PBB Sebut Korban Perdagangan Manusia ke Asia dari Lebih 80 Negara - Beritasatu
Jenewa, Beritasatu.com – Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperingatkan meningkatnya jumlah korban perdagangan manusia yang dipaksa bekerja di pusat-pusat penipuan daring (scam compounds) di Asia.
Menurut badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut, para korban berasal dari lebih dari 80 negara dan banyak di antaranya direkrut melalui media sosial dengan iming-iming pekerjaan bergaji tinggi.
Dalam laporan yang dirilis, IOM menyebut kompleks penipuan daring berskala besar di Myanmar, Kamboja, dan Laos mempekerjakan hingga sekitar 300.000 orang untuk menjalankan berbagai modus penipuan daring yang menyasar korban, terutama warga lanjut usia di negara-negara Barat.
Namun, sebagian besar pekerja di lokasi tersebut justru merupakan korban perdagangan manusia. Mereka awalnya dijanjikan pekerjaan dengan penghasilan besar melalui iklan lowongan palsu yang menyasar pelamar berkemampuan bahasa Inggris dan berpendidikan tinggi.
Setelah tiba di lokasi kerja, para korban dilaporkan kehilangan dokumen identitas dan dipaksa menjalankan aksi penipuan daring di bawah ancaman kekerasan maupun intimidasi.
Direktur Jenderal IOM Amy Pope mengatakan banyak korban juga mengalami trauma berkepanjangan akibat kekerasan seksual, penyekapan, hingga kurungan isolasi. Selain itu, mereka kerap menghadapi stigma sosial dan terlilit utang setelah berhasil melarikan diri atau dibebaskan.
"Orang-orang yang terjebak di pusat penipuan merupakan korban perdagangan manusia yang dipaksa melakukan kejahatan melalui kekerasan, ancaman, dan pemaksaan," kata Pope dilansir dari Reuters.
Ia menambahkan seluruh pihak perlu bekerja sama untuk membantu para penyintas, memberantas jaringan perdagangan manusia, serta menutup celah yang dimanfaatkan kelompok kriminal.
IOM memperkirakan jumlah korban perdagangan manusia yang dipaksa bekerja di pusat penipuan daring mencapai puluhan ribu orang. Pope mengatakan IOM sejauh ini telah membantu korban dari sekitar 30 negara yang direkrut menggunakan modus penawaran kerja palsu.
Menurut dia, meski jaringan utama beroperasi di Asia, pemanfaatan media sosial membuat pelaku dapat menjangkau calon korban di berbagai belahan dunia dengan lebih mudah. Karena itu, jumlah negara asal korban kini telah melampaui 80 negara.
Pope juga mengungkapkan sebagian korban yang berhasil melarikan diri atau dibebaskan melalui operasi aparat justru masih menghadapi ancaman tuntutan pidana.
Ia mengapresiasi sejumlah negara, termasuk Thailand, yang meningkatkan upaya mengidentifikasi pusat-pusat penipuan daring tersebut. Meski demikian, Pope menilai masih diperlukan langkah lebih besar, terutama untuk membongkar jaringan yang beroperasi di wilayah terpencil dengan penegakan hukum yang lemah.
IOM juga menyerukan penguatan perlindungan bagi korban perdagangan manusia melalui mekanisme perlindungan, pemulangan yang aman, serta program reintegrasi. Selain itu, badan PBB tersebut meminta peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai modus yang digunakan pelaku agar calon korban dapat mengenali risiko sejak dini dan mengetahui tempat untuk mencari bantuan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu