0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Konflik Timur Tengah Spesial

    Analisis Profesor Uppsala: Masalah Penting Konflik Teluk Tidak Cuma Minyak - Tribunnews

    14 min read

     

    Analisis Profesor Uppsala: Masalah Penting Konflik Teluk Tidak Cuma Minyak

    Di tengah konflik Teluk yang kerap dikaitkan dengan minyak, pakar Uppsala Ashok Swain memperingatkan ancaman krisis air.

    Ringkasan Berita:
    • Konflik yang memanas di kawasan Teluk selama ini sering dikaitkan dengan minyak.
    • Namun pakar perdamaian dan konflik dari Universitas Uppsala, Ashok Swain, menilai air justru menjadi isu strategis yang sering terabaikan.
    • Ketergantungan negara-negara Teluk pada desalinasi membuat infrastruktur air sangat rentan dalam konflik.

     

    TRIBUNNEWS.COM - Konflik yang terus memanas di kawasan Teluk selama ini sering dipandang terutama berkaitan dengan perebutan sumber daya energi, khususnya minyak.

    Namun, sejumlah analis menilai ada faktor lain yang tak kalah krusial dan berpotensi menjadi sumber kerentanan besar di kawasan tersebut, yakni air.

    Profesor riset perdamaian dan konflik dari Universitas UppsalaSwedia, Ashok Swain, menilai perhatian publik global masih terlalu terfokus pada minyak, padahal persoalan air memiliki implikasi strategis yang sama pentingnya dalam dinamika konflik di Timur Tengah.

    Swain, yang juga menjabat sebagai Ketua UNESCO untuk Kerja Sama Air Internasional di Universitas Uppsala, mengatakan bahwa krisis air dan ketergantungan terhadap infrastruktur penyedia air bersih menjadi faktor yang sering diabaikan dalam pembahasan konflik di kawasan Teluk.

    Menurutnya, banyak negara di kawasan tersebut memiliki sumber air tawar yang sangat terbatas karena kondisi geografis yang kering dan minim sungai permanen. Kondisi itu membuat negara-negara Teluk sangat bergantung pada teknologi desalinasi, yaitu proses mengubah air laut menjadi air tawar untuk kebutuhan domestik dan industri.

    Ketergantungan tersebut membuat air menjadi sumber daya strategis yang sangat rentan ketika konflik bersenjata terjadi. Swain menilai, serangan terhadap infrastruktur air dapat menimbulkan dampak kemanusiaan yang jauh lebih cepat dibandingkan gangguan terhadap sektor energi.

    Ia menekankan bahwa fokus yang berlebihan pada minyak dalam konflik kawasan Teluk sering kali mengaburkan fakta bahwa keberlangsungan hidup masyarakat di wilayah tersebut justru bergantung pada pasokan air bersih.

    “Banyak perhatian tertuju pada minyak, tetapi air juga merupakan kekhawatiran besar,” tulis Swain dalam analisisnya mengenai konflik di Teluk, dikutip dari scroll.in.

    Kekhawatiran tersebut semakin relevan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk yang melibatkan berbagai negara.

    Dalam beberapa insiden terbaru, infrastruktur air seperti fasilitas desalinasi bahkan disebut menjadi target serangan, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan potensi krisis air di kawasan tersebut.

    Baca juga: Trump Minta Jepang Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz, PM Takaichi: Belum Ada Rencana!

    Negara-negara Teluk diketahui sangat bergantung pada fasilitas desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air minum.

    Di Kuwait misalnya, sekitar 90 persen air minum berasal dari proses desalinasi, sementara Oman sekitar 86 persen dan Arab Saudi sekitar 70 persen.

    Ketergantungan yang tinggi pada sejumlah instalasi besar membuat sistem penyediaan air di kawasan tersebut menjadi sangat rentan.

    Serangan terhadap beberapa fasilitas saja berpotensi memicu krisis air yang cepat bagi jutaan penduduk di kota-kota besar.

    Para analis keamanan juga memperingatkan bahwa kerusakan pada fasilitas air dapat memicu dampak sosial yang luas, mulai dari kepanikan publik hingga gangguan layanan dasar di perkotaan.

    Selain faktor konflik, krisis air di kawasan Timur Tengah juga diperparah oleh perubahan iklim, kekeringan, dan eksploitasi air tanah secara berlebihan.

