Sektor Barang Mewah Tertekan Imbas Perang AS-Israel Vs Iran, Saham Hermes hingga Gucci Rontok! - VIVA
Jakarta, VIVA – Saham perusahaan barang mewah global turun tajam setelah laporan kinerja kuartal pertama mengecewakan. Konflik di Timur Tengah, menjadi salah satu faktor utama yang menekan penjualan.
Perusahaan barang mewah populer seperti Hermes, turun 8,2 persen. Sementara saham perusahaan lain seperti Burberry, Christian Dior, dan Moncler juga ikut turun.
Hermes mencatat penjualan sebesar 4,1 miliar euro atau sekitar US$4,8 miliar (setara Rp81,6 triliun, dengan kurs Rp17.000). Pertumbuhan tahunan mencapai 5,6 persen, di bawah ekspektasi analis sebesar 7,1 persen.
”Meskipun terjadi perlambatan arus wisatawan yang terkait dengan situasi di Timur Tengah, penjualan di toko-toko grup meningkat sebesar 7 persen,” kata perusahaan, sebagaimana dikutip dari CNBC, Kamis, 16 April 2026.
Namun, Hermes juga mengakui adanya tekanan di kanal distribusi. “Aktivitas grosir sangat terpengaruh oleh penurunan penjualan ke toko konsesi, khususnya di Timur Tengah dan di bandara.”
Selanjutnya, penjualan organik Gucci turun 8 persen, lebih dalam dari perkiraan 6 persen. “Gucci tetap menjadi prioritas utama kami. Transformasi menyeluruh sedang berlangsung, dengan langkah tegas di berbagai aspek, termasuk pelanggan, distribusi, dan terutama produk,” ungkap CEO Kering, Luca de Meo.
Kering sendiri juga melaporkan pendapatan ritel di Timur Tengah turun 11 persen pada kuartal pertama, setelah sempat tumbuh di awal tahun. “Ketidakpastian global yang meningkat telah menimbulkan kecemasan besar di kalangan investor, terutama bagi mereka yang sebelumnya mengharapkan pemulihan permintaan barang mewah tahun ini,” papar Analis UBS, Zuzanna Pusz.
Dampak konflik juga dirasakan oleh LVMH. “Ketika konflik dimulai, dan selama bulan Maret, terjadi penurunan permintaan antara 30 persen hingga 70 persen, tergantung pada pusat perbelanjaan dan jenis bisnis,” ungkap CFO LVMH, Cécile Cabanis.
Secara keseluruhan, konflik geopolitik dan lemahnya permintaan di beberapa pasar utama membuat prospek industri barang mewah masih penuh tekanan. Investor saat ini juga menunggu langkah lanjutan perusahaan untuk memulihkan kinerja.