Dukung SDGs, Mahasiswa UNNES Gelar Gerakan Bebas Jentik di Enam Dusun Blora - Jurnal Post
Tidak ada hasil Lihat Semua Hasil
Blora, JurnalPost.com – Mahasiswa UNNES GIAT 16 Kesehatan Kelompok 35 berkolaborasi dengan Pemerintah Desa Bekutuk menggelar Program Gerakan Bebas Jentik Nyamuk di Desa Bekutuk, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora.
Program yang dikelola Pusat Pengembangan Kuliah Kerja Nyata Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Semarang (LPPM UNNES) tersebut mulai dilaksanakan pada Sabtu, 27 Juni 2026.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Upaya tersebut dilakukan melalui pemeriksaan jentik secara berkala, pemberantasan sarang nyamuk, serta penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS.
Program Gerakan Bebas Jentik turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ketiga, yakni Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya dalam pencegahan penyakit menular.
Selain itu, program tersebut berkontribusi terhadap SDGs tujuan ke-11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan dengan mendorong terciptanya lingkungan desa yang bersih, sehat, dan terbebas dari tempat perkembangbiakan nyamuk.
Sasar 97 Kepala Keluarga di Enam Dusun
Gerakan Bebas Jentik dilaksanakan dengan metode kunjungan dari rumah ke rumah di enam dusun, yaitu Dusun Bekutuk, Puntuk, Sendangagung, Sisir, Sambongrejo, dan Jampi.
Sebanyak 97 kepala keluarga menjadi sasaran pemeriksaan dan pendampingan yang berlangsung selama tiga minggu berturut-turut.
Sebelum terjun ke masyarakat, seluruh mahasiswa mengikuti pengarahan untuk menyamakan prosedur pemeriksaan, materi edukasi, dan pembagian wilayah kerja.
Sembilan mahasiswa kemudian dibagi menjadi tiga tim. Masing-masing tim bertanggung jawab mengunjungi dua dusun agar seluruh wilayah sasaran dapat dijangkau secara efektif.
Dalam setiap kunjungan, mahasiswa memeriksa berbagai tempat penampungan air yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk.
Pemeriksaan dilakukan pada bak mandi, ember, tempayan, dispenser, talang air, tempat minum ternak, serta berbagai wadah di sekitar rumah yang dapat menampung air.
Hasil pemeriksaan kemudian dicatat dalam Kartu Pemantauan Jentik sebagai bahan evaluasi perkembangan kondisi rumah warga sejak minggu pertama hingga minggu ketiga.
Mahasiswa juga mendokumentasikan keberadaan jentik dan kondisi tempat penampungan air. Pada saat yang sama, mereka mengamati penerapan gerakan 3M oleh masyarakat.
Gerakan 3M meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air.
Edukasi Diberikan Secara Bertahap
Materi edukasi kepada masyarakat diberikan secara bertahap dalam setiap kunjungan.
Pada minggu pertama, warga mendapatkan penjelasan mengenai ciri-ciri jentik nyamuk, tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, dan cara melakukan pemeriksaan jentik secara mandiri.
Mahasiswa juga mendemonstrasikan teknik pemeriksaan menggunakan senter yang diarahkan ke permukaan air dan bagian sudut wadah penampungan.
Praktik tersebut dilakukan secara langsung pada bak mandi atau tempat penampungan air milik warga agar masyarakat dapat memahami sekaligus mempraktikkannya secara mandiri.
Memasuki minggu kedua, edukasi difokuskan pada penyakit DBD, mulai dari penyebab, cara penularan, hingga karakteristik nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Warga juga memperoleh informasi mengenai waktu aktif nyamuk menggigit, tanda dan gejala DBD, serta pentingnya memeriksa lingkungan di dalam maupun di sekitar rumah.
Mahasiswa mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan wadah-wadah kecil seperti kaleng bekas, pot tanaman, tempat minum ternak, dan barang bekas lain yang dapat menampung air hujan.
Pada minggu ketiga, edukasi difokuskan pada penerapan gerakan 3M dan berbagai langkah untuk mencegah gigitan nyamuk.
Pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan kelambu atau obat antinyamuk sesuai petunjuk, mengenakan pakaian yang melindungi tubuh, memanfaatkan tanaman pengusir nyamuk, serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar.
Larvasida Diberikan Secara Selektif
Selain pemeriksaan dan edukasi, mahasiswa memberikan larvasida secara selektif kepada warga yang mempunyai tempat penampungan air yang sulit dikuras.
Larvasida antara lain diberikan untuk bak berbahan semen yang tidak mempunyai saluran pembuangan serta rumah yang masih ditemukan banyak jentik setelah menjalani pemantauan berulang.
Pemberian larvasida disertai penjelasan mengenai dosis, cara penggunaan, masa efektif, penyimpanan, dan tindakan pencegahan sesuai petunjuk yang berlaku.
Masyarakat juga diminta tidak menggunakan larvasida secara berlebihan. Pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M tetap ditekankan sebagai langkah utama dalam mencegah DBD.
Sebagai bentuk apresiasi sekaligus penguatan komitmen masyarakat, rumah yang tidak ditemukan jentik pada akhir masa pemantauan memperoleh stiker bertuliskan “Rumah Bebas Jentik”.
Stiker tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi penghuni rumah agar terus melakukan pemeriksaan jentik dan menjaga kebersihan tempat penampungan air.
Jumlah Rumah Positif Jentik Menurun
Hasil pemantauan menunjukkan jumlah rumah yang ditemukan positif jentik pada minggu ketiga mengalami penurunan dibandingkan minggu pertama.
Jumlah rumah yang dinyatakan bebas jentik juga meningkat setelah warga memperoleh edukasi dan pendampingan secara berkala.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa edukasi yang disertai pemeriksaan langsung mampu mendorong masyarakat lebih aktif memberantas sarang nyamuk di lingkungan rumah.
Kebiasaan memeriksa tempat penampungan air diharapkan tetap dilaksanakan secara mandiri meskipun program UNNES GIAT telah berakhir.
Penanggung Jawab Program Gerakan Bebas Jentik Nyamuk UNNES GIAT 16 Kesehatan, Pingkan Karlina Widianty, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada penemuan dan pemberantasan jentik.
“Melalui Program Gerakan Bebas Jentik Nyamuk, kami tidak hanya membantu masyarakat menemukan dan memberantas jentik, tetapi juga berupaya membangun kebiasaan melakukan pemeriksaan jentik secara mandiri sebagai langkah pencegahan DBD yang berkelanjutan,” ujar Pingkan.
Ia berharap budaya hidup bersih, pemeriksaan jentik secara berkala, dan penerapan gerakan 3M terus dipertahankan oleh masyarakat Desa Bekutuk setelah pelaksanaan UNNES GIAT selesai.
Dorong Perubahan Perilaku Masyarakat
Dosen Pembimbing Lapangan UNNES GIAT 16 Kesehatan, Lutfi Muzaqi, S.K.M., M.K.K.K., mengapresiasi pelaksanaan Gerakan Bebas Jentik yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada pemeriksaan jentik, tetapi juga berupaya mendorong perubahan perilaku masyarakat agar mampu mencegah DBD secara mandiri dan berkelanjutan.
“Program ini menunjukkan bahwa mahasiswa dapat berperan sebagai penggerak edukasi kesehatan di masyarakat. Pendekatan dari rumah ke rumah memungkinkan warga memperoleh informasi yang lebih praktis sekaligus belajar mengidentifikasi dan menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk di lingkungan tempat tinggalnya,” kata Lutfi.
Ia berharap kebiasaan memeriksa jentik dan menerapkan gerakan 3M terus dilakukan masyarakat meskipun program UNNES GIAT telah berakhir.
Melalui program tersebut, mahasiswa UNNES GIAT 16 Kesehatan berupaya memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mewujudkan lingkungan permukiman yang sehat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa terhadap pencapaian SDGs, sejalan dengan semangat “Bersama UNNES GIAT, Membangun Indonesia dari Desa”.