Sepenggal Kisah dari Pulau Buru: Berkurban tanpa Memandang Perbedaan - Liputan6
Sepenggal Kisah dari Pulau Buru: Berkurban tanpa Memandang Perbedaan
Daging yang sudah disembelih, dibagikan merata pada warga. Termasuk warga nonmuslim. Semua warga dapat menikmati santapan daging kurban tanpa terkecuali.
Advertisement
Liputan6.com, Jakarta - 50 Tahun lalu, Pulau Buru, Maluku, terdengar begitu menyeramkan. Pesona alamnya tersapu cerita kelam sulit dilupakan. Pulau ini digunakan pemerintah orde baru sebagai tempat pembuangan bagi tahanan politik yang dituduh terlibat peristiwa G30S/PKI. Dari berbagai arsip sejarah, jumlah total tahanan diperkirakan mencapai 11.600 orang.
Tetapi kini, semua sudah berubah. Pulau Buru tak ubahnya kehidupan di banyak daerah pada umumnya. Setiap hari besar keagamaan atau kenegeraan semua warga kampung ikut merayakan. Seperti momen Idul Adha tahun ini.
Advertisement
Rintik hujan menyambut kami malam itu. Laju iringan mobil berhenti tepat di bibir aliran Sungai Waigereng, Kecamatan Fena Leisela, Kabupaten Pulau Buru, Maluku. Suasana gelap dan sepi. Hanya arus sungai dangkal yang memecah keheningan.
Advertisement
Sungai Waengura memisah Desa Wamana Lama dan Wamana Baru, meski berada di satu kecamatan. Airnya sangat jernih. Sungai itu menjadi satu-satunya jalur lalu lintas warga di dua kampung tersebut. Sebagai penghubung, warga lokal membuat rakit dari kaleng secara swadaya yang bisa mengangkut penduduk dan kendaraan roda dua. Dalam hitungan satu menit, sudah berpindah ke desa seberang.
Setibanya di bibir sungai kampung Wamana Baru, gema takbir menyambut Idul Adha sayup terdengar. Menambah syahdu perjalanan jelang dini hari itu.
"Kampung kita besok mau berkurban," kata warga setempat saat mengantarkan rombongan pada Selasa (26/5/2026) malam.
Menuju perkampungan warga, jaraknya 1 km lebih. Bila naik sepeda motor, membutuhkan waktu 20 menit. Sementara berjalan kaki, membutuhkan waktu 40-45 menit, tergantung kondisi jalanan yang belum sepenuhnya aspal.
20 Menit berjalan menuju Desa Wamana, suasana gelap nyaris tanpa kehidupan. Kebetulan jam juga sudah menunjukkan pukul 22.00. Ditambah lampu jalanan masih sangat minim. Pencahayaaan hanya dari rumah penduduk yang mulai dialiri listrik sejak 3 tahun terakhir.
"Silakan masuk beginilah keadaan kampung kami, " kata Mama Anita menyambut penuh semringah.
Seperti di banyak perkampungan, suasana malam takbiran Idul Adha di Desa Wamana Baru tak ada keramaian mencolok. Mayoritas anak-anak sudah berada di dalam rumah yang tertutup rapat. Berbeda dengan Lebaran Idul Fitri. Anak-anak keliling kampung membawa obor.
Di Kampung Wamana, waktu sejenak terasa melambat. Jaringan telekomunikasi yang belum merata membuat banyak warga lebih banyak menghabiskan waktu silaturahmi antar tetangga ketika siang hari. Anak-anak jarang memegang ponsel. Sebab, untuk mendapatkan sinyal mereka harus naik ke perkampungan lebih atas atau membeli paket jaringan internet.
"Ya beginilah hari-hari kami, sesekali main HP ada, tapi lebih banyak kami ngobrol, anak-anak lari-larian sampe sore, atau main bola. Itu sudah begitu setiap hari," ucap Anita.
