Gara-gara Perang Amerika-Iran, Harga Plastik di Surabaya Naik Ugal-ugalan, Tembus 40 Persen - beritajatim
Surabaya (beritajatim.com) – Pedagang plastik di Surabaya mulai menjerit akibat lonjakan harga plastik yang semakin hari semakin konsisten melambung tinggi. Saat ini kenaikan mencapai 40 persen.
Lonjakan fantastis harga plastik di toko-toko Surabaya, seperti kantong plastik (kresek), mika makanan, dan kemasan cup minuman ini. Kenaikan diduga dipicu akibat dampak ekskalasi konflik Timur Tengah. Impor bahan baku biji plastik yang berasal dari turunan minyak bumi dan gas alam tersendat, mengikuti fluktuasi harga energi global.
Mimin (65), salah seorang supplier produk plastik beragam jenis di Toko Plastik Laksono di Pasar Pucang Anom Surabaya, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik menyentuh 40 persen itu sudah terjadi sejak lebaran Idul Fitri 2026, Maret lalu.
“Sudah, pokoknya berbicara harga plastik itu, kita (pedagang) tidak bisa polah-polah. Dari harga Rp9 ribu itu tiba-tiba naik menjadi Rp15 ribu. Semua jenis plastik naiknya hampir 40 persen,” ujar Minim saat ditemui di tokonya, Kamis (2/4/2026).
Mimin menjelaskan, sesuai dengan penjelasan pabrik tempat dia berkulak, kenaikan harga plastik ini akibat tersendatnya pasok energi minyak yang masuk ke Indonesia (impor). Hal itu karena kejadian perang yang tidak kunjung selesai di Timur Tengah.
“Iya (gara-gara) perang. Katanya kan biji plastik ini dibuatnya dari minyak bumi,” kata dia.
Kondisi lain yang menyulitkan nafas para pedagang plastik, juga disampaikan Mimin adalah terletak pada beban biaya penambahan modal kulak. Ia menceritakan, para pelanggan telah lebih dulu memborong persediaan plastik di tokonya sebelum harga plastik naik, sehingga pedagang yang telat menyadari akan ada kenaikan harga; harus tombok modal ketika kulak ke pabrik.
“Pertengahan puasa itu semua pelanggan datang beli plastik dengan jumlah banyak. Dan kami tidak tahu, kalau ternyata harga plastik akan bertambah mahal,” urainya.
Lebih lanjut, ia turut mengatakan kekhawatiranya sebagai ibu rumah tangga ketika harga plastik ini konsisten naik. Kenaikan itu akan berdampak pada harga kebutuhan bahan pokok dari pasar, seperti tahu dan tempe.
“Kalau harga plastik naik, harga lain-lainnya juga naik, harga tempe naik harga tahu naik mengikuti. Terus rakyat bagaimana kayak gini. Hidup rakyat malah ketekan terus ini,” paparnya.
Pedangang plastik toko lain, Maksum (48) juga mengungkapkan hal sama. Ia mengungkapkan bahwa lonjakan harga plastik yang signifikan terjadi tahun ini baru pertama kali dalam sejarah ia berdagang.
“Yang parah ya baru kali ini. Tahun ini naiknya sudah ugal-ugalan, ada yang naik Rp5 ribu, Rp7 ribu, bahkan Rp15 ribu. Omset naiknya juga tipis, tapi modal kulak harus ditambah,” tutup Maksum. (rma/but)