Eks Dubes RI untuk Iran: Kemartiran Jadi Senjata Iran dan Warganya untuk Lawan Amerika Serikat - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Doktrin kemartiran (shahadat) menjadi bagian dari identitas nasional Iran sejak Revolusi Islam 1979.
- Budaya menghormati para martir masih terlihat kuat melalui berbagai simbol di kota-kota Iran dan dukungan masyarakat terhadap pemimpin mereka.
- Keluarga para martir mendapat jaminan kesejahteraan dari negara, sehingga nilai pengorbanan terus diwariskan.
TRIBUNNEWS.COM - Mantan Duta Besar Indonesia untuk Iran periode 2012-2016, Dian Wirengjurit, mengatakan konsep martyrdom atau kemartiran (shahadat) di Iran merupakan nilai keagamaan, politik, dan budaya yang sangat mendalam.
Berakar dari ajaran Islam Syiah mengenai pengorbanan Imam Husayn di Karbala, doktrin tersebut kemudian menjadi salah satu pilar identitas nasional sejak Revolusi Islam 1979 dan Perang Iran-Irak.
Menurut Dian, masyarakat Iran memandang, gugur demi membela keyakinan maupun negara sebagai bentuk kebajikan tertinggi.
Nilai itu masih terus dipelihara hingga kini dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
"Dan saya mau bisa cerita begini, yang namanya martir di sana itu dihargai sampai detik ini," kata Dian saat hadir dalam program Overview Tribunnews, di kantor Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu (22/7/2026).
Ia menjelaskan, penghormatan terhadap para martir terlihat nyata di berbagai wilayah Iran.
Menurutnya, hampir seluruh kota, baik besar maupun kecil, menampilkan foto-foto para pahlawan yang gugur dalam pertempuran di ruang-ruang publik.
"Contohnya begini. Di semua kota Iran, di semua kota Iran, besar maupun kecil, di jalan utamanya itu selalu terpampang foto-foto pahlawan Iran yang mati di pertempuran sampai detik ini. Itu baik berupa poster dan lainnya," ujarnya.
Dian menambahkan, penghormatan tersebut juga diwujudkan melalui pemasangan potret para martir di berbagai tembok kota sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan mereka.
"Termasuk di berbagai kota di tembok-temboknya itu dipasang potret-potret sosok martirnya Iran," ucapnya.
Lebih lanjut, Dian menilai doktrin kemartiran membuat masyarakat Iran memiliki keberanian tinggi dalam menghadapi ancaman, termasuk terhadap Amerika Serikat.
Ia mencontohkan besarnya dukungan masyarakat kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menurutnya mencerminkan kuatnya keyakinan tersebut.
Menurut Dian, jutaan pendukung tetap menghadiri prosesi yang berkaitan dengan Ayatollah Ali Khamenei tanpa menunjukkan rasa takut terhadap kemungkinan ancaman.
"Coba massa dukungan terhadap Ali Khamenei yang jutaan itu. Apakah kelihatan wajah takut mereka... Tidak. Ibarat mereka kalau saja prosesi pemakaman Ali Khamenei ini dibom sama Amerika, mereka siap kok," tuturnya.
Ia mengatakan besarnya jumlah warga yang tetap memadati prosesi tersebut menunjukkan bahwa status sebagai martir dipandang sebagai sebuah kehormatan dalam masyarakat Iran.
Baca juga: Konflik Internal Iran: Mojtaba Khamenei Menghilang dari Publik, Faksi Keras Curiga Ada Kudeta Lunak
"Makanya tetap padat jutaan memadati prosesi itu. Artinya apa? Martir itu satu kebanggaan. Itulah yang ditanamkan dari keyakinan mereka yang dalam ini adalah Islam Syiah," kata Dian.
Selain ditanamkan melalui nilai keagamaan, Dian menjelaskan negara juga memberikan dukungan kepada keluarga para martir.
Ia mengatakan keluarga yang ditinggalkan memperoleh berbagai bentuk jaminan sosial, mulai dari biaya pendidikan anak hingga tingkat perguruan tinggi, serta dukungan ekonomi bagi pasangan maupun penyandang disabilitas akibat perang.
Dian mengatakan istri para martir tetap mendapat perhatian, sementara mereka yang mengalami cacat akibat konflik diberikan kesempatan mengembangkan usaha melalui dukungan program usaha mikro.
Menurut Dian, kombinasi antara keyakinan ideologis dan dukungan negara tersebut menjadikan doktrin kemartiran sebagai salah satu kekuatan utama Iran selain kemampuan militernya.
"Artinya kemartiran ini menjadi senjata selain tadi rudal Iran yang tidak dikatakan tidak pernah habis," pungkasnya.
Ekonomi AS Disebut Porak Poranda Usai Lawan Iran
Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth tampak gugup saat menjawab pertanyaan tentang meningkatnya biaya perang pemerintahan Trump di Iran setelah ia menjalani lebih dari tiga jam sesi tanya jawab dengan para senator yang skeptis dalam kesaksian pertamanya tentang konflik tersebut dalam lebih dari dua bulan.
Hegseth mendesak para senator untuk menyetujui apa yang disebutnya sebagai "suntikan dana mendesak dan penting" sebesar $67 miliar ke dalam militer AS, menambah anggaran Departemen Pertahanan yang kini melonjak menjadi $1,5 triliun.
Perkiraan terbarunya untuk biaya perang Iran yang terus meningkat kini telah mencapai $37,5 miliar, mengutip independent.co.uk, Kamis (23/7/2026).
Menurut Hegseth, tidak menyetujui permintaan anggaran tambahan di tengah perang "adalah ancaman terbesar yang dihadapi bangsa kita."
"Investasikanlah pada para prajurit kita... atau ini semua hanya omong kosong," katanya kepada Komite Alokasi Anggaran Senat pada hari Selasa (21/7/2026).
Namun, para anggota panel berulang kali mengecam Hegseth atas "kegagalannya" memimpin militer negara serta pernyataan-pernyataannya yang kontradiktif dan alasan-alasan yang berubah-ubah untuk perang yang berlangsung selama berbulan-bulan, yang dikhawatirkan para senator akan berubah menjadi konflik "abadi" lainnya yang membahayakan nyawa warga Amerika dan miliaran dolar uang pajak tanpa strategi yang jelas untuk mengakhirinya.
“Penggambaran Anda tentang upaya luar biasa ini sebagai kegagalan adalah tindakan yang gegabah dan tidak bertanggung jawab, dan saya pikir itu mencoreng pengorbanan pasukan yang berada di sana untuk memastikan Iran tidak pernah mendapatkan senjata nuklir,” kata Hegseth kepada Senator Demokrat Gary Peters.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)