0
News
    Home Berita Featured Kasus Menteri PPPA Spesial

    Kecelakaan Kereta Bekasi, Menteri PPPA Usul Gerbong Khusus Perempuan Pindah ke Tengah - Liputan6

    3 min read

     

    Kecelakaan Kereta Bekasi, Menteri PPPA Usul Gerbong Khusus Perempuan Pindah ke Tengah

    Menteri PPPA minta letak gerbong wanita dievaluasi. Ia menyarankan gerbong wanita ada di tengah. (AP Photo/Fadlan Syam)

    Menteri PPPA Arifah Fauzi usul gerbong khusus perempuan pindah ke tengah usai kecelakaan kereta Bekasi.

    Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengunjungi korban insiden kecelakaan kereta api yang semalam terjadi di Bekasi, Jawa Barat.

    Usai kejadian semalam, Arifah menyinggung soal evaluasi penempatan gerbong khusus perempuan. Ia mengusulkan agar gerbong perempuan diletakkan di tengah. 

    “Kalau tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa (gerbong perempuan) ditaruh di paling depan dan paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah jadi yang laki-laki di ujung, yang depan belakang itu laki-laki jadi yang perempuan di tengah,” kata Arifah di RSUD Bekasi, Selasa (28/4/2026).

    Terkait korban, Arifah mengatakan tidak hanya perempuan, ada pula laki-laki. Di gerbong perempuan, memang kebanyakan korban adalah perempuan. Sementara, korban laki-laki merupakan penumpang di gerbong tiga, ada pula penumpang dari Argo Bromo.

    “Saya kaget kok korbannya ada yang laki-laki, oh ternyata mereka ada di gerbong tiga dan ada yang dari Argo Bromo,” jelasnya.

    Arifah melaporkan kondisi rata-rata korban yang selamat ada yang mengalami memar dan patah tulang.

    “Dari korban, rata-rata kondisinya ada yang memar-memar tapi juga ada yang patah di beberapa bagian. Kami menyampaikan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas kejadian ini dan dari PT KAI sudah menyampaikan akan menanggung seluruh biaya,” kata Arifah.

    Pemulihan Psikologis Korban

    Dia menambahkan, pihaknya berupaya melakukan pemulihan psikologis karena ada korban yang mengalami trauma dan memerlukan pendampingan lebih khusus.

    “Bagi mereka yang sebagai pekerja, kami berupaya agar perusahaan di mana mereka bekerja bisa memberikan keringanan sampai mereka pulih baru bisa masuk lagi ke tempat kerja. Ini yang akan kita upayakan bersama, mudah-mudahan ini bisa dilakukan oleh beberapa perusahaan,” ujarnya.

    “Tadi ada salah satu perusahaan juga yang sudah hadir, kita bertemu langsung dan kami menyampaikan tolong si korban ini sampai benar-benar pulih kemudian hak-hak sebagai pekerjanya dipenuhi dan begitu sehat bisa kembali kerja semula,” pungkasnya.

    Komentar
    Additional JS