Dianggap Sensitif di Sejumlah Daerah, Film "Pesta Babi" Jadi Materi Kuliah di FISIP Unej - Kompas
Dianggap Sensitif di Sejumlah Daerah, Film "Pesta Babi" Jadi Materi Kuliah di FISIP Unej
JEMBER, KOMPAS.com - Di tengah maraknya pembubaran dan pelarangan pemutaran film dokumenter "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" di sejumlah daerah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (Unej), Jawa Timur, justru membawa film itu masuk ke ruang akademik.
Film yang mengangkat isu kolonialisme modern dan konflik pembangunan di Papua itu diputar dalam format kuliah tamu pada mata kuliah Media dan Komunikasi Politik Global di Aula FISIP Unej, Sabtu, 23 Mei 2026.
Langkah tersebut bukan sekadar kegiatan nonton bareng (nobar), melainkan strategi akademik agar diskusi mengenai film tetap bisa berlangsung di tengah situasi yang dianggap sensitif.
Dosen pengampu mata kuliah sekaligus penggagas kegiatan, Muhammad Iqbal, mengatakan bahwa film dokumenter tersebut dipilih karena dinilai relevan dengan pembelajaran komunikasi politik global.
Cerita WNI Disiksa di Kapal Penjara Israel: Tapi Tak Sebanding Penderitaan Warga Palestina
“Mahasiswa jangan hanya membaca teori atau konsep-konsep komunikasi politik saja, tapi juga memahami bagaimana pesan politik disampaikan melalui film dokumenter,” kata Iqbal.
Baca juga: SPPG Sumbersari 2 Jember Terbakar, Distribusi MBG Dihentikan Sementara
Menurut dia, film dokumenter yang disutradarai Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale itu bukan hanya medium visual, tetapi juga sarat makna komunikasi politik, terutama ketika membahas keterlibatan aktor-aktor global dalam isu Papua.
Iqbal menyebut, fenomena pembubaran ajang nonton bareng (nobar) di berbagai daerah justru memperlihatkan kuatnya pesan yang dibawa film tersebut.
“Ketika gagasan ini diwujudkan lewat acara kuliah tamu ternyata di luar sana terjadi represi terhadap pihak-pihak yang mengadakan nobar yang sama,” ujarnya.
Dia mengakui format kuliah tamu dipilih sebagai langkah strategis agar kegiatan memiliki legitimasi akademik yang kuat.
“Di tengah banyaknya pemberitaan soal pembubaran nobar dan larangan dari pihak kampus lain, kami mencoba membalutnya dengan kuliah tamu. Karena siapapun yang memaksa menghentikan kuliah, itu bukan hanya pelanggaran moral, tapi juga melanggar otonomi kampus,” kata Iqbal.
Baca juga: Nobar Pesta Babi di Kampus, Senator Filep Wamafma: Ini Gambaran Nyata Persoalan di Papua
Dijadikan Bagian Mata Kuliah
Kuliah tamu yang menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa Hubungan Internasional melalui pemutaran film dan diskusi itu didorong agar mahasiswa bisa menganalisis isu ketimpangan, kolonialisme modern, keamanan lingkungan, hingga konflik pembangunan berbasis perspektif global.
FISIP Unej juga mengaitkan kegiatan tersebut dengan capaian pembelajaran akademik, termasuk melatih mahasiswa menyusun ide penelitian ilmiah secara kritis dan etis.
Iqbal mengatakan, pihak dekanat FISIP sejak awal justru mendukung penuh penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Dekanat malah menyarankan agar dicantolkan ke mata kuliah supaya bisa difasilitasi secara institusi,” ujarnya.
Fasilitas yang diberikan, menurut dia, mulai dari sarana pemutaran film, transportasi dan akomodasi narasumber, hingga honorarium pembicara tamu dari Surabaya.
Baca juga: Kodam Cenderawasih Nilai Film Pesta Babi Berpotensi Mengganggu Keharmonisan di Papua
AS Vs China Memanas di Luar Angkasa, SpaceX Luncurkan V3 Saat Beijing Siapkan Shenzhou-23