0
News
    Home Berita Featured Iran Spesial

    Sakit Hati Iran Sangat Dalam, Tawaran Negosiasi Indonesia Ditolak - HERALD

    3 min read

     

    Sakit Hati Iran Sangat Dalam, Tawaran Negosiasi Indonesia Ditolak

    HERALD.ID, JAKARTA – Langit diplomasi tak selalu berwarna biru. Di antara jalur pelayaran paling sibuk di dunia, ketegangan justru mengental, seperti minyak yang tumpah di permukaan laut. Penahanan kapal tanker milik Pertamina oleh Iran selama hampir empat pekan bukan sekadar insiden maritim, melainkan pantulan relasi yang retak—sunyi, tetapi terasa.

    Nama Rusdi Siswanto muncul membawa penjelasan yang membuka lapisan di balik keputusan Teheran. Menurutnya, Iran bukan tiba-tiba bersikap keras. Ada akumulasi rasa kecewa yang mengendap sejak beberapa tahun terakhir—dan Indonesia, tanpa banyak disadari, menjadi bagian dari cerita itu.

    Puncaknya terjadi ketika Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menolak tawaran mediasi yang diajukan oleh Prabowo Subianto. Penolakan itu bukan hanya sikap diplomatik, tetapi sinyal tegas bahwa Iran memilih garisnya sendiri. Selat Hormuz, urat nadi energi global, disebut hanya terbuka bagi negara-negara yang dianggap sahabat dan netral. Kapal yang berafiliasi dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya, ditutup aksesnya.

    Dampaknya terasa nyata. Lalu lintas laut yang biasanya riuh menjadi selektif. Hanya segelintir negara seperti China, Rusia, India, Pakistan, Irak, Thailand, dan Sri Lanka yang diberi ruang melintas. Sementara kapal tanker Pertamina, simbol kepentingan energi Indonesia, harus tertahan dalam ketidakpastian.

    Rusdi mengurai akar persoalan itu hingga ke tahun 2023, ketika kapal tanker raksasa MT Arman 114 ditangkap di Batam. Kapal berbobot lebih dari 300.000 ton itu dituduh melakukan transfer ilegal dan mencemari laut. Pengadilan kemudian memutuskan penyitaan, bahkan melelang kapal tersebut dengan nilai fantastis. Bagi Teheran, langkah itu bukan sekadar penegakan hukum, tetapi penghinaan. Mereka mengaku terbiasa menangkap kapal di wilayahnya, namun tak pernah melelang milik negara lain.

    Luka itu belum sembuh ketika pada Februari 2025, dua kapal perang Iran dilaporkan ditolak dalam latihan multilateral Komodo di Bali, meski telah mengantongi izin. Keputusan itu disebut-sebut dipengaruhi tekanan Amerika Serikat—sebuah tudingan yang menempatkan Indonesia dalam posisi serba salah. Di satu sisi ingin menjaga hubungan global, di sisi lain harus mempertahankan kedaulatan sikap.

    Seorang pejabat Iran, seperti dikutip Rusdi, menyebut Indonesia terlihat terlalu berhati-hati terhadap Washington. Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan makna panjang: kepercayaan yang mulai goyah.

    Kini, ketika konflik Iran dan Amerika Serikat kembali memanas, Selat Hormuz berubah menjadi titik tekan geopolitik. Setiap kapal yang melintas membawa bukan hanya muatan energi, tetapi juga beban diplomasi. Penahanan tanker Pertamina menjadi pengingat bahwa jalur laut tak pernah sekadar tentang perdagangan—ia adalah cermin hubungan antarnegara.

    Di tengah pusaran itu, Prabowo Subianto tetap menegaskan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Dalam pernyataannya, Indonesia tidak berpihak pada kekuatan manapun. Namun di laut lepas, realitas seringkali lebih keras dari prinsip. Dan kadang, satu keputusan di masa lalu bisa berlayar jauh—menjadi gelombang yang baru terasa hari ini. (bs)


    Komentar
    Additional JS