    Kombinasi faktor tersebut menjadikan air sebagai salah satu isu keamanan yang semakin penting dalam geopolitik kawasan.

    Dalam konteks ini, Swain menilai bahwa pembahasan mengenai konflik di Timur Tengah tidak lagi cukup hanya berfokus pada energi fosil atau jalur perdagangan minyak.

    Menurutnya, stabilitas kawasan juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan negara-negara di sana menjaga keamanan pasokan air bagi penduduknya.

    Sejumlah analis bahkan telah lama memperingatkan bahwa persaingan atas sumber daya air dapat menjadi pemicu konflik di masa depan, khususnya di wilayah yang mengalami tekanan lingkungan dan keterbatasan sumber daya alam.

    Karena itu, Swain menekankan pentingnya kerja sama regional dan internasional dalam pengelolaan air lintas negara, terutama di kawasan yang rentan konflik seperti Timur Tengah.

    Tanpa pengelolaan yang berkelanjutan dan aman, air dapat menjadi faktor yang memperparah ketegangan geopolitik di kawasan yang sudah lama dilanda konflik tersebut.

    Aksi Trump

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirimkan kapal angkatan laut guna membantu pasukan AS membuka Selat Hormuz.

    Selat Hormuz merupakan jalur sempit selebar sekitar 33 kilometer yang terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman.

    Mengutip Britannica, selat yang sangat penting bagi jalur perdagangan minyak global ini sebagian besar dikendalikan oleh Iran dan Oman, yang berbagi perairan teritorial di kawasan tersebut.

    Iran mengendalikan garis pantai utara, sementara Oman menguasai sisi selatan serta Semenanjung Musandam.

    Dilansir Financial TimesIran pada dasarnya telah menutup selat tersebut dengan mengancam akan menembak kapal mana pun yang mencoba melewatinya.

    Harga minyak dan gas pun melonjak sebagai respons.

    “Banyak negara, terutama negara-negara yang terdampak oleh upaya Iran untuk menutup Selat Hormuz, akan mengirimkan kapal perang bersama Amerika Serikat untuk menjaga agar selat tersebut tetap terbuka dan aman,” tulis Trump di Truth Social pada Sabtu (14/3/2026).

    “Kita telah menghancurkan 100 persen kemampuan militer Iran, tetapi mudah bagi mereka untuk mengirimkan satu atau dua drone, menjatuhkan ranjau, atau mengirimkan rudal jarak dekat di suatu tempat di sepanjang atau di dalam perairan ini, tidak peduli seberapa parah kekalahan mereka.”

    “Mudah-mudahan China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terdampak oleh pembatasan buatan ini akan mengirimkan kapal ke daerah tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman bagi negara yang telah benar-benar lumpuh.”

    “Sementara itu, Amerika Serikat akan membombardir garis pantai secara besar-besaran dan terus menembak jatuh kapal-kapal Iran.”

    “Dengan satu atau lain cara, kita akan segera membuka, mengamankan, dan membebaskan Selat Hormuz!”

    DITUTUP - Iran menutup Selat Hormuz buntut perang melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel. TRIBUNNEWS
    DITUTUP - Iran menutup Selat Hormuz buntut perang melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel. TRIBUNNEWS (TRIBUNNEWS/)

    Sebelumnya, Prancis telah berjanji untuk mengirimkan setidaknya 10 kapal perang ke wilayah tersebut.

    Inggris mengatakan pekan lalu bahwa mereka tidak berencana mengirimkan kapal induk.

    Sementara itu, belum ada komentar publik dari Jepang, Korea Selatan, maupun China.

    Sebagai tanggapan, Alireza Tangsiri, kepala angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), mengatakan bahwa Selat Hormuz belum ditutup secara militer dan hanya berada di bawah pengawasan Iran, lapor Al Jazeera.

    Dalam sebuah unggahan di X, ia membalas komentar Trump dengan mengatakan:

    “Amerika secara keliru mengklaim telah menghancurkan angkatan laut Iran. Kemudian mereka secara keliru mengklaim akan mengawal kapal tanker minyak. Sekarang mereka bahkan meminta bantuan pasukan dari pihak lain.”

