Dampak Perang Iran vs AS Bikin Perajin Tempe di Jawa Timur Tertekan - Beritasatu
Dampak Perang Iran vs AS Bikin Perajin Tempe di Jawa Timur Tertekan
Jakarta, Beritasatu.com – Kenaikan harga kedelai impor yang dipicu konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) mulai berdampak langsung pada pelaku usaha kecil di daerah. Para perajin tempe di Jawa Timur mengaku tertekan akibat lonjakan harga bahan baku utama tersebut.
Saat ini, harga kedelai impor tercatat mencapai Rp 10.500 hingga Rp 11.000 per kilogram. Angka tersebut mengalami kenaikan sekitar Rp 1.000 hingga Rp 2.000 dibandingkan harga normal yang sebelumnya berada di kisaran Rp 9.000 hingga Rp 9.500 per kilogram.
Kondisi ini dirasakan oleh pelaku industri rumahan tempe di Kampung Tempe Bagusari, Jogotrunan, Lumajang. Kenaikan harga yang terjadi sejak sekitar satu bulan terakhir membuat para produsen harus mencari cara agar tetap bertahan.
Salah satu produsen tempe, Syaiful Amin, mengatakan kenaikan harga kedelai berdampak langsung pada biaya produksi.
“Harga kedelai impor saat ini Rp 10.500 per kilogram, kalau harga normalnya berkisar Rp 9.000 sampai Rp 9.500. Artinya ada kenaikan sekitar Rp 1.000. Dampaknya, penghasilan berkurang karena biaya produksi bertambah,” ujarnya pada Kamis (2/4/2026).
Untuk menyiasati kondisi tersebut, para produsen melakukan berbagai upaya efisiensi tanpa mengurangi kualitas produk. Salah satunya dengan menerapkan metode giling kering pada kedelai agar tidak banyak menyusut saat proses perendaman hingga fermentasi.
Meski demikian, para pelaku usaha tetap menghadapi dilema. Pada satu sisi, mereka harus menjaga kualitas tempe agar tetap diminati konsumen, namun di sisi lain biaya produksi terus meningkat.
Dampak serupa juga dirasakan perajin tempe di Kabupaten Mojokerto. Salah satunya Abdul Hadi, perajin tempe di Desa Tambakagung, Kecamatan Puri. Ia menyebut kenaikan harga kedelai sudah terjadi sejak sebelum Ramadan dan masih berlangsung hingga saat ini.
Harga kedelai yang sebelumnya Rp 9.000 kini naik menjadi Rp 11.000 per kilogram. Imbasnya, tempe hasil produksinya mengalami pengurangan ukuran ketika sampai di tangan konsumen.
“Ya dampak perang, kedelainya kan impor dari Amerika. Harga saat ini Rp 11.000, sebelumnya Rp 9.000. Biasanya mengurangi ukuran,” kata Abdul Hadi, Kamis (2/3/2026).
Keputusan berat Abdul mengecilkan ukuran dan ketebalan tempe produksinya, diambil demi mempertahankan usahanya. Pasalnya, ia ingin tetap mengupayakan produksi tanpa menaikkan harga jual.
“Biasanya Rp 10.000 dapat 10 potong, ini tetap dapat sepuluh potong tapi agak kecil itu tidak masalah,” katanya.
Ia berharap harga kedelai dapat kembali stabil agar tidak merugikan perajin maupun konsumen.
“Ya harapannya harga kembali normal. Sehari memproduksi satu kuintal kedelai, itu tiap hari produksi,” ujarnya.
Para produsen tempe berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kedelai impor di tengah ketidakpastian global, sehingga usaha kecil tetap dapat bertahan.