Impor Darurat, Dua Kargo LPG dari Australia Masuk Minggu Ini - SindoNews
Impor Darurat, Dua Kargo LPG dari Australia Masuk Minggu Ini
Minggu, 15 Maret 2026 - 10:00 WIB
Pemerintah menjadwalkan kedatangan dua kargo liquefied petroleum gas (LPG) dari Australia pada akhir pekan ini. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA - Pemerintah menjadwalkan kedatangan dua kargo liquefied petroleum gas (LPG) dari Australia pada akhir pekan ini guna memperkuat ketahanan pasokan energi nasional. Langkah tersebut dilakukan sebagai antisipasi terhadap potensi gangguan distribusi energi global akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
"Akhir minggu ini kita terima dua kargo dari Australia. Itu untuk LPG," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia di Jakarta, baru-baru ini.
Baca Juga: Jelang Lebaran 2026, Ketersediaan Stok LPG Nasional Capai 15 Hari
Bahlil menjelaskan cadangan LPG nasional saat ini mencapai sekitar 15,66 hari, yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk saat terjadi lonjakan konsumsi pada periode Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.
Di sisi lain, situasi di Selat Hormuz turut memengaruhi aktivitas pengiriman energi milik Indonesia. Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping, yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih berada di perairan Teluk Arab dan belum dapat melintasi jalur tersebut.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyatakan keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama perusahaan. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri terus melakukan komunikasi diplomatik dengan Iran agar kapal-kapal tersebut dapat melintas dengan aman.
Baca Juga: Iran Blokade Selat Hormuz, Bagaimana Nasib Impor BBM dan LPG Indonesia dari AS
Sebelumnya, Ketua Dewan Energi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan juga memastikan pasokan bahan bakar dan LPG nasional tetap mencukupi. Menurutnya, Pertamina telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, termasuk optimalisasi kilang dan koordinasi dengan pemasok global.
Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi lebih dari 20% pasokan minyak dunia telah mendorong harga minyak mentah global melonjak hingga sekitar USD113 per barel. Kondisi tersebut meningkatkan kewaspadaan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

Waswas Perang Dunia III, Ini Cara Bertahan dari Serangan Nuklir