Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Bullying Featured Natalius Pigai Spesial

    Natalius Pigai Curhat Jadi Korban Bullying Netizen: Saya Menteri Saja Korban Rasis, Apalagi Rakyat? - Tribunnews

    5 min read

     

    Tribunnews.com/Igman Ibrahim A-A+ KORBAN BULLYING - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengaku dirinya menjadi korban bullying di sosial media. Baginya, marak kasus perundungan karena adanya pembiaran dari aparat penegak hukum. (Igman Ibrahim/Tribunnews.com) 
    Ringkasan Berita:
    • Menteri HAM Natalius Pigai melontarkan kritik terhadap aparat dan lembaga negara yang dinilai melakukan pembiaran terhadap kasus perundungan (bullying) dan rasisme. 
    • Pigai menyoroti kelambanan aparat penegak hukum dalam menindak akun-akun yang kerap melontarkan ujaran rasis. 
    • Ia mengambil contoh dari pengalaman pribadinya yang hingga saat ini masih sering menjadi sasaran rasisme di media sosial.


    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai melontarkan kritik terhadap aparat dan lembaga negara yang dinilai melakukan pembiaran terhadap kasus perundungan (bullying) dan rasisme. 

    Kritik tersebut disampaikan Pigai saat ditanya mengenai aksi nekat seorang siswa MAN 3 Kota Padang berinisial R (17) yang meledakkan bom rakitan di sekolahnya. 

    Adapun pelaku disebut merupakan korban bullying.

    Baca juga: 2 Kasus Ledakan di Sekolah Disebut Dipicu Bullying, Densus 88: Terinspirasi Kasus di SMAN 72 Jakarta

    Pigai menyoroti kelambanan aparat penegak hukum dalam menindak akun-akun yang kerap melontarkan ujaran rasis. 

    Ia mengambil contoh dari pengalaman pribadinya yang hingga saat ini masih sering menjadi sasaran rasisme di media sosial.

    "Pertanyaan saya sederhana saja, saya kan pejabat negara kenapa polisi tidak mau hentikan? Kan itu sederhana. Saya saja korban rasis, apalagi rakyat? Rakyat maupun saya ini korban rasis," ujar Pigai di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/7/2026).

    Pigai menegaskan bahwa melacak pelaku perundungan di ranah digital bukanlah hal yang sulit. 

    Namun, ia menyayangkan ketidakmampuan instansi-instansi terkait dalam memonitor dan menghentikan kekerasan verbal tersebut.

    "Media sosial itu gampang dicek dan bisa diusut. Nah salah satu kelemahan yang terbesar adalah lembaga-lembaga pemerintah yang diberi kewenangan untuk bisa melihat pergerakan media sosial tidak mampu menghentikan," tegasnya.

    Menurutnya, saat ini terdapat lebih dari lima lembaga negara di Indonesia yang memiliki kewenangan untuk memantau lalu lintas sistem informasi. 

    Ia menilai ketidakmauan aparat dalam bertindak secara tegas merupakan sebuah bentuk kejahatan pembiaran yang serius.

    "Oleh karena itu salah satu kejahatan terbesar, ini bay omission sekarang itu, kejahatan karena bay omission, pembiaran oleh aparat-aparat yang digaji oleh negara tapi tidak mau menghentikan kekerasan verbal melalui bullying. Ini maaf ya, saya menteri tapi saya ngomong keras. Kita evaluasi diri juga kami pemerintah ini," ungkap Pigai.

    Selain aparat, Pigai juga meminta pihak swasta yang memegang peran dalam sistem informasi teknologi untuk ikut berpartisipasi. 

    Ia berharap platform digital bisa menghadirkan ruang media sosial yang lebih beradab dan beretika di Indonesia.

    Siswa Ledakkan Bom Rakitan

    Diberitakan sebelumnya, Kepolisian Resor Kota (Polresta) Padang mengungkap motif aksi nekat seorang siswa MAN 3 Kota Padang berinisial R (17) yang meledakkan bom rakitan di sekolahnya pada Selasa (14/7/2026).

    Berdasarkan pemeriksaan, R mengaku merakit dan meledakkan bom karena menyimpan dendam akibat menjadi korban perundungan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga kelas XII.

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Susmelawati Rosya, mengonfirmasi bahwa ledakan tersebut dipicu oleh masalah psikologis mendalam yang dialami pelaku.

    "Benar terjadi ledakan tersebut. Pelakunya seorang siswa kelas XII MAN. Ini dipicu oleh masalah psikologis yang mendalam karena sering menjadi korban perundungan atau bullying oleh teman-teman sekelasnya," kata Susmelawati kepada wartawan, Selasa (14/7/2026).

    Menurutnya, pelaku merasa selama ini kerap menjadi sasaran perundungan sehingga memilih melakukan aksi balasan dengan merakit bom secara mandiri.

    "Anak ini merasa sering menjadi objek bullying. Jadi dia mengambil jalan pintas dengan merakit bomber skala kecil atau low explosive. Cara merakitnya dipelajari secara mandiri melalui internet," ujarnya.

    Susmelawati menjelaskan, bom rakitan tersebut diletakkan pelaku di bawah meja di dalam ruang kelas saat jam istirahat.

    Pelaku diduga berharap ledakan mampu merobohkan dinding kelas sehingga dapat mencelakai teman-teman yang selama ini diduga merundungnya.

    "Bom itu diletakkan di bawah meja dengan harapan ledakan bisa meruntuhkan dinding kelas untuk mencelakai teman-teman yang sering membully dirinya. Namun bangunan sekolah cukup kuat sehingga ledakan tidak menimbulkan kerusakan yang mengakibatkan korban jiwa," jelasnya.

    Ia memastikan tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut. Saat ledakan terjadi, ruang kelas juga dalam kondisi kosong.

    "Tidak ada orang di dalam kelas saat ledakan terjadi. Yang terdengar hanya dentuman dan muncul kepulan asap dari dalam ruangan," katanya.

    Komentar
    Additional JS