WNA Naik Pesawat Indonesia untuk Tinggalkan Wilayah Perang Timur Tengah, Terbang dari Riyadh - Tribunnews
WNA Naik Pesawat Indonesia untuk Tinggalkan Wilayah Perang Timur Tengah, Terbang dari Riyadh
Konflik Iran vs AS–Israel membuat banyak WNA kabur dari Timur Tengah. Penerbangan langsung ke Jakarta jadi pilihan utama
Ringkasan Berita:
- Konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel membuat banyak WNA mencari jalur aman keluar dari Timur Tengah.
- Rano Karno menyebut penerbangan langsung ke Jakarta menjadi pilihan utama.
- Bahkan ada penumpang dari Doha rela naik taksi ke Riyadh dengan biaya sekitar Rp28 juta demi bisa terbang menggunakan Garuda Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM - Konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah mengguncang sektor transportasi udara di kawasan Timur Tengah.
Perang yang memicu penutupan ruang udara di sejumlah negara itu membuat ratusan ribu pelancong terjebak dan menyebabkan gangguan perjalanan global.
Konflik memaksa Warga Negara Asing (WNA) mencari jalan keluar untuk pergi dari wilayah perang.
Maskapai Indonesia pun menjadi pilihan untuk meninggalkan Timur Tengah.
Hal itu diungkap Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno di Balai Kota Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Rano Karno atau akrab disapa Si Doel baru saja tiba di Tanah Air setelah menunaikan ibadah Umrah.
Dia dapat pulang ke Tanah Air karena ada penerbangan langsung dari Riyadh, Arab Saudi ke Jakarta, Indonesia.
Sementara itu, untuk penerbangan langsung dari Jakarta ke Arab Saudi saat ini masih tersedia tiga maskapai, yakni Saudi Airlines, Lion Air, dan Garuda Indonesia.
“Kalau untuk yang direct di Jakarta itu ada tiga pesawat. Pertama Saudi yang direct, kemudian Lion Air yang direct, dan terakhir Garuda. Insyaallah mudah-mudahan itu yang bisa terjadi,” katanya.
Dia menyebut banyak warga negara asing memanfaatkan penerbangan langsung demi menghindari jalur transit yang terdampak.
“Semalam saya baru pulang, banyak sekali masyarakat asing yang menggunakan pesawat Garuda. Bahkan ada satu orang, dia dari Doha naik taksi ke Riyadh, itu biaya ongkos taksinya hampir Rp28 juta, kemudian dia naik pesawat Garuda,” tuturnya.
Baca juga: Tiba di Indonesia Usai Umrah, Rano Karno: Kalau Pesawat Langsung Tidak Terkendala
Perang AS–Israel vs Iran Lumpuhkan Penerbangan Timur Tengah
Para pakar penerbangan memperingatkan bahwa gangguan penerbangan kemungkinan masih akan terjadi dalam beberapa hari hingga beberapa pekan ke depan, terutama jika konflik terus meluas ke negara-negara Teluk.
Bandara di kawasan Teluk seperti di Dubai, Abu Dhabi, dan Doha selama ini berfungsi sebagai hub penting yang menghubungkan penerbangan menuju Eropa, Afrika, dan Asia.
Penutupan ruang udara di kawasan tersebut membuat banyak maskapai harus membatalkan penerbangan atau mengalihkan rute ke jalur yang lebih panjang.
Presiden dan CEO Flight Safety Foundation, Hassan Shahidi, menegaskan bahwa situasi ini bukan sekadar keterlambatan penerbangan biasa.
“Ini bukan sekadar cerita keterlambatan penerbangan biasa, melainkan masalah ruang udara di zona konflik,” kata Shahidi.
Ia menjelaskan bahwa penghentian penerbangan serta kebijakan dari maskapai, bandara, dan pemerintah dapat berubah setiap saat.
“Para pelancong harus benar-benar bersiap menghadapi ketidakpastian,” ujarnya.
Baca juga: Gelisah WNI Terjebak Perang Timur Tengah: 5 Hari Tertahan di Dubai, Mau Pulang Takut Pesawat Dirudal
Pemerintah Dunia Keluarkan Peringatan Perjalanan
Sejak serangan militer diluncurkan pada akhir pekan lalu, berbagai serangan balasan terus terjadi dengan cepat. Pemerintah Iran mengklaim lebih dari 1.000 orang telah tewas akibat konflik tersebut.
Sejumlah negara kemudian mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya. Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri bahkan meminta seluruh warga AS untuk segera meninggalkan wilayah konflik seperti Iran dan Israel menggunakan transportasi komersial yang tersedia.
Negara-negara seperti China, Italia, Prancis, dan Jerman juga mulai mengatur proses evakuasi bagi warganya dari kawasan Timur Tengah.
Para ahli menyarankan agar para pelancong terus memantau informasi terbaru dari pemerintah dan kedutaan besar.
“Jika perjalanan tidak mendesak, sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Namun jika harus bepergian, pastikan membeli tiket yang bisa dikembalikan atau diubah jadwalnya,” ujar Shahidi.
Banyak Maskapai Hentikan Rute
Sejumlah maskapai besar Timur Tengah seperti Etihad Airways, Emirates, dan Qatar Airways juga terpaksa menghentikan sementara sejumlah rute penerbangan karena penutupan ruang udara dan alasan keselamatan.
Lonjakan permintaan perjalanan juga menyebabkan kepadatan di bandara.
Bahkan beberapa maskapai meminta calon penumpang untuk tidak datang ke bandara jika penerbangan mereka belum dipastikan berangkat.
Harga Tiket Berpotensi Naik
Selain pembatalan penerbangan, maskapai kini juga harus mengambil rute yang lebih panjang untuk menghindari wilayah konflik. K
ondisi ini meningkatkan biaya operasional karena maskapai harus membayar biaya lintasan udara tambahan dan menggunakan bahan bakar lebih banyak.
Direktur Konsultan Aviasi Alton Aviation Consultancy, Bryan Terry, mengatakan biaya tambahan tersebut kemungkinan akan dibebankan kepada penumpang.
“Biaya tambahan itu pada akhirnya akan diteruskan kepada penumpang,” jelas Terry.
Ia menambahkan jika konflik berkepanjangan, maskapai kemungkinan akan memberlakukan biaya tambahan bahan bakar atau menaikkan tarif penerbangan.
Harga tiket pesawat sendiri dilaporkan sudah melonjak tinggi karena banyaknya penerbangan yang dibatalkan. Kondisi ini membuat kursi penerbangan yang tersisa menjadi sangat terbatas.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi memperburuk situasi karena bahan bakar menyumbang sekitar 30 persen biaya operasional maskapai menurut data International Air Transport Association.
Para ahli pun memperingatkan bahwa kondisi pasar penerbangan dapat berubah sewaktu-waktu jika perang terus berlanjut atau semakin meluas.
(TRIBUNJAKARTA/TRIBUNBALI/TRIBUNNEWS)
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Membaca-Peta-Kekuatan-di-Balik-Perang-AS-Israel-vs-Iran_20260304_212820.jpg)