Anita termasuk pendatang di Kampung Wamana. Dia mengikuti suaminya yang lebih dulu menetap di sana. Dulu, kampung Wamana disebut sebagai kampung adat sosial. Di mana penduduknya banyak menganut animisme.
Tetapi seiring banyaknya pendatang dari perkampungan lain, berubahlah nama menjadi Kampung Wamana Baru. Perkampungan kini banyak ditinggali warga muslim. Meski beberapa masih menganut agama Kristen dan Animisme.
"Seiring semakin bertambahnya warga menganut agama Islam, aktivitas kurban kalau Idul Adha pun berjalan. Jika dulu tidak menentu, sejak 2022 kita rutin mendapat penyaluran daging kurban dari Dompet Dhuafa," ujar mama berusia 45 tahun ini.
Berkat aktivitas kurban, katanya, warga kini bisa menyantap daging sapi. Meski beberapa penduduk memiliki ternak sapi, tapi itu semua untuk diperjualbelikan ke kampung luar. Kebutuhan ekonomi membuat keluarga melupakan akan nikmatnya menyantap sapi.
"Dijual dapat uang untuk kebutuhan lain, kalau dimakan sendiri rugi. Sudah keluarkan yang untuk perawatan," ujarnya.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7153373/original/079168900_1779942062-WhatsApp_Image_2026-05-28_at_11.08.00.jpeg)
3 Hewan Kurban Membawa Keceriaan
Tahun ini, Desa Wamana mendapat penyaluran 3 sapi untuk di kurban. Dua dari Dompet Dhuafa, satu dari pemilik sebuah pondok pesantren.
Penyembelihan dilakukan setelah pagi hari warga berbondong-bondong melakukan Salat Idul Adha. Tak sampai 1 jam, proses penyembelihan selesai dilakukan meski dengan panitia terbatas.
"Alhamdulillah di sini kekeluargaan kita luar biasa, gotong royong. Tadi yang bukan muslim pun ikut membantu penyembelihan. Jadi kita di sini berkurban tanpa membeda-bedakan," kata Gusti Waemese, sebagai panitia kurban.
Daging yang sudah disembelih kemudian dibagikan merata pada warga. Termasuk yang nonmuslim. Semua rumah dapat menikmati santapan daging kurban tanpa terkecuali. Namun, yang membedakan dari aktivitas kurban pada umumnya, usai daging disembelih tak ada aktivitas ibu-ibu berkumpul untuk memasak. Semua langsung dibagikan dan diolah di rumah masing-masing.
"Bahkan salah satu penerima kita ada yang baru mualaf," ujarnya.
Warga berharap di tahun-tahun ke depan, aktivitas kurban di kampung mereka terus meningkat. Setidaknya 400 lebih kepala keluarga di tiga dusun di desa tersebut tetap bisa merasakan indahnya berkurban tanpa membeda-bedakan.
Terpisah, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Maluku, La Januri, mengatakan tahun ini total hewan kurban yang disalurkan Dompet Dhuafa Maluku berjumlah 10 kambing dan 180 sapi. Menurutnya, dari tahun ke tahun jumlah penerima manfaat juga mengalami peningkatan.
"Masyarakat sangat antusias, tidak hanya yang menjadi penerima. Tapi yang penjual juga. Karena kalau tidak ada Dompet Dhuafa mungkin tidak ada sapi yang terjual. Apalagi yang di pedalaman, karena akses buat pengantaran susah, jadi kehadiran Dompet Dhuafa sangat diharapkan 3 tahun belakang ini," katanya.
Meski jumlah hewan kurban terus bertambah, diakuinya masih ada daerah yang belum terjangkau saat penyaluran.
"Masih ada masyakarat pedalaman yang meminta (daging kurban) karena di Maluku ini kan banyak pulau - pulaunya. Tapi ya kuotanya belum terpenuhi. Sehingga belum banyak yang tersalurkan. Kalau bicara ideal mungkin ya butuh 100 ekor untuk masyarakat pedalaman," ujarnya.
Advertisement
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID.
Liputan6.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Rekomendasi
Advertisement


