Indonesia Disebut Negara Muslim Paling Garang Lawan Israel, Ini Buktinya - Inilah
Indonesia Disebut Negara Muslim Paling Garang Lawan Israel, Ini Buktinya

Peneliti Keamanan Internasional Ulta Levenia Nababan dalam forum diskusi bertajuk “Legitimasi Publik atas Perang Amerika–Israel dan Iran” di Hotel Sari Pacific, Selasa (2/4/2026).(Foto: inilah.com/Vonita Betalia)
Peneliti Keamanan Internasional Ulta Levenia Nababan mengatakan Indonesia dinilai memiliki sikap paling tegas terhadap Israel dibandingkan negara-negara Muslim lainnya yang juga menyatakan dukungan terhadap Palestina.
Menurutnya, posisi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto berbeda dengan sejumlah negara Muslim lain yang telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
“Di antara negara-negara yang bergabung di BoP justru Presiden Prabowo yang paling kuat,” kata Ulta dalam forum diskusi bertajuk “Legitimasi Publik atas Perang Amerika–Israel dan Iran” di Hotel Sari Pacific, Selasa (2/4/2026).
Ulta menjelaskan sejumlah negara Arab telah menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords, meskipun secara politik tetap menyuarakan dukungan terhadap Palestina.
Abraham Accords berisi serangkaian perjanjian normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan beberapa negara Arab yang dimediasi oleh Amerika Serikat, dimulai pada tahun 2020.
Nama "Abraham" dipilih karena merujuk pada tokoh suci bersama dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam sehingga menjadi simbol persaudaraan ketiga agama Abrahamik. Negara-Negara yang telah menandatangani kesepakatan ini diantaranya Uni Emirat Arab (UAE), Bahrain, Sudan, dan Maroko.
“Negara-negara Arab saja yang sesama Sunni itu terikat dengan Abraham Accord 2020, normalisasi hubungan dengan Israel,” ucapnya.
Sementara itu, Ulta menegaskan Indonesia hingga kini tidak memiliki hubungan diplomatik maupun normalisasi dengan Israel. Sebab, Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif.
“Pak Prabowo sama sekali tidak ada hubungan diplomatik dengan Israel, kita tidak ada normalisasi hubungan dengan Israel,” ujarnya.
Di sisi lain, Ulta juga menyoroti dinamika dukungan terhadap Palestina di dalam negeri. Ia menyayangkan dukungan masih dipengaruhi polarisasi politik.
Pasalnya, jika publik Indonesia ingin memperjuangkan kemerdekaan Palestina secara lebih efektif, maka diperlukan sikap yang lebih solid dan tidak terpecah oleh kepentingan politik domestik.
“Tapi masalahnya adalah isu Palestina di Indonesia itu partisan. Ketika kita mendukung Palestina oposisi dari pemerintah lah ada suara yang wah kita zionis gitu,” tuturnya.