0
News
    Home Berita Bisnis Featured Spesial

    Dunia Usaha RI Mulai Loyo, Tanda-tandanya Sudah Muncul - suara

    3 min read

     

    Dunia Usaha RI Mulai Loyo, Tanda-tandanya Sudah Muncul

    Warga mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Senin (30/3/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
    Baca 10 detik
    • Dunia usaha RI melambat di Q1-2026, SBT turun jadi 10,11% akibat daya beli lesu.
    • Pertumbuhan hanya tertolong momen Lebaran & Imlek, bukan fundamental yang kuat.
    • Kapasitas produksi naik tipis, ekonomi nasional dibayangi risiko ketidakpastian.

    Suara.com - Sinyal kewaspadaan mulai menyelimuti perekonomian nasional di awal tahun 2026. Meski diklaim masih "kokoh", nyatanya aktivitas dunia usaha di Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

    Berdasarkan Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dirilis Bank Indonesia, kinerja korporasi pada triwulan I-2026 resmi mengalami perlambatan.

    Direktur Departemen Komunikasi, Anton Pitono mengungkapkan, optimisme pelaku usaha yang tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) hanya mampu bertengger di angka 10,11 persen. Angka ini merosot jika dibandingkan dengan capaian kuartal IV-2025 yang sempat menyentuh 10,61 persen.

    Penurunan ini menjadi ironi, mengingat triwulan pertama tahun ini dipenuhi dengan momentum besar yang seharusnya bisa memacu ekonomi lebih kencang. Anton mengakui bahwa tren positif yang tersisa saat ini pun hanya karena terbantu oleh faktor kalender, bukan karena fundamental yang menguat tajam.

    "Kinerja dipengaruhi oleh momentum perayaan Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, serta periode Ramadan dan Idulfitri 1447 H. Selain itu, sektor pertanian terbantu masuknya musim panen," ujar Anton dalam keterangan resminya, Jumat (17/4/2026).

    Artinya, tanpa adanya hari besar keagamaan dan faktor alam (panen), wajah asli ekonomi Indonesia di awal tahun ini diprediksi bakal jauh lebih suram.

    Meski kapasitas produksi terpakai diklaim naik tipis menjadi 73,33 persen dari 73,15 persen pada kuartal sebelumnya, kenaikan tersebut tergolong sangat marjinal dan dianggap belum cukup kuat untuk memicu ekspansi besar-besaran.

    Para analis menilai, ketergantungan dunia usaha pada faktor musiman seperti Lebaran dan Imlek menunjukkan lemahnya daya beli di luar hari besar. Jika tren perlambatan SBT ini terus berlanjut tanpa ada stimulus baru dari pemerintah, target stabilitas ekonomi nasional sepanjang 2026 bisa jadi hanya sekadar angan-angan di atas kertas.

    Walaupun responden memprediksi SBT akan melonjak ke 14,80 persen pada triwulan II-2026 karena sektor konstruksi dan pertambangan, tantangan likuiditas dan ketidakpastian global tetap menghantui di balik narasi optimisme tersebut.

    Baca Juga: 3 Jurus Ampuh BI Jaga Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh Meski Dunia Bergejolak


    Komentar
    Additional JS