Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Amerika Serikat Benjamin Netanyahu Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Netanyahu Spesial

    Pengamat: Kedekatan Trump-Netanyahu Jadi Faktor Perdamaian Iran-AS Sulit Terwujud - Tribunnews

    8 min read

     

    Ringkasan Berita:
    • Pengamat HI UNS Septyanto Galan Prakoso menilai kedekatan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu serta kuatnya lobi pro-Israel di AS menjadi faktor yang mempersulit perdamaian konflik Iran-AS. 
    • Eks Dubes RI untuk Iran Dian Wirengjurit juga menyebut keduanya saling membutuhkan demi kepentingan politik.
    • Israel berpotensi menjadi "spoiler" yang menghambat perdamaian Iran-AS

    TRIBUNNEWS.COM – Pengamat Timur Tengah sekaligus dosen Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret (UNS), Septyanto Galan Prakoso, menilai kedekatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi salah satu faktor yang membuat konflik dengan Iran semakin sulit diselesaikan.

    Menurut Galan, dalam setiap konflik selalu terdapat pihak yang tidak menginginkan proses perdamaian berjalan karena memiliki kepentingan tertentu.

    Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan teori spoiler dalam studi resolusi konflik.

    "(Teori spoiler adalah) satu konsep di mana dalam setiap konflik itu pasti ada pihak atau aktor yang berusaha menggagalkan atau menghambat proses perdamaian," jelas Galan dalam program Overview Tribunnews yang tayang pada Rabu (22/7/2026).

    "Kenapa? Karena ada dua penyebab. Yang pertama kepentingan dia belum tercapai. Objektif dia belum tercapai."

    "Yang kedua, dia merasa kalau kemudian perdamaian tercapai, dia tidak akan punya kesempatan lagi untuk bisa menginisiasi konflik atau membuka kembali ee kemungkinan atau kesempatan pencapaian kepentingan tadi."

    Israel Dinilai Ingin Perang Terus Berlangsung

    Galan mengatakan, apabila teori tersebut diterapkan pada konflik Iran-Amerika Serikat saat ini, maka Israel dapat dipandang sebagai salah satu pihak yang berkepentingan agar perang tidak segera berakhir.

    "Nah, dalam hal ini kalau kita bisa menempatkan Israel menjadi pihak yang spoil gitu ya, pihak yang busuk gitu ya."

    "Jadi yang jelek-jelekin satu proses perdamaian biar jadi basi, biar jadi busuk terus enggak jadi."

    Menurutnya, pemerintahan Israel memiliki dua tujuan utama.

    PERANG IRAN - Tangkap layar YouTube Tribunnews 22 Juli 2026, memperlihatkan Pengamat Timur Tengah dan Dosen HI UNS, Septyanto Galan Prakoso dalam program Overview Tribunnews. Menurut Galan, sebelum konflik kembali memanas akhir-akhir ini, sebenarnya telah terdapat nota kesepahaman (MoU) yang membuka jalan menuju proses perdamaian.
    PERANG IRAN - Tangkap layar YouTube Tribunnews 22 Juli 2026, memperlihatkan Pengamat Timur Tengah dan Dosen HI UNS, Septyanto Galan Prakoso dalam program Overview Tribunnews. Menurut Galan, sebelum konflik kembali memanas akhir-akhir ini, sebenarnya telah terdapat nota kesepahaman (MoU) yang membuka jalan menuju proses perdamaian. (Tangkap layar YouTube Tribunnews.com)

    Baca juga: Eks Dubes RI: Hubungan AS-Iran Sempat Harmonis, Semua Berubah sejak Donald Trump Berkuasa

    Pertama, memperluas wilayah yang selama ini menjadi bagian dari agenda kelompok politik kanan di Israel.

    "Israel memiliki satu visi untuk mewujudkan Greater Israel atau Israel Raya," ujarnya.

    "Israel (yang) lebih luas, sampai mencaplok Yordania sampai ke utara ke Lebanon ke daerah Bulan Sabit Subur, daerah Levan itu sampai ke utara lagi."

    "Terus kemudian bahkan juga bisa merambah ke selatan seperti yang dulu pernah dirampas dari Mesir ketika perang tahun 50-an 60-an."

