28 Juli Diperingati sebagai Hari Hepatitis Sedunia, Kenali Gejala dan Pencegahannya - AFUA
JAKARTA, AFU.ID — Tanggal 28 Juli diperingati sebagai Hari Hepatitis Sedunia. Momentum ini kembali mengingatkan masyarakat terhadap ancaman hepatitis yang dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala jelas. Di Indonesia, lebih dari 60 persen penduduk disebut masih rentan terinfeksi hepatitis B karena belum pernah terinfeksi sekaligus belum memiliki kekebalan.
Ketua Komite Ahli Hepatitis Kementerian Kesehatan, David H Muljono, mengatakan program imunisasi nasional telah berhasil menurunkan penularan hepatitis B pada anak. Namun, kelompok remaja dan dewasa masih menghadapi risiko karena sebagian besar lahir sebelum imunisasi hepatitis B diberikan secara luas. Mereka juga dapat tertular apabila terpapar darah atau cairan tubuh dari orang yang terinfeksi.
“Penularan hepatitis B telah menurun secara bermakna dibandingkan dua dekade sebelumnya, tetapi masih terdapat proporsi masyarakat yang besar yang belum memiliki kekebalan terhadap infeksi hepatitis B,” kata David (27/07/26). Kondisi tersebut menunjukkan perlindungan hepatitis tidak dapat hanya mengandalkan imunisasi bayi. Pemeriksaan dan vaksinasi tambahan bagi kelompok yang belum terlindungi juga dinilai perlu diperluas.
Hepatitis B sering tidak langsung menimbulkan gejala sehingga banyak orang tidak mengetahui dirinya terinfeksi. Apabila berlangsung dalam waktu lama tanpa penanganan, penyakit tersebut dapat menyebabkan kerusakan hati, sirosis, hingga kanker hati. Karena itu, seseorang tidak dapat hanya mengandalkan kondisi tubuh yang terlihat sehat untuk memastikan dirinya bebas dari hepatitis.
Penularan hepatitis B dapat terjadi melalui darah dan cairan tubuh, penggunaan jarum secara bergantian, alat tato atau tindik yang tidak steril, hubungan seksual, serta dari ibu kepada bayi ketika melahirkan. Penularan juga dapat terjadi di lingkungan keluarga melalui penggunaan bersama benda pribadi yang berpotensi terkena darah. Meski demikian, hepatitis B dapat dicegah melalui vaksinasi dan pemeriksaan sejak dini.
Kementerian Kesehatan telah memasukkan pemeriksaan hepatitis ke dalam program Cek Kesehatan Gratis di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Saat ini, cakupan skrining hepatitis di Indonesia diperkirakan baru sekitar 10 persen, jauh di bawah target 90 persen kasus terdeteksi. Rendahnya pemeriksaan membuat banyak pasien baru mengetahui penyakitnya setelah kerusakan hati memasuki tahap lanjut.
Masyarakat yang belum mengetahui status kekebalannya dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai kebutuhan pemeriksaan dan vaksinasi. Pemeriksaan terutama penting bagi ibu hamil, tenaga kesehatan, orang yang pernah menerima transfusi darah, serta mereka yang memiliki anggota keluarga dengan hepatitis. Deteksi lebih awal memungkinkan pasien memperoleh pemantauan dan pengobatan sebelum penyakit berkembang semakin berat.
Hari Hepatitis Sedunia 2026 mengusung tema “Hepatitis: Let’s Break It Down”. WHO mengajak negara-negara menghilangkan hambatan biaya, stigma, keterbatasan layanan, dan rendahnya pengetahuan yang membuat masyarakat tidak mendapatkan pemeriksaan maupun pengobatan. Peringatan ini membawa pesan bahwa hepatitis dapat dicegah dan ditangani, tetapi masyarakat harus mengetahui status kesehatannya lebih dahulu. (RHU)