpin baru dipilih.

Dewan tersebut terdiri dari presiden Iran, kepala kehakiman, serta perwakilan ulama dari Dewan Penjaga.
Beberapa hari kemudian, lembaga ulama Assembly of Experts akhirnya menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru pada 8 Maret 2026.
Penunjukan tersebut menandai pertama kalinya dalam sejarah Republik Islam Iran jabatan pemimpin tertinggi berpindah dari ayah kepada anak sejak Iranian Revolution.
Rezim Iran Dinilai Sulit Dijatuhkan
Baca juga: Trump Tantang Pemimpin Baru Iran, Analis Sebut Rekam di Balik Layar Mojtaba Khamenei
Meski Iran kini menghadapi tekanan militer besar, para analis intelijen menilai struktur politik dan ideologis negara tersebut masih cukup kuat untuk bertahan.
Analisis keamanan menyebutkan bahwa kampanye udara Amerika Serikat memang dapat merusak kemampuan militer Iran dan menimbulkan tekanan besar terhadap pemerintah.
Namun serangan udara saja tidak mampu mengubah tatanan politik internal Iran atau memastikan lahirnya pemerintahan baru yang pro-Barat.
Menurut para analis, bahkan jika rezim Iran runtuh sekalipun, pengganti yang muncul belum tentu bersahabat dengan Amerika Serikat atau Israel.
Hal ini karena identitas politik Iran selama lebih dari satu abad dibentuk oleh nasionalisme kuat dan penolakan terhadap intervensi asing.
Narasi perlawanan terhadap Barat, terutama Amerika Serikat yang sering disebut sebagai “Great Satan” oleh elite Iran, telah tertanam dalam institusi negara, aparat keamanan, hingga sistem pendidikan sejak revolusi 1979.
Perang Berpotensi Berlangsung Lama
Para pengamat juga menilai konflik saat ini bisa berlangsung lama karena pemerintah Iran menganggap perang tersebut sebagai pertarungan eksistensial untuk mempertahankan sistem politiknya.
Rezim Iran dinilai memiliki jaringan institusi yang mampu mempertahankan kekuasaan bahkan di tengah krisis besar, termasuk aparat keamanan, jaringan ulama, serta struktur ideologis negara.
Di sisi lain, serangan militer terhadap Iran juga berisiko memicu kekacauan internal yang lebih luas. Jika kekuasaan pusat melemah, konflik dapat meluas ke berbagai wilayah yang memiliki ketegangan etnis seperti Kurdistan dan Baluchistan.
Situasi tersebut dikhawatirkan tidak hanya mengguncang Iran, tetapi juga memicu ketidakstabilan regional yang lebih luas di Timur Tengah.
Di tengah pergantian kepemimpinan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga melontarkan komentar keras terhadap pemimpin baru Iran.
Trump menyebut pemimpin tertinggi Iran yang baru sebagai sosok yang “ringan” dan bahkan menyatakan bahwa ia tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan Washington.
Pernyataan tersebut memicu kritik karena dianggap sebagai bentuk tekanan politik terhadap kedaulatan Iran di tengah konflik militer yang masih berlangsung.
Sementara itu, militer dan elite politik Iran telah menyatakan dukungan kepada Mojtaba Khamenei dan berjanji tetap melanjutkan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Para analis menyimpulkan bahwa situasi Iran saat ini menghadirkan paradoks strategis.
Di satu sisi, negara itu menghadapi tekanan militer dan ekonomi yang sangat besar serta semakin terisolasi di panggung internasional.
Namun di sisi lain, struktur politik dan ideologinya masih cukup kuat untuk mempertahankan kekuasaan, bahkan berpotensi menjadi lebih radikal di bawah tekanan eksternal.
Tanpa strategi politik pascaperang yang jelas, konflik yang dimulai dengan operasi militer Amerika Serikat dan Israel berisiko berubah menjadi krisis berkepanjangan yang sulit dikendalikan di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Balas Dendam Nyawa Orang Tercinta, Mojtaba Khamenei Pimpin Iran Lebih Keras ke AS-Israel
Pemimpin Baru
Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026.
Penunjukan tersebut diputuskan oleh Majelis Pakar Iran, lembaga ulama beranggotakan 88 orang yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi negara—pada 8 Maret 2026.
Kenaikan Mojtaba menandai momen bersejarah sekaligus kontroversial karena untuk pertama kalinya sejak Revolusi Iran 1979, kekuasaan tertinggi negara berpindah dari ayah kepada anak dalam satu keluarga, dilansir The Guardian.
Perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat menjadi latar belakang suksesi tersebut.
Serangan udara yang menewaskan Ali Khamenei juga dilaporkan menewaskan sejumlah anggota keluarga, termasuk istri dan salah satu anak Mojtaba yang berada di kompleks kepemimpinan saat serangan terjadi.
Tragedi tersebut menjadikan Mojtaba bukan hanya pewaris kekuasaan, tetapi juga sosok yang secara pribadi kehilangan ayah, serta anggota keluarga dekat dalam konflik yang sama, mengutip Al Jazeera.
Situasi ini membuat banyak pengamat menilai kepemimpinannya akan terbentuk di tengah trauma perang dan sentimen balas dendam terhadap Barat.
Tak lama setelah pengumuman resmi, militer Iran, terutama Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), langsung menyatakan kesetiaan kepada Mojtaba, seperti diberitakan AP News.
Dukungan dari Garda Revolusi dinilai sangat menentukan karena lembaga tersebut merupakan tulang punggung kekuatan militer, intelijen, dan keamanan politik Iran.
Pengamat menilai hubungan Mojtaba dengan IRGC sudah terjalin sejak lama. Ia dikenal memiliki jaringan kuat dengan elite keamanan dan militer yang selama ini menjadi pilar utama kekuasaan di Teheran, dikutip dari Iran International.
Meski jarang tampil di ruang publik, Mojtaba selama bertahun-tahun dianggap sebagai tokoh penting di lingkar inti kekuasaan Iran.
Baca juga: Garda Revolusi Iran Nyatakan Kesetiaan kepada Mojtaba Khamenei, Siap Menjalankan Perintah
Ia bekerja di kantor pemimpin tertinggi dan berperan sebagai penghubung antara ulama, elite politik, serta aparat keamanan negara. Dalam posisi itu, ia membangun pengaruh luas di dalam sistem pemerintahan Iran.
Beberapa analis bahkan menyebutnya sebagai salah satu arsitek utama kebijakan keamanan dan penanganan demonstrasi internal, terutama pada gelombang protes besar di Iran pada masa lalu.
Namun penunjukannya juga menuai kritik karena secara teologis ia hanya memegang gelar Hojjatoleslam, tingkat ulama yang lebih rendah dari ayatollah yang biasanya memegang jabatan pemimpin tertinggi.
Sejumlah analis internasional menilai penunjukan Mojtaba merupakan sinyal politik yang kuat dari Iran kepada Barat.
Dalam analisis kebijakan luar negeri, keputusan menunjuk putra pemimpin yang tewas dalam serangan AS–Israel dipandang sebagai pesan bahwa Teheran tidak akan mundur menghadapi tekanan militer maupun politik dari Washington dan Tel Aviv.
Langkah tersebut disebut sebagai bentuk “defiance” atau perlawanan strategis terhadap Barat, sekaligus menunjukkan bahwa elite Iran memilih mempertahankan garis keras revolusioner dibanding membuka ruang kompromi.
Prediksi Kepemimpinan Lebih Keras

Para pengamat Timur Tengah memperkirakan kepemimpinan Mojtaba berpotensi lebih keras dibanding pendahulunya.
Beberapa faktor yang mendorong prediksi tersebut antara lain:
-Latar belakang hubungan kuat dengan IRGC, yang dikenal sebagai kelompok garis keras dalam politik Iran.
-Situasi perang terbuka dengan Israel dan AS, yang membuat kompromi diplomatik semakin kecil.
-Faktor pribadi, karena keluarganya menjadi korban dalam serangan militer Barat.
Analis memperkirakan Mojtaba akan menekankan strategi “ketahanan revolusi”—yakni memperkuat militer, memperluas jaringan proksi regional, dan menindak keras oposisi domestik, dikutip dari Reuters.
Beberapa pakar politik Timur Tengah juga memperingatkan bahwa kepemimpinan Mojtaba bisa diiringi peningkatan represi di dalam negeri.
Hal itu berkaitan dengan reputasinya yang dianggap dekat dengan aparat keamanan yang sebelumnya menekan gerakan protes di Iran.
Di sisi lain, konflik regional juga diperkirakan semakin memanas karena kepemimpinan baru Iran muncul di tengah perang terbuka dengan Israel dan ketegangan langsung dengan Amerika Serikat.
Dengan latar belakang perang, kehilangan anggota keluarga, serta dukungan kuat dari aparat militer, kepemimpinan Mojtaba Khamenei dinilai akan menjadi salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Republik Islam Iran. (*)