0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Harga Sarung Tangan Medis Melejit, Jadi Barang Langka di Pasar Asia Gegara Perang Iran - Tribunnews

    5 min read

     

    Harga Sarung Tangan Medis Melejit, Jadi Barang Langka di Pasar Asia Gegara Perang Iran

    Harga sarung tangan medis melonjak hingga 40 persen akibat perang Iran. Pasokan terganggu, layanan kesehatan di Asia terancam terdampak.

    TRIBUNNEWS.COM - Lonjakan harga sarung tangan medis mulai dirasakan di berbagai negara Asia seiring memanasnya konflik di Timur Tengah.

    Gangguan rantai pasok global membuat alat kesehatan penting semakin sulit diperoleh, memicu kekhawatiran akan krisis layanan medis dalam waktu dekat.

    Jepang menjadi salah satu negara yang paling merasakan dampaknya, terutama di tingkat klinik dan rumah sakit.

    Klinik-klinik di Jepang melaporkan kesulitan mendapatkan sarung tangan, jarum suntik, hingga selang infus. 

    Bahkan jika tersedia, harga yang melonjak membuat banyak fasilitas kesehatan tidak mampu membelinya.

    Menurut data yang dikumpulkan analis riset ekuitas CIMB Securities, Oong Chun Sung sebagaimana dikutip dari Financial Times, harga sarung tangan sintetis rata-rata naik sekitar 40 persen, mencapai 29 dolar AS setara Rp497.000 per kotak berisi 1.000 unit.

    Sementara produsen terbesar dunia, Top Glove, menyatakan sedang meneruskan kenaikan biaya produksi sekitar 50 persen yang dipicu oleh lonjakan harga bahan baku, terutama nitrile latex yang digunakan dalam sekitar 55 persen produk sarung tangan mereka.

    Hal serupa terjadi pada produsen Hartalega Holdings yang menyebutkan bahwa harga sarung tangan telah disesuaikan seiring meningkatnya biaya input, dan memperingatkan potensi gangguan pasokan global jika konflik berkepanjangan.

    Perusahaan Medtecs yang berbasis di Singapura dan Taiwan juga telah menaikkan harga produk medis seperti masker dan gaun bedah sebesar 10 persen hingga 40 persen, tergantung jenis produk.

    Kondisi ini berpotensi memaksa tenaga medis membatasi layanan kepada pasien, termasuk menunda tindakan medis dasar seperti suntikan dan infus. 

    Dalam skenario terburuk, beberapa klinik kecil terancam tidak dapat beroperasi secara optimal.

    Mengantisipasi terjadinya situasi itu, pemerintah Jepang bergerak cepat dengan menyiapkan langkah darurat.

    Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan rencana distribusi sekitar 50 juta sarung tangan medis dari cadangan pandemi. Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan di tengah meningkatnya permintaan dan keterbatasan distribusi.

    Namun, langkah tersebut dinilai hanya sebagai solusi jangka pendek. Sejumlah fasilitas kesehatan melaporkan bahwa stok alat medis mereka diperkirakan hanya cukup untuk satu hingga dua bulan ke depan jika situasi tidak segera membaik.

    Baca juga: Dampak Perang Iran, Eropa Diprediksi Hanya Punya Persediaan Bahan Bakar Jet untuk 6 Minggu Lagi

    Pasar Asia Ikut Terdampak

    Tak hanya di Jepang. Negara-negara Asia lainnya mulai mulai merasakan dampaknya. Bahkan di Korea Selatan, pemerintah telah mengeluarkan peringatan terkait potensi penimbunan dan praktik manipulasi harga.

    Langkah ini menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa kelangkaan bisa memicu perilaku “berebut” pasokan, meskipun kondisi belum sampai pada tahap krisis ekstrem seperti saat pandemi Covid-19.

    Sementara itu, Singapura juga meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan rantai pasok global, mengingat ketergantungannya pada impor bahan baku dan produk medis.

    Meski demikian, situasi saat ini lebih tepat disebut sebagai fase awal tekanan pasokan, bukan perebutan massal secara terbuka.

    Negara-negara di Asia masih berupaya mengendalikan situasi melalui kebijakan pembatasan pembelian, distribusi cadangan, serta pengawasan harga untuk mencegah kepanikan pasar.

    Perang Iran Jadi Pemicu

    Krisis ini tidak lepas dari terganggunya distribusi minyak dan naphtha, produk turunan minyak mentah asal  Teluk Persia yang digunakan dalam produksi plastik dan bahan petrokimia.

    Naphtha merupakan bahan baku penting dalam pembuatan berbagai produk, mulai dari cat, poliester, hingga komponen otomotif.

    Harga komoditas ini melonjak ke level tertinggi akibat terganggunya distribusi energi global, terutama setelah penutupan efektif Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

    Terganggunya jalur vital seperti Selat Hormuz membuat distribusi energi global tersendat, yang kemudian berdampak langsung pada industri manufaktur alat kesehatan di Asia.

    Para analis memperingatkan bahwa meskipun ada potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, dampak gangguan rantai pasok dan tekanan inflasi bisa bertahan berbulan-bulan setelah konflik berakhir.

    Namun, pengalaman pandemi COVID-19 membuat rumah sakit dan produsen sarung tangan kini memiliki persediaan cadangan untuk beberapa bulan, sehingga dapat meredam dampak jangka pendek.

    (Tribunnews.com / Namira)


    Komentar
    Additional JS