0
News
    Home Bahlil Lahadalia BBM Berita Featured LPG Spesial Sumatera

    Bahlil: Stok Energi RI 23 Hari, Kini Bangun Storage Berkapasitas 3 Bulan di Sumatera - Kompas TV

    6 min read

     

    Bahlil: Stok Energi RI 23 Hari, Kini Bangun Storage Berkapasitas 3 Bulan di Sumatera



    Ilustrasi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ungkap stok energi RI hanya 23 hari, storage maksimal 26 hari. (Sumber: Dok. Pertamina)

    JAKARTAKOMPAS.TV- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan, stok energi Indonesia saat ini berada di kisaran 23 hari, sementara kapasitas penyimpanan maksimal hanya 25-26 hari.

    Bahlil menyebut, kondisi itu masih berada di atas standar minimum nasional, namun jauh dari standar ketahanan energi negara maju yang bisa mencapai beberapa bulan.

    “Stok BBM, crude, dan LPG kita rata-rata di atas standar minimum nasional, yaitu 21 hari. Saat ini berada di kisaran 23 hari,” kata Bahlil dalam konferensi pers usai rapat Dewan Energi Nasional (DEN) di Jakarta, Selasa (3/3/2026), dikutip dari video KompasTV.

    Ia mengakui keterbatasan fasilitas penyimpanan menjadi tantangan utama dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

    Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup Iran, Ini 5 Dampaknya ke Indonesia: Harga Minyak Naik hingga Rupiah Tertekan

    “Memang storage maksimal kita hanya 25-26 hari. Karena itu pemerintah sedang membangun storage baru dengan target kapasitas hingga tiga bulan, sesuai standar internasional,” terangnya.

    Saat ditanya apakah stok 23 hari cukup, Bahlil menjelaskan posisi saat ini masih aman karena berada di atas batas minimum.

    “Standar nasional 21 hari. Kita sekarang 23 hari. Kalau mau 240 hari, kita harus bangun storage dulu. Mau taruh di mana kalau belum ada fasilitasnya?” tuturnya.

    Bahlil menyampaikan, pemerintah akan membangun tangki penyimpanan energi baru di Sumatera. Studi kelayakan (feasibility study/FS) tengah berjalan dan ditargetkan mulai konstruksi tahun ini.

    Baca Juga: Daftar Penyesuaian Harga BBM Berlaku 1 Maret 2026, Non Subsidi Naik, Pertalite Masih Rp10.000

    Menurut Bahlil, langkah tersebut penting sebagai antisipasi terhadap dinamika geopolitik global yang sulit diprediksi, termasuk dampak perang di Timur Tengah terhadap jalur distribusi energi dunia.

    “Kita tidak bisa meramalkan kapan ketegangan ini selesai. Tetapi kita harus mengambil skenario terburuk,” ujarnya.

    Penutupan Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap perdagangan minyak global. Sekitar 20,1 juta barel minyak per hari melintasi jalur tersebut.

    Meski demikian, Bahlil menegaskan Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan yang melewati Selat Hormuz, karena porsinya diperkirakan hanya sekitar 20–25 persen dari total impor minyak dari Timur Tengah.

     

    Penulis : Dina Karina Editor : Gading-Persada


    Komentar
    Additional JS