Lahir dari Rasa Resah, Board Game Ini Ubah Cara Belajar Aksara Jawa Jadi Lebih Menyenangkan - Tribunnews

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Endra Kurniawan
TRIBUNNEWS.COM - Kesibukan tampak di sebuah rumah sederhana milik keluarga kecil di Desa Bolon, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Di rumah itu, pasangan suami istri konten kreator Kevin dan Tasya Ayu Oktayana (27) tampak tekun menyelesaikan board game kartu aksara Jawa, sebuah usaha yang telah mereka rintis sejak masih duduk di bangku kuliah.
Dengan penuh konsentrasi, Kevin memotong lembaran kartu permainan menjadi bagian-bagian kecil. Setiap potongan harus dibuat serapi mungkin agar kualitas produk tetap terjaga.
Sementara itu, Tasya mengumpulkan potongan-potongan kartu tersebut untuk kemudian disusun menjadi satu paket board game. Setelah dikemas dengan rapi, produk siap dikirim ke pelanggan di berbagai daerah.
Tasya bercerita, perjalanannya menciptakan board game kartu aksara Jawa dimulai sejak 2019.
Semua tidak lepas dari keresahannya semasa kuliah saat melakoni Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah.
Sebagai calon guru, Tasya merasakan aksara Jawa dipandang sebagai pelajaran menjengkelkan dan membosankan oleh para siswa.
Padahal menurutnya, jika aksara Jawa diajarkan dengan metode yang benar, maka dapat dipelajari secara menyenangkan.
“Bahkan, beberapa anak itu lebih sulit mempelajari aksara Jawa daripada matematika. Nah, akhirnya muncullah ide pembuatan board game kartu aksara Jawa supaya lebih seru, asyik, dan menyenangkan,” katanya kepada Tribunnews, Minggu (28/6/2026).
Di sisi lain, aksara Jawa wajib dipelajari di berbagai tingkatan satuan pendidikan dalam muatan lokal mata pelajaran Bahasa Jawa.
Implementasinya diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2012, payung hukum untuk melindungi bahasa, sastra, dan aksara Jawa.

Tak Ingin Aksara Jawa Punah
Tasya pertama kali memperkenalkan board game kartu aksara Jawa buatannya saat menjadi pembicara di acara tahunan Temu Pendidik Nusantara (TPN) yang digagas Yayasan Guru Belajar (YGB), Jakarta.
Dalam forum tersebut, dia membuktikan bahwa inovasinya bisa diterima tidak hanya siswa, tapi juga berbagai kalangan utamanya para guru.
Alumni Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Jurusan Pendidikan Bahasa Jawa (PBJ) ini bermimpi besar suatu saat nanti board game kartu aksara Jawa dikenal secara luas, tidak kalah dengan permainan UNO.
“Jadi orang sekarang kalau nongkrong mainnya UNO atau kartu remi. Bisa enggak ya kalau di kafe-kafe itu board game-nya ganti yang tradisional-nasionalis, seperti kartu aksara Jawa misalnya, juga supaya warisan budaya ini tidak punah,” harap Tasya.
Semangat nguri-nguri atau melestarikan budaya Jawa juga Tasya tularkan kelima teman sesama alumni Pendidikan Bahasa Jawa UNS dengan membentuk komunitas Si Ojan–akronim dari Sinau Jowo Bebarengan.
Para srikandi ini aktif menggelar berbagai kegiatan untuk mengenalkan tulisan aksara Jawa memakai board game dengan cara menyenangkan dari awal terbentuknya di 2019.
Tidak hanya aksara Jawa, Si Ojan memberikan pelatihan Master of Ceremony (MC) dalam bahasa Jawa hingga ikut terlibat dalam program Doctor Javanese Minicamp (JDM), pada 2022.
JDM lahir dari keresahan akan rendahnya kemampuan berbahasa Jawa di kalangan tenaga kesehatan yang mayoritas akan bertugas di Pulau Jawa.
Sayangnya sudah hampir satu tahun terakhir, kegiatan-kegiatan rutin Si Ojan dihentikan sementara.
“Hiatus ya istilahnya. Soalnya saya habis hamil terus melahirkan. Anak saya umurnya masih 9 bulan. Rencananya Si Ojan mau dimulai lagi,” kata Tasya memberikan kabar gembira.
Ditawarkan dari Mulut ke Mulut

