0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bahasa Perancis Berita China Dunia Internasional Featured P2G Pendidikan Prabowo Subianto Spesial

    Kritik P2G soal Prabowo Ingin Ada Mapel Bahasa Prancis: Nanti Kunjungan ke Tiongkok, Wajib Mandarin - Tribunnews

    6 min read

     

    Kritik P2G soal Prabowo Ingin Ada Mapel Bahasa Prancis: Nanti Kunjungan ke Tiongkok, Wajib Mandarin

     


    Ringkasan Berita:
    • P2G mengkritik instruksi dari Prabowo agar setiap jenjang sekolah mengajarkan Bahasa Prancis
    • Instruksi Prabowo itu dianggap hanya basa-basi politik. Nantinya, ada instruksi baru terkait pembelajaran bahasa asing berdasarkan kunjungan Prabowo ke negara lainnya.
    • Jika diimplementasikan, P2G mengatakan perlu ratusan ribu guru bahasa asing.

    TRIBUNNEWS.COM - Instruksi Presiden Prabowo Subianto agar sekolah di Indonesia mengajarkan Bahasa Prancis dikritik oleh Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G).

    Diketahui, instruksi tersebut disampaikan Prabowo saat lawatannya ke Prancis bertemu dengan Presiden Emmanuel Macron pada Kamis (28/5/2026).

    Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim mengkritik instruksi Prabowo tersebut dan dianggapnya sebagai basa-basi diplomatik antar negara.

    Pasalnya, ia mengatakan belum ada alasan dan sebab yang jelas dari Prabowo terkait instruksi tersebut.

    Dia pun lantas menyindir Prabowo yang dimungkinkan akan memberikan instruksi serupa untuk ketika melakukan kunjungan ke negara lain.

    "Nanti kalau Presiden Prabowo pertemuan bilateral lagi dengan Jepang, akan memasukkan bahasa Jepang ke kurikulum. Bertemu Tiongkok, lalu akan menjadikan bahasa Mandarin pelajaran wajib."

    "Begitu juga pulang dari Belanda, lantas Presiden akan wajibkan pelajaran Bahasa Belanda," katanya pada Jumat (29/5/2026).

    Baca juga: Prabowo Minta Sekolah Ajarkan Bahasa Prancis, RI Masih Minus Ratusan Ribu Guru

    Satriwan menegaskan bahwa sistem pendidikan tidak serta merta bisa berubah sesuai keinginan tanpa adanya perencanaan yang matang.

    "Tentu mengelola pendidikan tidak bisa sebercanda ini," katanya singkat.

    Cuma Tambahi Beban Siswa dan Guru

    Di sisi lain, Satriwan mengatakan pemerintah tidak serta merta bisa membuat kebijakan terkait sistem pendidikan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

    Menurutnya, diwajibkannya bahasa Prancis bukan prioritas yang harus diimplementasikan ketika merujuk pada RJMN tersebut.

    Termasuk, tentang instruksi Prabowo untuk diwajibkannya ada mapel Bahasa Portugis yang disampaikannya ketika kunjungan ke Brasil beberapa waktu lalu.

    Jika tetap diimplementasikan, Satriwan menganggap instruksi tersebut hanya membebani murid dan guru. 

    Pasalnya, struktur kurikulum nasional saat ini masih relatif padat dengan mapel yang sudah ada.

    Dia memperkirakan butuh ratusan ribu guru Bahasa Prancis maupun Portugis untuk mengimplementasikan instruksi Ketua Umum Gerindra tersebut.

    "Dengan asumsi 1 sekolah ada 2 guru Prancis dan Portugis, dari total sekitar 240 ribu sekolah SD-SMA/sederajat, maka dibutuhkan 480 ribu guru bahasa asing tersebut," katanya.

    "Yang akan terjadi di sekolah nanti adalah guru mata pelajaran lain yang akan mengajar pelajaran bahasa Prancis dan Portugis. Ini jelas menyalahi prinsip profesionalitas dan beban baru bagi guru," sambung Satriwan.

    Baca juga: Komisi X DPR Bakal Minta Penjelasan Kemendikdasmen soal Wacana Bahasa Prancis bagi Pelajar

    Lebih lanjut, Satriwan mengatakan bahwa Bahasa Prancis sudah ditetapkan sebagai mapel pilihan bersama bahasa asing lain seperti Arab, Jepang, Korea, Mandarin, dan Jerman.

    Dia menjelaskan pada bulan ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bakal meluncurkan program sertifikasi terkait pembelajaran bahasa asing.

    "Mei 2026 ini Kemdikdasmen berencana meluncurkan Program Sertifikasi Bahasa Asing Non-Bahasa Inggris yang mencakup Bahasa Arab, Mandarin, Jepang, Korea, Jerman, dan Prancis. Skema ini telah dibuka dan menjangkau lebih dari 120 SMK dengan sasaran 13 ribu siswa," katanya.

    Prabowo Sebut Sudah Instruksikan Sekolah Ajarkan Bahasa Prancis

    Sebelumnya, Prabowo mengungkapkan sudah menginstruksikan kepada seluruh sekolah di Indonesia agar mengajarkan Bahasa Prancis kepada Siswa.

    Dia menyebut hal itu perlu dilakukan mengacu pada masa depan dunia.

    "Sekarang saya sudah menginstruksikan bahwa semua tingkatan sekolah di Indonesia harus belajar bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan," kata Prabowo saat berpidato dalam kunjungan di Istana Kepresidenan Elysee, Paris, pada Kamis (28/5/2026).

    Pernyataan itu disampaikannya di depan Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

    Baca juga: RI-Prancis Bentuk Dewan Bisnis, Target Dagang Naik 3 Kali Lipat

    Lebih lanjut, Prabowo mengungkapkan hubungan indonesia dan Prancis berada pada tingkat terbaik. Ia pun berterima kasih kepada Macron atas hubungan baik antar dua negara selama ini.

    "Saya sempat menyampaikan kepada Yang Mulia bahwa hubungan Indonesia dan Prancis berada pada tingkat terbaik selama ini. Kami berterima kasih dan menghormati kepemimpinan Yang Mulia Presiden Macron," katanya.

    Selain itu, Prabowo juga memuji kepemimpinan Macron di dunia internasional. Menurutnya, ada beberapa kesamaan sikap antara Indonesia dan Prancis.

    "Kepemimpinan Presiden Macron di dunia internasional sangat terasa. Presiden Macron selalu berani mengambil sikap yang positif, sikap yang tegas, sesuai prinsip-prinsip yang dipegang oleh Republik Prancis. Dalam beberapa hal, Indonesia dan Prancis memiliki sikap yang sama," katanya.

    (Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto/Fahdi Fahlevi)

    Komentar
    Additional JS