Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Diabetes Featured Kesehatan Spesial Tips & Tricks

    Jangan Anggap Remeh Gangguan Penglihatan pada Penyandang Diabetes - Kompas

    4 min read

     


    KOMPAS.com - Gangguan penglihatan pada orang yang sudah berumur dan menyandang diabetes, sering dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal, gangguan penglihatan itu bisa jadi komplikasi dari diabetes yang berujung pada kebutaan.

    Diabetes yang tidak terkontrol dapat memicu berbagai komplikasi, termasuk kerusakan pada pembuluh darah.

    "Diabetes ini tidak datang sendiri, ia membawa 'teman-temannya' seperti kolesterol, obesitas, dan hipertensi yang memperparah kerusakan pembuluh darah, mulai dari memicu retinopati diabetik pada mata, hingga menyumbang 20 hingga 30 persen kasus pasien cuci darah," tutur Prof.Em Yunir Sp.PD-KEMD, di acara Forum Jurnalis Kesehatan yang diadaka oleh Kementrian Kesehatan di Jakarta (20/7/2026).

    Meskipun merupakan komplikasi yang paling sering dijumpai, retinopati diabetik ironisnya menjadi isu kesehatan yang paling jarang dibahas. 

    DPR "Dicecar Balik", MBG Watch Tetap Ingin Hentikan MBG karena Tak Ada Bukti untuk Dilanjutkan

    "Muncul normalisasi yang kurang pas di tengah masyarakat bahwa gangguan fungsi penglihatan di usia tua akibat diabetes dianggap sebagai sesuatu yang wajar, padahal kebutaan ini sebenarnya sangat bisa dicegah," kata Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi, Ph.D., Sp.M. di acara yang sama.

    Baca juga: 7 Tips Mencegah Retinopati Diabetik bagi Penderita Diabetes

    Ia menjelaskan, pada tahap awal, retinopati diabetik tidak menunjukkan gejala yang khas. Gejala baru akan dirasakan saat kondisi sudah dalam tahap lanjut. Gejala tersebut muncul secara perlahan sehingga pasien sering tidak menyadari.

    Gejala retinopati diabetik, antara lain, kualitas penglihatan yang berkurang, kecerahan warna penglihatan yang menurun, muncul bintik hitam, penglihatan yang berbayang, serta kesulitan melihat di malam hari.

    "Kerusakan pembuluh darah di belakang bola mata ini terjadi secara bertahap dan membuat sebagian besar pasien sama sekali tidak menyadari ancamannya dalam lima tahun pertama diabetes," kata Prof.Bayu.

    Ia mengajak masyarakat, terutama jika menderita diabetes, untuk tidak lagi takut atau menunda skrining mata untuk mempertahankan aset penglihatan.

    Baca juga: Waspadai Komplikasi Diabetes, Ini Pentingnya Kontrol Gula Darah Menurut Dokter

    Mengatasi kesenjangan infrastuktur

    Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, mengatakan pemerintah telah menggencarkan upaya deteksi dini penyakit lewat program cek kesehatan gratis. Pada program tersebut, pemeriksaan diabetes telah masuk dalam fasilitas yang diberikan.

    "Melalui program CKG, masyarakat sudah bisa memeriksakan gula darah secara berkala. Dan kami sedang mengintegrasikan layanan agar pasien diabetes juga bisa melakukan skrining retina di Puskesmas demi memperluas akses deteksi dini," tuturnya.

    Indonesia menghadapi kekurangan yang parah serta maldistribusi dokter spesialis mata. Selain itu, fasilitas kesehatan primer (Puskesmas) saat ini belum memiliki program skrining retinopati diabetik yang aktif dan kekurangan peralatan diagnostik yang diperlukan, seperti kamera retina (fundus camera).

    Baca juga: Terobosan Baru dalam Pengobatan Gangguan Retina

    Untuk mengatasi berbagai hambatan ini, para pemangku kepentingan membentuk Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives (DRIVE) yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan diantaranya akademisi, tenaga kesehatan, dan industri farmasi yang berkontribusi sesuai bidang keilmuannya dalam mempersiapkan dan mengimplementasikan studi. 

    Proyek DRIVE memanfaatkan teknologi tele-ophthalmology untuk memberdayakan dokter umum dan perawat di fasilitas layanan kesehatan primer. Pasien dengan hasil skrining positif akan dirujuk secara sistematis ke Rumah Sakit Umum Daerah untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan standar kebutuhan.

    Direktur Akses, Komunikasi dan Penguatan Sistem Kesehatan Roche Indonesia, Lucia Erniawati mengatakan, Roche secara aktif mendukung pemerintah dengan menyediakan pendanaan riset dan merancang intervensi sistemik guna memperbaiki alur skrining dan rujukan. 

    "Dengan membangun proyek percontohan tele-ophthalmology komprehensif ini, kami memastikan bahwa pasien mendapatkan pengobatan untuk menyelamatkan penglihatan mereka secara tepat waktu, dan memastikan sistem kesehatan kita siap menghadapi beban penyakit di masa depan," kata Lucia.

    Baca juga: Mengenal Penyakit Gangguan Retina Degenerasi Makula Basah 

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS