TNI Siaga 1, Pengamat: Konsolidasi Awal dan Pesan TNI Siap Hadapi Kedaruratan - Indonesia Defence
Jakarta, IDM – Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) Anton Aliabbas menilai, status siaga 1 yang sedang dilaksanakan TNI merupakan bentuk konsolidasi awal kekuatan dalam mencermati dinamika, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah.
“Sekalipun situasi nasional belum terjadi kegentingan, konsolidasi tetap diperlukan,” ujar Anton kepada Indonesia Defense Magazine (IDM), Senin (9/3).
Kedua, lanjut Anton, penetapan status siaga 1 juga dapat dilihat sebagai upaya preventif dan ingin memberi kesan TNI tidak ingin kecolongan dengan mengambil tindakan dalam merespons perkembangan situasi.
Menurut Anton, langkah tersebut dipandang penting, mengingat perkembangan situasi keamanan berlangsung sangat cepat dan implikasinya bisa berdampak hingga internal.
Baca Juga: TNI-Polri Bersama 5.000 Buruh dan Ojol Apel Kamtibmas
“Ketiga, penetapan status siaga 1 yang diikuti apel khusus di kawasan Monumen Nasional (Monas) juga ingin memberi pesan bahwa TNI sudah bersiap dalam menghadapi situasi kedaruratan,” tutur Anton.
Anton berharap, dengan adanya peningkatan kesiapan, publik dapat lebih tenang dan bijak dalam membaca eskalasi konflik di Timur Tengah. “Apalagi, ada kekhawatiran terjadinya panic buying bahan bakar minyak (BBM) di domestik,” kata dia.
Namun, status siaga 1 harus diikuti dengan peningkatan kesiapsiagaan dalam merespons potensi melebarnya konflik hingga ke kawasan Asia Tenggara-Asia Timur. Anton menyebutkan, ada dua titik panas atau hotspot di kawasan Asia, yakni Laut Cina Selatan dan Selat Taiwan.
“Terlebih, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kerap membuat kebijakan atau sikap yang tidak terduga,” kata Anton.
Baca Juga: TNI Siaga 1, Berikut Poin-poin Telegram Panglima soal Perkembangan Situasi Timur Tengah
Sekalipun bukan pihak yang terlibat, Indonesia kemungkinan mengalami dampak kolateral menjadi terbuka. Terlebih, wilayah perairan Indonesia memiliki empat dari 10 chokepoint yang ada di dunia.
“Refleksi dari konflik di Timur Tengah, serangan bisa terjadi pada negara-negara sekitar di mana terdapat fasilitas yang dimiliki atau digunakan oleh pihak militer yang bertikai. Dengan demikian, wilayah Indonesia menjadi tidak imun terhadap serangan militer, apabila konflik bersenjata terjadi di kawasan. Belum lagi, wilayah Indonesia masuk dalam radius rudal jelajah yang dimiliki oleh negara tetangga seperti Australia, Korea Utara dan Cina,” ujar Anton.
Anton juga mengingatkan pentingnya penguatan upaya dalam lingkup regional seperti ASEAN. Peneguhan sebagai kawasan ASEAN yang damai, bebas, dan netral atau Zone of Peace, Freedom, and Neutrality (ZOPFAN) adalah sikap yang mesti diperkuat di tengah dinamika keamanan yang sedang tidak menentu.
TNI Siaga 1
Diketahui, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengeluarkan telegram terkait perkembangan situasi (bangsit) di kawasan Timur Tengah. Telegram bernomor TR/283/2026 tertanggal 1 Maret 2026, dengan tembusan kepada Panglima TNI dan Wakil Panglima TNI.
Panglima TNI memerintahkan seluruh jajaran untuk melaksanakan siaga 1 terhitung mulai 1 Maret 2026 sampai selesai atau waktu yang belum ditentukan. Telegram diteken Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI Letnan Jenderal Bobby Rinal Makmun.
Baca Juga: Presiden Prabowo Panggil Menhan, Panglima TNI dan Kepala BIN ke Hambalang
Dalam telegram tersebut, panglima komando utama operasi (pangkotama ops) diminta menyiagakan personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) serta patroli di objek vital nasional. Instruksi khusus di Jakarta, personel Kodam Jaya juga melaksanakan patroli di kantor-kantor kedutaan.
Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) juga diminta melaksanakan deteksi dini dan pengamatan udara secara terus-menerus selama 24 jam.
Selanjutnya, atase pertahanan (athan) di negara terdampak diminta untuk mendata dan memetakan serta merencanakan evakuasi WNI bila diperlukan.
Satuan intelijen TNI juga terus diminta melaksanakan deteksi dini dan cegah dini terkait adanya kelompok yang memanfaatkan perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah untuk membuat situasi di dalam negeri tidak kondusif. (nma)