Kenapa 1 Mei Diperingati sebagai Hari Buruh? Ini Asal-usulnya - Kompas
Kenapa 1 Mei Diperingati sebagai Hari Buruh? Ini Asal-usulnya
JAKARTA, KOMPAS.com — Setiap 1 Mei, jutaan pekerja di berbagai belahan dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day.
Namun di balik peringatan yang kini berlangsung setiap tahun itu, tersimpan sejarah panjang perjuangan kelas pekerja yang berakar dari tragedi di Chicago, Amerika Serikat.
Di Indonesia, peringatan May Day 2026 turut digelar meriah di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Jumat (1/5/2026).
Sejak pagi, kawasan sekitar Monas sudah dipadati bus pengangkut massa buruh dari berbagai daerah.
Kapal Induk AS Gerald Ford Segera Tinggalkan Timur Tengah, Apa Alasannya?
Baca juga: Cuaca Jakarta 1 Mei 2026: Hujan Ringan di Semua Wilayah, Kelembapan Tinggi Sepanjang Hari
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) sekaligus Ketua Panitia May Day, Andi Gani Nena Wea, mengatakan jumlah peserta aksi tahun ini mencapai sekitar 400.000 orang.
Ia juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir dalam acara yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut.
"Presiden tiba disambut ketua panitia May Day bersama pimpinan buruh lainnya," ujar Andi Gani saat dikonfirmasi Kompas.com lewat pesan singkat, Kamis (30/4/2026).
Padat sejak pagi
Sejak dini hari, arus kendaraan di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, mulai tersendat akibat padatnya bus rombongan buruh.
Pantauan Kompas.com di lokasi pada pukul 06.45 WIB menunjukkan kemacetan mengular dari kawasan Bundaran Patung Kuda hingga arah Monas.
Baca juga: Hari Buruh 2026 1 Mei: Ganjil Genap Ditiadakan, Semua Mobil Bebas Melintas
Bus-bus besar tampak memenuhi hingga tiga lajur jalan. Sejumlah kendaraan bahkan berhenti untuk menurunkan penumpang agar massa bisa langsung berjalan menuju lokasi aksi.
“Bus-bus besar ini mau cari parkir buat ke acara itu buruh,” kata salah satu pengendara, Jojali (46), yang terjebak kemacetan hampir 20 menit.
Sementara itu, petugas kepolisian dan TNI tampak berjaga di sekitar lokasi untuk mengatur arus lalu lintas. Polisi juga mengingatkan pengendara agar tidak parkir sembarangan di bahu jalan.
Baca juga: Tak Jadi di DPR, KSPI Bakal Rayakan May Day 2026 Bersama Prabowo di Monas
“Bagi kendaraan yang terparkir di pinggir jalan, akan kami derek,” ucap seorang polisi wanita melalui pengeras suara.

Lihat Foto
Sejarah panjang di balik 1 Mei
Di tengah hiruk-pikuk peringatan May Day hari ini, 1 Mei sejatinya bukan sekadar hari libur atau seremoni tahunan.
Dikutip dari Kompas.com, tanggal ini lahir dari perjuangan panjang buruh di masa lalu yang penuh tekanan dan pengorbanan.
Pada abad ke-19 di Amerika Serikat, para pekerja dipaksa bekerja hingga 18 hingga 20 jam per hari dalam kondisi yang sangat berat.
Situasi itu mendorong lahirnya tuntutan besar untuk menetapkan delapan jam kerja sebagai standar.
Baca juga: 6.678 Personel Gabungan Jaga Hari Buruh di Gedung DPR, Perusuh Bakal Diamankan
Pada tahun 1884, Federasi Serikat Dagang dan Buruh Terorganisasi (FOTLU) mencetuskan tuntutan bahwa “delapan jam harus menjadi hari kerja yang sah mulai 1 Mei 1886”.
Tuntutan itu kemudian memicu gelombang aksi besar.
Pada 1 Mei 1886, lebih dari 300.000 buruh turun ke jalan di Amerika Serikat.
Baca juga: Said Iqbal: 50.000 Buruh dari KSPI Akan Rayakan May Day 1 Mei 2026 di Monas
Di Chicago saja, sekitar 40.000 orang melakukan mogok kerja yang kemudian meluas hingga hampir 100.000 orang.
Haymarket, luka yang mengubah sejarah
Namun perjuangan itu tidak berjalan damai sepenuhnya.
Ketegangan memuncak dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Kerusuhan Haymarket.
Pada 4 Mei 1886 di Haymarket Square, sebuah ledakan bom saat aksi berlangsung menyebabkan korban jiwa dari pihak polisi dan warga sipil.
Sedikitnya 7 polisi dan 8 warga sipil tewas, serta puluhan lainnya luka-luka.
Baca juga: May Day 2026, Buruh Padati Panggung Utama di Monas Pakai Kaus Bergambar Garuda
Meski pelaku pengeboman tidak pernah teridentifikasi jelas, delapan aktivis buruh tetap ditangkap. Empat di antaranya kemudian dieksekusi mati.
Peristiwa ini menjadi titik balik besar dalam sejarah gerakan buruh dunia.
Dari Chicago ke seluruh dunia
Sebagai bentuk penghormatan, Kongres Internasional Buruh di Paris pada 1889 menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional.
Baca juga: 11 Tuntutan KSPI di May Day: Hapus Outsourcing hingga Angkat Guru Honorer
Sejak 1890, May Day diperingati di berbagai negara sebagai simbol solidaritas pekerja.
Di Indonesia sendiri, peringatan ini telah dikenal sejak 1 Mei 1918 di Surabaya, sempat dilarang pada masa Orde Baru, lalu kembali diakui dan akhirnya ditetapkan sebagai hari libur nasional pada 2013.
Kini, lebih dari satu abad setelah tragedi di Chicago, May Day tetap menjadi pengingat bahwa di balik setiap peringatan, ada sejarah panjang perjuangan, termasuk di jalanan Jakarta hari ini, ketika ribuan pekerja kembali menyuarakan hak dan harapan mereka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang