Drone Super Canggih AS Seharga Rp4 Triliun Jatuh saat Mengintai Iran - Viva
VIVA – Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi bahwa pesawat pengintai tak berawak MQ-4C Triton hilang dan jatuh di wilayah Teluk Persia pada 9 April. Insiden itu secara resmi digambarkan sebagai "kecelakaan".
Namun, minimnya penjelasan teknis memicu spekulasi luas bahwa drone mata-mata canggih bernilai hingga US$250 juta (sekitar Rp4,28 triliun) tersebut kemungkinan ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Iran.
Kecurigaan muncul setelah Triton mendadak menghilang dari situs pelacakan penerbangan saat terbang di atas Teluk Persia. Sejumlah sumber pertahanan kemudian melaporkan bahwa pesawat tersebut kemungkinan besar menjadi sasaran rudal pertahanan udara Iran.
Drone MQ-4C tergolong aset yang jauh lebih langka dan mahal dibanding pesawat tempur F-15E Strike Eagle, drone MQ-9 Reaper, maupun berbagai drone lain yang sebelumnya pernah ditembak jatuh oleh pasukan Iran.
Drone canggih AS MQ-4C Triton
- Flightradar24 / Northrop Grumman
Dalam daftar aset udara AS yang sangat mahal, hanya pesawat peringatan udara dini E-3 Sentry yang nilainya melampaui Triton, itu pun merupakan platform tua yang akan dipensiunkan, berbeda dengan Triton yang masih aktif diproduksi.
MQ-4C Triton merupakan turunan dari Global Hawk yang dikhususkan untuk pengawasan maritim jarak jauh. Drone ini memiliki jangkauan lebih dari 13.000 kilometer dan mampu terbang di ketinggian sekitar 50.000 kaki dalam durasi sangat lama.
Triton dilengkapi radar AN/ZPY-3 Multi-Function Active Sensor untuk pengawasan maritim 360 derajat, sensor elektro-optik/inframerah, serta sistem deteksi sinyal elektronik.
Tautan data satelit waktu nyata menjadikannya simpul penting dalam jaringan pengawasan laut, udara, dan darat milik AS. Selama ini, Triton banyak diandalkan di teater Pasifik, meski ketahanannya di wilayah dengan pertahanan udara kuat kerap dipertanyakan.
Setiap unit MQ-4C diperkirakan bernilai US$235–250 juta (setara Rp4,28 triliun -- asumsi Rp17,139 per Dolar AS), dengan total operasional baru sekitar 20 unit karena biayanya yang sangat tinggi.
Iran 'Tumbangkan' Drone AS
Sebelum menghilang, data pelacakan menunjukkan MQ-4C Triton mengalami penurunan ketinggian drastis—dari sekitar 50.000 kaki turun ke bawah 10.000 kaki. Saat itu, drone dilaporkan sedang kembali ke Naval Air Station Sigonella di Italia usai menjalankan misi pengawasan di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Dalam fase penurunan tersebut, transponder drone memancarkan kode darurat. Awalnya kode 7400 (kehilangan komunikasi), lalu berubah menjadi 7700 yang menandakan keadaan darurat umum dalam penerbangan.
Peristiwa ini mengingatkan pada insiden 20 Juni 2019 ketika Korps Garda Revolusi Islam menembak jatuh drone RQ-4A Global Hawk di dekat Selat Hormuz.
Saat itu, Duta Besar Iran untuk PBB Majid Takht Ravanchi menyatakan drone AS terbang dalam "mode siluman penuh", mematikan perangkat identifikasi, dan memasuki wilayah udara Iran meski telah diperingatkan berulang kali.
Sejak akhir Februari lalu, pasukan Iran juga dilaporkan telah menembak jatuh sekitar 17 drone MQ-9 serta beberapa drone lain, termasuk IAI Heron buatan Israel.
Pada 2019, Iran juga menembak jatuh varian demonstrator maritim RQ-4 milik Angkatan Laut AS di atas Laut Oman dan bahkan memamerkan puing-puingnya.
Meski insiden terbaru ini masih disebut "kecelakaan", sebuah MQ-4C lainnya terpantau tetap melakukan misi rutin di Teluk Persia pada Rabu. Media pertahanan The War Zone (TWZ) sebelumnya menilai Triton akan menjadi aset kunci untuk memantau Teluk Persia dan Selat Hormuz, terutama di tengah gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran.