Menkeu Purbaya Jaga Ketahanan Ekonomi RI Tetap Prima - Asatu
Rizky MahendraAuthor
Smallest Font
Largest Font
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi makroekonomi Indonesia tetap tangguh dan berjalan baik di tengah lonjakan harga minyak global serta sorotan dari berbagai lembaga dunia pada Selasa (23/6/2026).
Purbaya memaparkan bahwa stabilitas domestik ditopang oleh kinerja indikator riil seperti pertumbuhan kredit perbankan, aktivitas manufaktur, penjualan kendaraan bermotor, konsumsi semen, hingga indeks belanja masyarakat yang menunjukkan tren perbaikan. Selain itu, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 berhasil mencapai angka 5,61 persen dengan tingkat inflasi yang terkendali sebesar 3,08 persen.
Dalam program Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Menkeu menjelaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berfungsi optimal sebagai peredam kejut untuk mengantisipasi gejolak pasar energi.
"Ekonomi kita bisa tumbuh dengan cukup bagus, walaupun harga minyak tinggi," ujar Purbaya, Menteri Keuangan.
Ketahanan ini sangat krusial mengingat harga minyak mentah Indonesia (ICP) sempat melonjak akibat konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur Selat Hormuz. Data Kementerian ESDM mencatat ICP meningkat tajam dari US$ 64,41 per barel pada Januari menjadi puncaknya sebesar US$ 117,31 per barel pada April, sebelum mendarat di level US$ 106,56 per barel pada Mei 2026.
"Karena ketika kita absorb kejutan negatif dari pasar minyak dunia itu, harga kalau mungkin nggak naik, akibatnya daya beli masyarakat juga tetap terpelihara, sehingga mereka bisa belanja terus sepanjang 5 bulan pertama tahun ini," kata Purbaya, Menteri Keuangan.
Meskipun harga rata-rata ICP selama lima bulan pertama menyentuh US$ 91,86 per barel dan memicu kenaikan BBM non-subsidi, pemerintah berkomitmen mempertahankan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite. Langkah perlindungan daya beli ini membuat Menkeu optimistis terhadap akselerasi ekonomi pada periode berikutnya.
"Pertumbuhannya? 5,7. Jadi pada kuartal ke II, 5,7" kata Purbaya, Menteri Keuangan.
Di sisi lain, dalam rapat kerja bersama Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta, Purbaya juga menyoroti perhatian ketat yang terus diarahkan oleh institusi finansial global terhadap pengelolaan anggaran Indonesia.
"Karena kan kita dilihat oleh lembaga pemerintah dunia, bisa nggak Indonesia menjaga defisitnya di bawah 3 persen padahal yang lain udah di atas 3 persen. (Tapi) hanya kita yang disorot, saya juga agak bingung sebetulnya. Kenapa?" tutur Purbaya, Menteri Keuangan.
Purbaya menilai pengawasan tersebut terhitung berlebihan lantaran rasio utang dan defisit anggaran Indonesia sejauh ini masih jauh lebih aman dan terkendali dibandingkan dengan banyak negara lain.
"Tapi kita yang diincar Pak. Saya nggak tau kenapa. Mungkin kita masih kurang doa Pak," seloroh Purbaya, Menteri Keuangan.
Terlepas dari tekanan eksternal tersebut, kredibilitas pengelolaan keuangan publik Indonesia mendapatkan pengakuan internasional yang signifikan dari dunia akademik luar negeri. Universitas Nankai di Tiongkok secara resmi menganugerahkan gelar Profesor Kehormatan di bidang Ekonomi kepada Purbaya atas kepemimpinannya dalam memperkuat stabilitas sektor keuangan di Asia Tenggara.
"Penghargaan ini saya dedikasikan untuk seluruh rakyat Indonesia dan insan pengelola keuangan negara yang terus bekerja menjaga stabilitas ekonomi nasional. Saya meyakini bahwa kolaborasi antara dunia akademik dan para pembuat kebijakan menjadi faktor penting dalam menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks," ucap Purbaya, Menteri Keuangan.
Pemerintah memastikan kebijakan fiskal akan terus diarahkan untuk mendukung transformasi struktural lewat hilirisasi industri, penguatan ekonomi desa, serta integrasi bantuan sosial guna menjaga ketangguhan energi nasional yang saat ini memiliki skor ketahanan 77 persen.
"Mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi prima, ditopang oleh pengelolaan fiskal yang sangat sehat, prudent, dan terjaga, dengan defisit anggaran yang konsisten berada di bawah amanat UU sebesar 3%," tegas Purbaya, Menteri Keuangan.
Editors Team


0
Like
0
Dislike
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow