0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Kelapa Sawit Spesial

    Harga TBS Kelapa Sawit di Berbagai Wilayah Sumatra Mengalami Penurunan - Media Perjuangan

    4 min read

     

    Harga TBS Kelapa Sawit di Berbagai Wilayah Sumatra Mengalami Penurunan

    Ilustrasi TBS Kelapa sawit di Sumatera Barat. ANTARA/Iggoy el Fitra

    Harga tandan buah segar atau TBS kelapa sawit kemitraan plasma di Provinsi Riau, Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan kompak mengalami penurunan pada periode akhir Mei 2026 akibat koreksi harga minyak sawit mentah atau CPO di pasar global. Meski demikian, harga TBS untuk petani swadaya di Riau dan Sumatra Utara justru menunjukkan tren peningkatan yang cenderung stabil.

    Dinas Perkebunan Provinsi Riau menetapkan harga pembelian TBS petani mitra plasma periode 20 hingga 26 Mei 2026 turun sebesar Rp33,56 per kilogram untuk kelompok umur 9 tahun. Penurunan harga ini membuat harga jual komoditas tersebut menjadi Rp3.866,90 per kilogram dengan indeks K yang digunakan sebesar 93,30 persen.

    "Dengan harga cangkang sebesar Rp 19,15/Kg. Pada periode ini indeks K yang dipakai adalah 93.30%, harga penjualan CPO minggu ini turun sebesar Rp 343,18 dan kernel minggu ini turun sebesar Rp 308,72 dari minggu lalu," kata Supriadi, Kepala Dinas Perkebunan Riau.

    Menurut Supriadi, fluktuasi harga ini dipengaruhi oleh ketiadaan transaksi penjualan di beberapa pabrik kelapa sawit atau PKS. Berdasarkan regulasi Permentan Nomor 13 Tahun 2024 Pasal 16, jika validasi kedua terpenuhi, maka acuan yang digunakan adalah harga rata-rata CPO KPBN senilai Rp15.191,67 per kilogram dan harga kernel KPBN sebesar Rp14.828,00 per kilogram.

    "Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa harga TBS yang ditetapkan oleh tim untuk mitra plasma mengalami penurunan. Penurunan harga minggu ini lebih disebabkan karena faktor turunnya harga CPO dan kernel," papar Supriadi.

    Supriadi menambahkan bahwa tim penetapan harga dari Dinas Perkebunan Riau terus membenahi sistem tata kelola agar regulasi ini memberikan asas keadilan bagi seluruh pihak terkait. Sinergi ini dijalankan bersama Pemerintah Provinsi Riau serta Kejaksaan Tinggi Riau demi menjaga stabilitas pendapatan petani setempat.

    "Membaiknya tata kelola penetapan harga ini merupakan upaya yang serius dari seluruh stakeholder yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Riau dan Kejaksaan Tinggi Riau. Komitmen bersama ini pada akhirnya tentu akan berimbas pada peningkatan pendapatan petani yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat," ujar Supriadi.

    Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau, Vera Virgianti menjelaskan, nasib berbeda dialami oleh petani swadaya di wilayah tersebut karena harga kelapa sawitnya justru naik tipis 0,64 persen menjadi Rp3.857,14 per kilogram. Perbedaan tren ini disebabkan oleh pergerakan harga komoditas pendukung kelapa sawit yang bervariasi.

    "Kenaikan harga pekan ini lebih disebabkan oleh naiknya harga kernel, meski harga CPO (crude palm oil) mengalami penurunan," kata Vera Virgianti.

    Menurut laporan Vera Virgianti, harga minyak sawit mentah mengalami depresiasi sebesar Rp29,63 per kilogram menuju angka Rp15.191,67 per kilogram dari pekan sebelumnya. Di sisi lain, harga kernel kelapa sawit swadaya mengalami apresiasi sebesar Rp4 per kilogram sehingga menyentuh harga Rp14.828,00 per kilogram.

    "Membaiknya tata kelola penetapan harga ini merupakan upaya yang serius dari seluruh pemangku kepentingan yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Riau dan Kejaksaan Tinggi Riau. Komitmen bersama ini pada akhirnya tentu akan berimbas pada peningkatan pendapatan petani yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat," sebut Vera Virgianti.

    Kondisi penurunan harga juga melanda Sumatra Barat dan Sumatra Selatan. Tim penetapan harga TBS Provinsi Sumatra Barat menyepakati harga sawit umur 10 hingga 20 tahun turun sebesar Rp23,4 per kilogram menjadi Rp3.998,76 per kilogram untuk periode 15 sampai 21 Mei 2026. Di Sumatra Selatan, harga TBS sawit usia produktif menyusut dari Rp3.898 per kilogram pada periode I Mei menjadi Rp3.864 per kilogram pada periode II Mei 2026.

    "Secara sederhana memang dolar mempengaruhi harga TBS, tapi itu bukan penentu satu-satunya. Harga acuan CPO di pasar global saat ini, seperti Bursa Malaysia dan Rotterdam sedang turun," kata M Ichwansyah, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Sumatra Selatan pada Kamis, 21 Mei 2026.

    Ichwansyah menguraikan bahwa pelemahan harga kelapa sawit ini berkaitan erat dengan berkurangnya volume permintaan dari pasar internasional, khususnya Uni Eropa dan Tiongkok. Sejumlah negara importir dilaporkan mulai beralih memprioritaskan minyak nabati alternatif yang lebih murah seperti minyak kedelai.

    "Jadi meskipun dolar menguat, dampaknya tidak terlalu terasa terhadap harga TBS karena harga CPO dunia justru turun," ujar Ichwansyah.

    Faktor logistik internal berupa penumpukan muatan di tangki timbun pelabuhan ekspor turut menahan laju kenaikan harga domestik dalam jangka pendek. Meski demikian, Ichwansyah menegaskan kesejahteraan para petani kelapa sawit di Sumatra Selatan masih terproteksi berkat kenaikan persentase indeks K.

    "Artinya, meskipun harga TBS sedikit turun tetapi bagian harga yang diterima petani cenderung meningkat," tutup Ichwansyah.

    Berbeda dengan wilayah lainnya, Dinas Perkebunan Sumatra Utara melaporkan harga pembelian TBS swadaya tertinggi berkisar antara Rp3.140 hingga Rp3.410 per kilogram pada pekan ini, naik dibandingkan periode lalu yang berada di rentang Rp3.100 hingga Rp3.410 per kilogram. Kabupaten Serdang Bedagai mencatatkan harga pembelian TBS swadaya tertinggi sebesar Rp3.410 per kilogram, disusul Kabupaten Padang Lawas sebesar Rp3.380 per kilogram, sedangkan harga terendah berada di Kabupaten Padang Lawas Utara senilai Rp3.005 per kilogram.

    Komentar
    Additional JS