Bondowoso Usulkan 25 Dapur MBG Khusus Daerah 3T, Sasar Sekolah di Pinggiran - Times Indonesia
Bondowoso Usulkan 25 Dapur MBG Khusus Daerah 3T, Sasar Sekolah di Pinggiran
BONDOWOSO – Pemerintah Kabupaten Bondowoso berupaya memperluas jangkauan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga ke wilayah-wilayah terpencil dengan mengajukan puluhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kategori daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
Koordinator SPPG Bondowoso, Mila Afriana Agustina, menjelaskan bahwa dapur SPPG untuk kawasan 3T memiliki mekanisme pengelolaan yang berbeda dibandingkan dapur MBG reguler. Hal itu disebabkan karakteristik wilayah yang sulit dijangkau serta jumlah penerima manfaat yang relatif lebih sedikit.
Menurutnya, seluruh tata kelola dapur 3T akan mengikuti petunjuk teknis yang telah ditetapkan oleh BGN. Salah satu perbedaannya adalah jumlah sasaran penerima manfaat yang tidak harus mencapai 1.000 orang seperti pada skema umum.
“Pengelolaannya akan mengikuti ketentuan dan juknis yang ditetapkan oleh BGN pusat,” ujar Mila.
Sementara itu, Kepala Baperinda Bondowoso, Anissatul Hamidah, mengatakan bahwa usulan pembangunan SPPG 3T telah disampaikan langsung oleh Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i yang juga bertugas sebagai Ketua Satgas MBG Kabupaten Bondowoso.
Ia menilai kebutuhan dapur MBG di wilayah terpencil cukup besar. Berdasarkan kondisi geografis Bondowoso, setidaknya dibutuhkan sekitar 25 unit SPPG 3T agar distribusi makanan bergizi dapat menjangkau seluruh sasaran.
Meski demikian, keputusan akhir masih menunggu hasil verifikasi dan persetujuan dari Badan Gizi Nasional.
“Pengajuannya sudah dilakukan. Selanjutnya kami menunggu proses verifikasi dari BGN,” kata Anissatul.
Menurutnya, keberadaan dapur khusus 3T menjadi langkah strategis untuk memastikan masyarakat dan pelajar yang tinggal di daerah sulit akses tetap mendapatkan layanan program MBG secara merata.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Taufan Restuanto, mengungkapkan bahwa masih terdapat sejumlah sekolah yang berada di lokasi terpencil dan membutuhkan perhatian khusus dalam distribusi MBG.
Beberapa di antaranya berada di Desa Gubrih, Kecamatan Wringin, seperti SDN Banyuwuluh 4 dan PAUD Biser Barat. Akses menuju sekolah tersebut harus melewati jalur menanjak, berbatu, dan berjarak cukup jauh.
Selain itu, terdapat pula sekolah-sekolah di Dusun Tol-Tol, Kecamatan Sumberwringin, serta Dusun Pedati, Kecamatan Ijen, yang selama ini menghadapi tantangan serupa dalam akses transportasi.
“Kelompok sasaran seperti inilah yang seharusnya menjadi prioritas dalam pelaksanaan MBG,” tegas Taufan.
Ia menambahkan, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di sejumlah wilayah pedesaan telah memberikan dampak positif terhadap dunia pendidikan. Salah satunya terlihat dari meningkatnya kehadiran siswa di sekolah.
“Program MBG di daerah pedesaan terbukti mampu meningkatkan antusiasme dan kehadiran peserta didik,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.