Kembali ke board game kartu aksara Jawa buatan Tasya. Ia memiliki berbagai model permainan, mulai kartu carakan atau honocoroko, kartu sandhangan, kartu pasangan, dan buku saku yang berisi panduan lengkap bagaimana memainkannya.
Kartu-kartu tersebut dicetak menggunakan art carton 260 Gsm yang kemudian dilaminasi, sehingga awet dipakai berulang-ulang.
Tasya juga sudah mengantongi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum pada 2020 atas karyanya tersebut.
Dari sisi bisnis, ibu satu orang anak ini menjual paket lengkap dengan harga Rp115.000, sedangkan paket tanpa buku saku Rp85.000. Untuk paket kartu carakan, kartu pasangan, serta kartu sandhangan dibanderol seharga Rp65.000.
Tasya bisa memproduksi antara 10-20 paket board game kartu aksara Jawa setiap bulannya. Sementara hingga sekarang total lebih dari 500 paket sudah terjual.
“Alhamdulillah omzet kurang lebih Rp2.000.000 per bulannya,” katanya.
Meski masih dipasarkan dari mulut ke mulut dan lewat akun Instagram, board game kartu aksara Jawa telah dikirim ke berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Konsumen utamanya guru-guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa Jawa.
Kehadiran board game kartu aksara Jawa disambut baik tenaga pendidik, seperti Gadis Ayu Kartika Sari, guru Bahasa Jawa di SMP Satu Atap Kaliombo, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Ia mengaku sangat terbantu karena kartu carakan menarik dari segi desainnya. Di lain sisi mudah diaplikasikan dalam pembelajaran.
"Respons anak didik kami banyak yang bilang mempermudah untuk menghafal bentuk aksara Jawa dan sandhangannya," katanya ketika dihubungi Tribunnews.
Sebelum memakai kartu carakan, yang menjadi kendala pembelajaran di mana siswa sulit fokus serta ada juga yang tidak tertarik.
Total sudah dua tahun Ayu mengajari para siswanya menggunakan board game kartu aksara Jawa dari komunitas Si Ojan. Selama itu, minat belajar aksara Jawa semakin meningkat.
“Overall membantu kami dalam mengajar,” tandasnya.
Hal senada juga disampaikan Dinda Ayu Hernawati, guru Bahasa Jawa SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur.
Pembelajaran Bahasa Jawa terasa jauh lebih menyenangkan dari sebelumnya hingga membuat para peserta didik tidak mengantuk.
"Semenjak anak-anak ada kartu ini semakin gampang belajar aksara Jawa. Anak-anak juga tidak sabar menunggu untuk bisa bermain ketika pelajaran Bahasa Jawa. Mereka lebih bersemangat," ujarnya.
Istimewanya lagi, Dinda berhasil menjadi top 250 inovasi karya terpilih dari 19.000 inovasi guru se-Jawa Timur dalam ajang East Java Innovative Education Summit 2025 yang digelar Pemerintahan Provinsi Jawa Timur.
Ia mendapatkan penghargaan berkat memanfaatkan board game kartu aksara Jawa sebagai media pembelajaran selama empat tahun terakhir.
Gabung Rumah BUMN, Ingin Naik Kelas

Meski mendapatkan respons positif, Tasya mengakui masih belum bisa memaksimalkan potensi di balik produk board game kartu aksara Jawa karena kendala Sumber Daya Manusia (SDM). Dari proses desain, cetak, hingga pemasaran, semuanya dilakukan seorang diri di rumahnya.
“Kendalanya ada di SDM-nya itu. Kebetulan kalau sekarang tinggal saya. Teman-teman di Si Ojan masih pada sibuk dengan kegiatan masing-masing kan, jadi saya yang handle semua,” katanya.
Oleh karenanya, ia mendaftar menjadi mitra Rumah BUMN Solo di bawah binaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dengan membawa harapan board game miliknya naik kelas.
Tasya menilai, Rumah BUMN tidak hanya jadi tempat untuk UMKM saja, namun juga menjadi wadah komunitas-komunitas bertumbuh, mencari solusi, dan berkolaborasi.
“Kalau Si Ojan ini kan kendalanya di SDM, jadi pengennya dikasih pelatihan bagaimana caranya mengelola SDM yang baik, pelatihan untuk upskilling biar sesuai dengan kebutuhan zaman yang sekarang, serta soal pendanaan,” tuturnya.
Dihubungi terpisah, Koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rini menyambut baik bergabungnya Si Ojan.
Ia turut memberikan pujiannya dengan lahirnya board game kartu aksara Jawa sebagai produk UMKM yang unik, serta mempresentasikan wajah Wong Solo yang kental dengan nilai-nilai budaya.
"Menurut saya ini keren ada UMKM yang produknya aksara Jawa. Nah, ini sangat perlu untuk dinaikkan kelasnya," kata Condro saat ditemui di kantornya, Jalan Adi Sucipto, Manahan, Banjarsari, Solo.
Condro menambahkan, Si Ojan satu dari 78.800 UMKM dan komunitas yang terdaftar di database Rumah BUMN Solo.
Semuanya berhak mendapatkan pelatihan untuk naik kelas tanpa dipungut biaya.
“Jadi, kami memfasilitasi teman-teman UMKM ini untuk menaikkan kapasitas dan kapabilitasnya sesuai dengan kebutuhan saat ini,” imbuh Condro.
Jenis pelatihan beragam, mulai yang diprogram secara khusus seperti BRIncubator dengan materi berjenjang membahas strategi marketing, communication, negotiation skill, manajemen keuangan, hingga inovasi.
Ada pula pelatihan tematik yang bisa digelar 20 kali dalam sebulan. Untuk materinya, lanjut Condro bisa di-request sesuai dengan kebutuhan UMKM maupun komunitas.
Sebut saja seperti editing video promosi produk, pelatihan membuka toko online, hingga pelatihan yang berkolaborasi dengan Shopee dan TikTok.
“Kami memang benar-benar ingin membawa pengaruh yang positif ke mereka,” tandas Condro menyatakan komitmennya mendukung kemajuan UMKM di Solo Raya. (*)