Kasus Campak Meningkat, Dokter RS UNS Imbau Orang Tua Lengkapi Imunisasi Anak - UNS
Dokter RS UNS mengimbau orang tua melengkapi imunisasi anak menyusul lonjakan kasus campak di Indonesia pada awal 2026. Campak sangat menular dan berpotensi komplikasi serius, namun imunisasi adalah pencegahan paling efektif.
UNS — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) mencatat lonjakan signifikan kasus campak di Indonesia sejak awal tahun 2026. Berdasarkan data Kemenkes per 23 Februari 2026, ditemukan sebanyak 8.224 kasus suspek campak dengan 4 kematian. Pada periode yang sama di tahun 2026, tercatat 21 Kejadian Luar Biasa (KLB) suspek campak yang tersebar di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi. Dari jumlah tersebut, 13 KLB di 6 provinsi telah terkonfirmasi laboratorium. Lima provinsi dengan KLB campak terbanyak adalah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Kondisi ini menjadi perhatian tenaga kesehatan karena penyakit yang disebabkan oleh virus ini sangat mudah menular dan dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak.
Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr. Debby Andina Landiasari, Sp.A., menjelaskan bahwa campak merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus campak dan memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Penularannya terjadi melalui droplet atau percikan cairan dari saluran pernapasan ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara.
“Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular karena penyebarannya melalui droplet yang sangat kecil dan sering kali tidak terlihat. Bahkan dalam interaksi sehari-hari, virus ini dapat berpindah dari satu orang ke orang lain,” jelas dr. Debby dalam dialog edukasi kesehatan RS UNS pada Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, gejala awal campak umumnya tidak langsung berupa ruam kulit. Penyakit ini biasanya diawali dengan demam tinggi yang disertai batuk, pilek, serta peradangan pada mata atau konjungtivitis. Tiga gejala tersebut sering dikenal sebagai “3C”, yaitu cough (batuk), coryza (pilek), dan conjunctivitis (radang mata).
“Setelah beberapa hari demam, biasanya baru muncul ruam kemerahan pada kulit. Ruam ini umumnya dimulai dari area wajah atau belakang telinga, kemudian menyebar ke leher, badan, hingga ke tangan dan kaki dalam beberapa hari,” terang dr. Debby.
Ia menambahkan bahwa campak dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan baik, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh rendah. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain pneumonia, radang otak (ensefalitis), hingga gangguan penglihatan.


“Komplikasi yang paling sering terjadi adalah pneumonia. Jika infeksi sudah mengenai paru-paru dan menyebabkan gangguan pernapasan, kondisi tersebut dapat berbahaya bahkan berpotensi menyebabkan kematian,” jelasnya.
Untuk mencegah penularan campak, dr. Debby menekankan pentingnya imunisasi. Vaksin campak pertama diberikan pada usia 9 bulan, kemudian dilanjutkan dengan dosis lanjutan pada usia 18 bulan dan 5 tahun.
“Imunisasi merupakan langkah pencegahan paling efektif. Dengan vaksin, tubuh anak akan memiliki kekebalan sehingga jika suatu saat terpapar virus, gejala yang muncul biasanya lebih ringan dibandingkan anak yang belum divaksin,” ujarnya.
Selain imunisasi, orang tua juga disarankan menjaga daya tahan tubuh anak dengan memastikan asupan nutrisi yang baik, memberikan ASI pada bayi sampai usia 6 bulan, serta menghindari kerumunan ketika kasus campak sedang meningkat.
Apabila seorang anak terinfeksi campak, penting untuk melakukan isolasi sementara guna mencegah penularan kepada anggota keluarga lain. Anak dengan campak dapat menularkan virus sejak sebelum ruam muncul hingga sekitar empat hari setelah ruam timbul.
“Jika anak mengalami demam tinggi disertai ruam dan gejala seperti batuk, pilek, atau mata merah, sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan untuk memastikan diagnosis dan mendapatkan penanganan yang tepat,” tambahnya.
RS UNS juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan langkah-langkah pencegahan yang efektif, terutama memastikan imunisasi anak lengkap sesuai jadwal.
“Melindungi anak dari campak adalah tanggung jawab bersama. Dengan imunisasi yang lengkap dan pola hidup sehat, risiko penularan dapat ditekan sehingga anak-anak dapat tumbuh sehat dan terlindungi,” pungkas dr. Debby. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Mengapa kasus campak meningkat di Indonesia?
Kementerian Kesehatan mencatat lonjakan signifikan kasus campak di Indonesia sejak awal tahun 2026, dengan 8.224 kasus suspek dilaporkan per 23 Februari 2026. Lihat di artikel
Apa saja gejala awal penyakit campak?
Gejala awal campak umumnya diawali dengan demam tinggi disertai batuk, pilek, dan radang mata (konjungtivitis), yang dikenal sebagai “3C”. Lihat di artikel
Bagaimana cara efektif mencegah penularan campak?
Pencegahan paling efektif adalah melalui imunisasi sesuai jadwal yang diberikan pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 5 tahun. Lihat di artikel
Kapan anak dapat menularkan campak?
Anak dengan campak dapat menularkan virus sejak sebelum ruam muncul hingga sekitar empat hari setelah ruam timbul. Lihat di artikel
Apa komplikasi serius yang bisa disebabkan oleh campak?
Komplikasi serius campak meliputi pneumonia, radang otak (ensefalitis), hingga gangguan penglihatan, yang berpotensi menyebabkan kematian. Lihat di artikel