    Baca juga: Kabar Netanyahu Tewas Kena Rudal Iran: Dibenarkan Media Teheran, Video Janggal PM Israel Berjari 6

    Belum Ada Tanda-Tanda Perang Akan Berhenti

    Perang yang terjadi setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026 telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah tercatat, sehingga menyebabkan harga minyak melonjak tajam.

    Meskipun pemerintah negara-negara Timur Tengah berupaya melakukan mediasi, prospek negosiasi tampaknya masih jauh.

    Mengutip The Vibes, tiga sumber yang mengetahui upaya diplomatik mengatakan bahwa pemerintahan Trump telah menolak proposal dari sekutu regional untuk memulai pembicaraan yang bertujuan mengakhiri konflik.

    Iran juga menolak gencatan senjata selama serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel masih terus berlangsung.

    Sejak awal serangan, lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas, sebagian besar di Iran, menurut angka yang dirilis oleh pemerintah dan media pemerintah.

    Di kota Isfahan, Iran tengah, setidaknya 15 orang tewas ketika serangan udara menghantam sebuah pabrik yang memproduksi lemari es dan pemanas, lapor kantor berita semi-resmi Fars.

    Iran telah memperingatkan warga sipil di Uni Emirat Arab untuk meninggalkan daerah-daerah di dekat pelabuhan dan lokasi yang disebut sebagai “tempat persembunyian Amerika”, dengan mengatakan bahwa pasukan AS telah melancarkan serangan terhadap Iran dari wilayah tersebut.

    Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan fasilitas yang terkait dengan Amerika Serikat di kawasan itu akan diperlakukan sebagai “target yang sah”, serta mendesak perusahaan-perusahaan Amerika untuk menarik diri dari Timur Tengah.

    Infrastruktur energi juga mengalami tekanan.

    Operasi pemuatan minyak di emirat Fujairah, salah satu pusat pengisian bahan bakar kapal terbesar di dunia, sebagian ditangguhkan setelah insiden drone tersebut, menurut sumber industri dan perdagangan.

    Pihak berwenang setempat mengatakan drone tersebut telah dicegat, tetapi puing-puingnya menyebabkan kebakaran yang masih berusaha dipadamkan oleh tim pertahanan sipil hingga Sabtu (14/3/2026) malam.

    Sementara itu, AS mengatakan gelombang serangan udara terbarunya telah menghantam lebih dari 90 lokasi di Pulau Kharg, sekitar 24 kilometer dari pantai Teluk Iran, pada Jumat (13/3/2026).

    Komando Pusat AS mengatakan target tersebut termasuk fasilitas penyimpanan ranjau laut, bunker rudal, dan infrastruktur militer lainnya.

    Para pejabat Iran bersikeras bahwa kerusakan di pulau itu terbatas dan memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas energi Iran akan memicu pembalasan.

    Kementerian Pertahanan Iran mengatakan, sembilan rudal balistik dan 33 drone telah diluncurkan ke arah Uni Emirat Arab.

    Iran juga memperingatkan penduduk untuk meninggalkan daerah dekat Pelabuhan Jebel Ali di Dubai, Pelabuhan Khalifa di Abu Dhabi, dan Pelabuhan Fujairah.

    Mereka juga menyebut cabang-cabang bank Amerika di Teluk termasuk di antara targetnya.

    Fujairah terletak di luar Selat Hormuz tetapi berfungsi sebagai jalur ekspor sekitar satu juta barel per hari minyak mentah Murban UEA, setara dengan sekitar satu persen dari permintaan minyak global.

    Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, yang menggantikan ayahnya setelah ayahnya tewas dalam konflik sebelumnya, mengatakan Selat Hormuz harus tetap tertutup.

    Ia belum muncul di depan publik dalam beberapa hari terakhir dan hanya mengeluarkan pernyataan pada Kamis yang dibacakan oleh seorang presenter televisi.

    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menepis spekulasi dari Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahwa Khamenei telah terluka.

    “Tidak ada masalah dengan pemimpin tertinggi yang baru. Ia mengirimkan pesannya kemarin, dan ia akan menjalankan tugasnya,” kata Araqchi kepada MS Now.

    (Tribunnews.com/ Chrysnha, Tiara Shelavie)


    Komentar
    Additional JS