0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Selat Hormuz Spesial

    Selat Hormuz Lumpuh, 2 Negara Ini Kebal berkat Energi Terbarukan - Viva

    5 min read

     

    Selat Hormuz Lumpuh, 2 Negara Ini Kebal berkat Energi Terbarukan

    Jakarta, VIVA - Negara-negara yang lebih banyak menghasilkan listrik dari angin, Matahari, dan sumber terbarukan lainnya terbukti lebih tahan terhadap guncangan energi global. Begitu penilaian para ahli di tengah konflik yang kian memanas di Timur Tengah.

    Perang terus meluas sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026. Infrastruktur energi di kawasan itu menjadi sasaran, dan ancaman serangan balasan Iran praktis menutup Selat Hormuz, jalur perairan vital yang biasa dilewati 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Gangguan ini membuat bahan bakar sulit sampai ke negara-negara yang membutuhkannya untuk pembangkit listrik, pemanas rumah, industri, hingga transportasi. Harga pun melonjak di mana-mana dan tekanan biaya hidup berpotensi semakin berat.

    "Energi adalah nadi masyarakat dan industri kita," kata Antony Froggatt, pakar energi dari NGO Transport & Environment yang berbasis di Brussels, Belgia, seperti dikutip dari situs DW, Jumat, 13 Maret 2026. "Dan kita masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil."

    Dunia saat ini masih memperoleh sekitar 80 persen energi primernya dari bahan bakar fosil, sumber utama emisi gas rumah kaca yang mendorong perubahan iklim. Ketergantungan ini membuat perekonomian rentan terhadap guncangan geopolitik, kata Rana Adib, Sekretaris Eksekutif Jaringan Kebijakan Energi Terbarukan untuk Abad ke-21 (REN21).

    Uruguay

    Negara-negara dengan porsi energi terbarukan "buatan sendiri" yang lebih besar dalam bauran energinya dinilai "lebih tahan terhadap guncangan semacam ini".

    Teknologi energi hijau seperti turbin angin, panel surya, dan baterai memang memiliki rantai pasok global yang juga bisa terdampak ketegangan geopolitik. Namun, energi yang dihasilkannya biasanya berasal dari dalam negeri sendiri.

    "Begitu teknologinya sudah ada di suatu negara, bahan bakar yang dipakai adalah Matahari, angin, panas Bumi yang semuanya lokal," kata Adib. "Itulah mengapa energi terbarukan jauh lebih tahan terhadap guncangan global."

    Kekhawatiran soal ketergantungan pada impor minyak dan gas pascakrisis keuangan 2008 mendorong Uruguay untuk serius beralih ke energi terbarukan.

    Dua dekade lalu, negara kecil Amerika Selatan dengan 3,5 juta penduduk ini mulai merancang rencana besar untuk menyingkirkan bahan bakar fosil dari jaringan listriknya dengan cara memperluas ladang angin secara agresif.

    Hasilnya, lebih dari 90 persen listrik Uruguay kini berasal dari energi terbarukan, terutama angin, Matahari, tenaga air, dan biofuel. Angka itu bahkan mencapai 98 persen di tahun-tahun dengan curah hujan dan kecepatan angin yang tinggi.

    "Ini membuktikan bahwa jaringan listrik 100 persen terbarukan benar-benar bisa diwujudkan," kata Adib. Ia menambahkan bahwa langkah ini terbukti melindungi Uruguay dari lonjakan harga energi di masa lalu. Saat krisis energi akibat perang Ukraina menghantam banyak negara, harga energi di Uruguay tetap stabil.

    "Ini sangat penting karena artinya inflasi tidak memukul negara ini seperti yang terjadi pada negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil," kata Adib.

    Denmark

    Investasi di sektor energi terbarukan juga menciptakan 50.000 lapangan kerja dan memungkinkan Uruguay menghemat biaya impor energi hingga U$500 juta (Rp8,4 triliun) per tahun. Meski begitu, Uruguay seperti kebanyakan negara lain masih bergantung pada bahan bakar fosil untuk transportasi, industri, dan pemanas rumah.

    Denmark adalah contoh lain negara yang berhasil menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Krisis minyak periode 1970-an memukul negara Skandinavia ini dengan keras dan mendorongnya untuk mulai mengembangkan energi terbarukan sejak dini.

    Kini, lebih dari 80 persen listrik Denmark dipasok dari energi hijau, dengan angin menyumbang hampir 60 persen dari total tersebut, diikuti biogas. Negara dengan 6 juta penduduk ini menargetkan sistem listrik yang sepenuhnya bebas bahan bakar fosil pada 2030.

    Sistem pemanas terpusat di Denmark, yang sudah terhubung ke lebih dari 65 persen rumah tangga, juga sebagian besar sudah meninggalkan batu bara dan direncanakan sepenuhnya beralih ke biometana terbarukan pada 2030.

    Froggatt menyebut dominasi energi terbarukan dalam jaringan listrik berkontribusi menekan harga. Ia mengutip studi Dana Moneter Internasional (IMF) yang menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu persen porsi energi terbarukan, rata-rata bisa menurunkan harga listrik grosir sebesar 0,6 persen.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Namun ia menekankan bahwa konsumen baru benar-benar terlindungi dari lonjakan harga minyak dan gas ketika transportasi dan pemanas rumah sudah sepenuhnya beralih ke listrik, misalnya melalui kendaraan listrik dan pompa panas.

    "Kita akan butuh jauh lebih banyak listrik untuk menjalankan transisi energi ini, sehingga semakin penting untuk membangun lebih banyak energi terbarukan karena permintaan listrik diprediksi akan terus meningkat," katanya.


    Komentar
    Additional JS