    Ia menilai, tujuan itu terlihat dari berbagai operasi militer Israel di Lebanon maupun wilayah Palestina yang hingga kini masih terus berlangsung.

    Selain itu, Israel juga dinilai ingin menghilangkan seluruh ancaman militer dari kelompok-kelompok yang selama ini berseberangan dengannya.

    "Yang kedua, objektif yang belum dicapai oleh Israel adalah nihilnya ancaman yang bisa masuk ke Israel atau istilahnya penghilangan ancaman atau serangan yang bisa masuk ke Israel, sambung Galan.

    "Dari siapa? dari milisi-milisi atau pihak-pihak yang memang jelas menyatakan ketidaksukaannya, ketidaksetujuannya, kontra dengan Israel dan segala macam pelanggarannya, yang berani menyerang Israel."

    Galan menyebut pihak-pihak itu di antaranya Iran, Hizbullah dan Houthi.

    "Siapa di antaranya? Yang pertama Iran. Kita sudah melihat tahun lalu bagaimana kemudian lempar-lemparan misilnya sudah benar-benar terjadi."

    "Kemudian selalu dan selalu Hizbullah yang tetap berjuang, dari Lebaran bagian selatan, untuk menyerang daerah Israel."

    "Kemudian juga mungkin dari pihak-pihak seperti Houthi dan sebagainya."

    Lobi Israel Disebut Semakin Kuat di Era Trump

    Galan juga menyoroti kuatnya pengaruh kelompok lobi pro-Israel di Amerika Serikat selama Donald Trump memimpin.

    Ia secara khusus menyebut American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) sebagai salah satu kelompok yang memiliki pengaruh besar dalam mendorong hubungan erat antara Amerika Serikat dan Israel.

    "Sudah banyak lobi-lobi Yahudi, lobi-lobi Israel yang masuk ke Amerika Serikat, yang paling utama adalah AIPAC, American Israel Public Affairs Committee," ujarnya.

    Galan menyebut AIPAC selalu menggaungkan bahwa kalau Amerika-Israel solid, dan hubungan keduanya akan semakin kuat.

    Menurut Galan, kondisi tersebut berbeda dibandingkan ketika Barack Obama masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

    "Di era Obama lobi ini tidak bisa masuk terlalu banyak karena Partai Demokrat lebih majemuk, tidak didominasi kulit putih atau kelompok-kelompok kanan yang juga ada simpati kepada jewish motives dan lain sebagainya."

    "Ketika Trump menguasai pemerintahan dan Partai Republik berkuasa di Kongres, lobi ini makin kuat," katanya.

    Ia menduga, menguatnya pengaruh kelompok lobi tersebut turut memengaruhi keputusan AS melancarkan serangan terhadap Iran tanpa memperhitungkan kemampuan balasan Teheran.

    "Jangan-jangan ini juga menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan tindakan menyerang Iran dilakukan tanpa memperhitungkan bahwa Iran juga mampu menjawab dengan lebih ganas," ujarnya.

    Eks Dubes: Trump dan Netanyahu Saling Membutuhkan

    Pandangan serupa disampaikan mantan Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit.

    Menurut Dian, hubungan Trump dan Netanyahu tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik masing-masing.

    Ia menilai, kedua pemimpin tersebut saling memanfaatkan dalam menghadapi Iran.

    Ia juga membandingkan situasi tersebut dengan masa pemerintahan Barack Obama.

    "Tolong dilihat, Israel itu ketika zaman Obama pernah tidak merasa terancam seperti sekarang sejak di bawah Trump?" ujarnya.

    "Saya cuma bisa bilang, mereka saling menumpang. Israel tidak punya kemampuan menghadapi langsung Iran, sementara Amerika ternyata juga kemampuannya tidak seperti yang selama ini digembar-gemborkan," kata Dian.

    Menurut Dian, konflik yang kini terjadi justru memperlihatkan bahwa strategi Amerika Serikat dan Israel tidak berjalan sesuai harapan.

    Pasalnya, Iran dinilai tetap mampu bertahan bahkan melancarkan serangan balasan.

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

    Komentar
    Additional JS