0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Ilmu Pengetahuan IPTEK Juara Spesial

    Ilmuwan Klaim Sukses Tetaskan Ayam Tanpa Cangkang Telur Alami - Times Indonesia

    4 min read

     

    Ilmuwan Klaim Sukses Tetaskan Ayam Tanpa Cangkang Telur Alami

    A-AA+

    JAKARTA – Upaya menghidupkan kembali spesies punah kini memasuki fase yang semakin ambisius. Perusahaan bioteknologi Colossal Biosciences mengklaim berhasil mengembangkan sistem telur buatan yang mampu menetaskan anak ayam sehat tanpa menggunakan cangkang alami. Teknologi ini disebut menjadi langkah penting menuju proyek “de-extinction” atau kebangkitan hewan punah seperti burung dodo dan moa raksasa dari Selandia Baru.

    Perusahaan berbasis di Texas, Amerika Serikat itu pada 19 Mei 2026 mengumumkan keberhasilan menetaskan 26 ayam sehat melalui sistem yang mereka sebut sebagai “Colossal artificial egg”.

    Dikutip dari Nat Geo, CEO sekaligus pendiri Colossal, Ben Lamm, menyebut teknologi tersebut bukan sekadar meniru telur alami, tetapi merekayasa ulang fungsi biologisnya agar sesuai kebutuhan penelitian dan rekayasa genetika modern.

    Klaim itu langsung menarik perhatian dunia sains. Dalam beberapa dekade terakhir, para ilmuwan memang berupaya menciptakan sistem inkubasi buatan untuk embrio burung, tetapi sebagian besar menghadapi keterbatasan serius, terutama terkait pertukaran oksigen, kelembapan, hingga tingkat keberhasilan penetasan yang rendah.

    Tantangan Meniru Kesempurnaan Cangkang Telur

    Bagi ilmuwan evolusi dan biologi perkembangan, telur burung merupakan salah satu struktur biologis paling kompleks di alam. Cangkang telur harus cukup kuat menopang induk, tetapi tetap cukup rapuh agar anak burung bisa memecahkannya saat menetas. Di saat yang sama, telur juga harus mampu menjaga kelembapan, melindungi embrio dari bakteri, sekaligus memungkinkan oksigen masuk secara stabil.

    Ahli biologi evolusi dari University at Buffalo, Vincent Lynch, menyebut pencapaian Colossal cukup mengesankan jika benar sesuai klaim perusahaan. Menurutnya, desain membran sintetis yang mampu meniru fungsi cangkang telur merupakan lompatan penting dalam bioteknologi.

    Colossal mengembangkan membran berbasis silikon yang ditempatkan dalam wadah heksagonal kaku sebagai penopang. Material semi-permeabel itu diklaim memungkinkan pertukaran gas berjalan efektif seperti telur alami tanpa memerlukan tambahan oksigen berlebih yang berisiko merusak DNA embrio.

    Sistem ini juga dilengkapi jendela transparan sehingga ilmuwan dapat memantau perkembangan embrio secara langsung. Perusahaan bahkan mengklaim ukuran telur buatan dapat disesuaikan, mulai dari telur kecil seukuran burung kolibri hingga telur raksasa seperti milik moa purba yang tingginya diperkirakan mencapai hampir 12 kaki.

    Jalan Panjang Menuju Kebangkitan Burung Punah

    Meski terdengar revolusioner, banyak ilmuwan mengingatkan bahwa teknologi tersebut baru menyelesaikan satu bagian kecil dari tantangan besar rekayasa spesies punah.

    Genetikus molekuler yang pernah bekerja di Departemen Pertanian Amerika Serikat, Hans Cheng, menilai rekayasa genetika pada burung jauh lebih rumit dibanding mamalia. Pada mamalia, embrio bisa dimodifikasi sejak tahap awal sebelum ditanamkan ke rahim induk pengganti. Sementara pada burung, perkembangan embrio dan pembentukan telur terjadi bersamaan di dalam tubuh induk.

    Artinya, untuk menghasilkan burung yang memiliki DNA spesies punah seperti dodo, para ilmuwan harus memodifikasi sel reproduksi jauh sebelum telur terbentuk. Tantangan teknis inilah yang selama ini membuat rekayasa genetika unggas berkembang jauh lebih lambat dibanding mamalia.

    Colossal sebelumnya juga mengumumkan keberhasilan mengultur primordial germ cells dari merpati batu, spesies yang dianggap memiliki kedekatan genetik dengan Dodo. Burung Nicobar pigeon disebut berpotensi menjadi induk pengganti dalam proyek tersebut.

    Untuk proyek moa raksasa, perusahaan masih mencari spesies yang cocok sebagai “surrogate”, dengan emu dan tinamou disebut sebagai kandidat potensial. Namun karena ukuran moa dewasa jauh lebih besar dibanding burung modern, embrio nantinya diperkirakan harus dipindahkan ke sistem telur buatan di tahap tertentu.

    Antara Ambisi Ilmiah dan Kritik Konservasi

    Meski menuai sorotan besar, klaim Colossal masih menyisakan tanda tanya. Hingga kini perusahaan belum merilis publikasi ilmiah peer-review maupun data lengkap terkait tingkat keberhasilan penetasan mereka.

    Selain itu, sejumlah ilmuwan konservasi menilai teknologi ini belum tentu menjadi solusi utama bagi krisis keanekaragaman hayati. Ekolog dari Duke University, Stuart Pimm, menilai ancaman terbesar burung modern saat ini tetap berasal dari hilangnya habitat, tabrakan dengan bangunan, serta predator seperti kucing liar.

    Namun di sisi lain, teknologi telur sintetis tetap dinilai memiliki potensi besar untuk riset biologi dan konservasi. Sistem dengan jendela transparan dapat membantu ilmuwan mempelajari pembentukan organ, pembuluh darah, dan perkembangan embrio secara lebih detail dibanding telur alami.

    Colossal sendiri menyebut teknologi ini suatu hari nanti bisa dipakai membantu spesies burung terancam punah agar lebih tahan terhadap perubahan iklim atau penyakit tertentu. Namun untuk mencapai tahap tersebut, rekayasa genetika avian masih menjadi tantangan terbesar yang belum sepenuhnya terpecahkan. (*)

    Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
    Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
    Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

    Komentar
    Additional JS