'Senggol' Proyek Ketahanan Pangan di Papua, Pakar Tuding Film Pesta Babi Adalah Propaganda - Inilah
'Senggol' Proyek Ketahanan Pangan di Papua, Pakar Tuding Film Pesta Babi Adalah Propaganda
Sabtu, 23 Mei 2026 - 06:09 WIB
Share
Panen padi di lahan cetak sawah demplot di Kampung Wanam, Papua Selatan. (Foto: Dok. Satgas Ketahanan Pangan).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
KecilBesar
Tidak semua sepakat bahwa film dokumenter bertajuk Pesta Babi yang disutradarai Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale menyuarakan aspirasi murni warga Papua. Apalagi, isi film tersebut dinilai menyerang program ketahanan pangan dan energi yang justru berdampak positif bagi perekonomian serta kemajuan Papua.
Pakar Kebijakan Publik Universitas Trisakti (Usakti), Prof. Trubus Rahardiansah, menilai film tersebut sebagai bentuk propaganda yang berpotensi memicu perpecahan. "Itu propaganda yang lebih bersifat diskriminatif, memecah belah bangsa," kata Trubus kepada Inilah.com di Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Menurut Harold Dwight Lasswell yang dijuluki “bapak komunikasi dunia”, propaganda adalah teknik memengaruhi tindakan manusia dengan memanipulasi representasi. Representasi ini bisa berupa kata-kata, gambar, atau simbol-simbol lainnya.
Trubus menyebut, kebijakan dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tentunya sudah melalui kajian yang mendalam. Termasuk program ketahanan pangan dan energi, memiliki tujuan yang jelas, yakni mendorong kesejahteraan masyarakat Papua dan memperkuat perekonomian daerah.
"Kalau tidak ada PSN (Program Strategis Nasional), Papua akan sulit maju. Yakin itu. Karena perlu anggaran besar maka pemerintah menunjuk mitra strategis untuk menjalankan PSN di sana," imbuhnya.
Dia juga mempertanyakan sumber pendanaan serta pihak-pihak yang terlibat di balik produksi film Pesta Babi. Menurutnya, nuansa politik dalam film tersebut terasa kuat.
"Bisa saja tujuannya untuk mendiskreditkan apa yang dikerjakan pemerintah saat ini. Itu kan enggak fair dan mencurigakan. Mosok isinya menyalahkan semua," tandasnya.
Trubus kemudian mencontohkan proyek PSN Food Estate Merauke yang dirancang tidak hanya untuk menopang ketahanan pangan nasional tetapi juga menggerakkan perekonomian lokal.

Kehadiran investor di Papua, menurut dia, turut membuka keterisolasian wilayah dan menciptakan dampak ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat. Salah satu contohnya terlihat di Kampung Wanam, Merauke.
Dulu, sebagian warga di kampung tersebut belum akrab dengan teknologi pertanian modern. Kini, mereka mulai terlibat dalam program cetak sawah sejuta hektare dan bekerja di sektor pertanian.
Kehadiran PSN Food Estate di Wanam juga disebut membuka lapangan kerja baru bagi warga setempat yang sebelumnya kesulitan memperoleh penghasilan tetap.
Salah satunya Paul Tinus, pemuda berusia 29 tahun yang tinggal di rumah papan sederhana di Wanam. Dalam dua tahun terakhir, Paul bekerja di proyek PSN Merauke yang lokasinya tidak jauh dari kampungnya.
Dia mengatakan, sejumlah warga Kampung Wanam ikut terlibat sebagai pekerja di proyek tersebut. Sebelum bergabung, Paul bekerja sebagai pelaut dengan penghasilan yang bergantung pada hasil tangkapan ikan. "Kalau cuaca tidak mendukung atau solar tidak terbeli, ya tidak ada penghasilan," ujarnya.
Sejak bekerja di proyek PSN, kehidupan Paul mulai berubah. Dia mengaku kini memiliki penghasilan tetap setiap bulan. “Ekonomi keluarga saya menjadi sangat terbantu," papar Paul.
Kepala Kampung Wanam, Kosmas Serilius, juga mengaku bersyukur atas keberadaan proyek PSN di wilayahnya. Dari total 743 jiwa penduduk Kampung Wanam, sebagian besar disebut bekerja di proyek tersebut.
0 suka
0 bookmark
![]()
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Share



