Ancaman Kemarau Ekstrem di Jabar: 15 Daerah Dilanda Kekeringan, Lebih dari 205 Ribu Warga Terdampak - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Musim kemarau panjang akibat El Nino memicu bencana kekeringan di 15 kabupaten/kota di Jawa Barat, dengan lebih dari 205 ribu jiwa terdampak, terutama di Kabupaten Bogor, Bekasi, dan Tasikmalaya.
- Guna mengantisipasi krisis air yang meluas, BPBD Jabar telah menyalurkan lebih dari 4 juta liter air bersih ke wilayah-wilayah terdampak.
- Pemprov Jabar pun menetapkan status siaga darurat kekeringan serta karhutla dari 1 Juli hingga 30 September 2026.
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sebanyak 15 kabupaten/kota di Jawa Barat dilanda bencana kekeringan akibat musim kemarau panjang yang terjadi sejak awal Juli 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat lebih dari 205 ribu warga terdampak. Daerah seperti Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, dan Kabupaten Tasikmalaya menjadi wilayah yang mengalami dampak paling besar.
Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, mengatakan tren dampak kekeringan tahun ini paling banyak terjadi di tiga daerah tersebut.
"Kalau lihat dari trennya, yang paling banyak terdampak itu di wilayah Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, dan Tasik," ujar Hadi saat dikonfirmasi, Rabu (29/7/2026).
Berdasarkan data BPBD Jawa Barat, kekeringan telah melanda 89 kecamatan dan 194 desa atau kelurahan di 15 kabupaten dan kota. Sebanyak 61.504 kepala keluarga (KK) atau 205.567 jiwa terdampak, sementara distribusi air bersih yang telah disalurkan mencapai 4.013.500 liter.
Kabupaten Bogor menjadi daerah dengan jumlah warga terdampak terbanyak, yakni mencapai 31.160 KK atau 107.109 jiwa yang tersebar di 24 kecamatan dan 84 desa atau kelurahan. Hingga kini, distribusi air bersih di wilayah tersebut telah mencapai 847.500 liter.
Sementara itu, Kabupaten Bekasi mencatat 9.078 KK atau 26.995 jiwa terdampak di sembilan kecamatan dan 18 desa atau kelurahan. Daerah ini juga menjadi wilayah dengan distribusi air bersih terbesar di Jawa Barat, yakni mencapai 2.232.000 liter.
Adapun di Kabupaten Tasikmalaya, kekeringan berdampak kepada 5.054 KK atau 24.517 jiwa yang tersebar di 12 kecamatan dan 18 desa atau kelurahan. Distribusi air bersih di wilayah tersebut telah mencapai 219.000 liter.
Selain tiga daerah tersebut, kekeringan juga terjadi di Kabupaten Karawang, Purwakarta, Pangandaran, Sukabumi, Bandung Barat, Indramayu, Garut, Cianjur, Ciamis, serta Kota Sukabumi, Kota Banjar, dan Kota Bogor.
Hadi mengatakan, sebagian besar wilayah yang terdampak memang memiliki riwayat mengalami kekeringan. Namun, kondisi tahun ini dinilai lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya karena dipengaruhi fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau lebih kering.
"Kalau misalnya tahun kemarin enggak se-ekstrem tahun ini, karena memang tahun ini ada El Nino yang membuat kemarau tahun ini lebih kering. Sehingga memang dampaknya kekeringan ini ke wilayah-wilayah yang punya potensi kekeringan," katanya.
Menurut Hadi, kondisi kekeringan tahun ini memiliki kemiripan dengan yang terjadi pada 2023, saat fenomena El Nino juga memicu berkurangnya ketersediaan air di berbagai daerah.
Selain faktor cuaca, meningkatnya jumlah penduduk juga dinilai turut memperbesar dampak kekeringan karena kebutuhan air bersih terus bertambah.
"Pertumbuhan jumlah penduduk itu juga berpengaruh pada kebutuhan air. Kebutuhan air meningkat, sementara ketersediaannya mungkin terbatas sehingga dampaknya juga bisa jadi meluas," ucapnya.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) di seluruh wilayah Jawa Barat mulai 1 Juli hingga 30 September 2026.