Rahasia Misterius Ikan Es Antartika, Satu-satunya Hewan Berdarah Bening - Kompas
KOMPAS.com - Antartika adalah lingkungan yang sangat keras. Suhu di bawah nol derajat memaksa mahluk hidup di sana memutar otak agar bisa bertahan dari tantangan yang bagi kita terdengar sepele: bernapas, mencari makan, dan menolak mati membeku.
Salah satu contoh paling nyata dari ekstremnya perjuangan bertahan hidup ini ditunjukkan oleh ikan es Antartika, atau yang di dunia sains dikenal dengan nama keluarga Channichthyidae.
Hidup di perairan super dingin yang membekukan telah mengubah cara pandang mata mereka, memudarkan warna kulit mereka, dan yang paling aneh, membuat darah mereka menjadi bening tanpa warna.
Baca juga: 40 Tahun di Laci, Fosil Ini Ternyata Dinosaurus Pertama Antartika
Warna darah yang transparan ini terjadi karena tubuh mereka sama sekali tidak memiliki hemoglobin, zat protein pengikat oksigen yang biasanya membuat darah manusia dan hewan lain berwarna merah.
Kenapa Bendera Kuning Identik dengan Orang Meninggal?
Faktanya, ikan es adalah satu-satunya hewan bertulang belakang (vertebrata) dewasa di bumi yang diketahui tidak memiliki hemoglobin dalam tubuhnya.
Bertahan Hidup Tanpa Sel Darah Merah
"Kondisi tanpa hemoglobin ini, yang dikaitkan dengan darah tak berwarna dan hanya memiliki sedikit sel menyerupai eritrosit yang tidak berfungsi, memberikan warna pucat yang khas pada ikan ini sehingga mereka dinamai ikan es," tulis peneliti dalam studi ilmiah yang dipublikasikan pada tahun 2003 terkait penampilan aneh satwa kutub ini.
Dikuitip IFLScience, karena tidak memiliki hemoglobin, cara mereka bernapas pun berbeda.
Oksigen di dalam tubuh ikan es dialirkan murni melalui larutan fisik cairan darah mereka sendiri.
Akibatnya, kapasitas darah ikan es dalam mengangkut oksigen hanya sepersepuluh (10 persen) dari kapasitas terkam sekelompok ikan berdarah merah pada umumnya.
Untungnya, sifat air yang sangat dingin meningkatkan kelarutan gas, sehingga oksigen lebih mudah larut di dalam air laut Antartika.
Ikan es merupakan contoh sempurna dari apa yang terjadi ketika sebuah spesies terisolasi di lingkungan yang ekstrem. Leluhur mereka mulai menempati wilayah ini puluhan juta tahun lalu saat benua Antartika mendingin.
Pada satu titik waktu, terjadi mutasi genetik acak yang membuat mereka kehilangan kemampuan memproduksi hemoglobin.
Jika mutasi ini terjadi pada ikan di perairan hangat, mereka pasti akan langsung mati.
Namun, karena air laut Antartika sangat dingin dan kaya akan pasokan oksigen alami, ikan es ini tidak hanya sekadar bisa bertahan hidup tanpa darah merah, mereka justru hidup makmur dan mendominasi kawasan tersebut.
Penemuan "Kota" Ikan Terbesar di Dunia
Pada tahun 2022, sebuah kejutan besar ditemukan oleh tim peneliti. Mereka mendeteksi adanya zona pembiakan raksasa berisi sekitar 60 juta ekor ikan es berdarah bening yang hidup damai di bawah Lapisan Es Filchner, di bagian selatan Laut Weddell, Antartika.
Tempat ini langsung dinobatkan sebagai wilayah sarang pembiakan ikan terbesar di dunia yang pernah ditemukan hingga saat ini.
Autun Purser dari Alfred Wegener Institute di Bremerhaven, Jerman, menceritakan pengalamannya saat memimpin pengamatan dari kapal riset:
"Setelah penemuan spektakuler dari sekian banyak sarang ikan tersebut, kami memikirkan strategi di atas kapal untuk mencari tahu seberapa luas area pembiakan ini, dan secara harfiah, sejauh mata memandang sarang itu tidak ada habisnya. Sarang-sarang ini memiliki diameter tiga perempat meter, jauh lebih besar daripada struktur dan makhluk berukuran beberapa sentimeter yang biasanya kami deteksi dengan sistem kamera bawah laut."
Baca juga: Misteri 50 Tahun Terjawab, Ilmuwan Temukan Angin Lubang Hitam Kita
Guna memetakan area raksasa tersebut, tim peneliti menaikkan posisi kamera penjelajah hingga ketinggian tiga meter di atas dasar laut dan memacu kapal dengan kecepatan maksimal tiga knot. Dari rekaman foto dan video di area seluas 45.600 meter persegi, mereka berhasil menghitung ada sebanyak 16.160 sarang ikan aktif.
Melalui data observasi dari kapal pemecah es Polarstern, total populasi di seluruh kawasan sarang tersebut diperkirakan mencapai 60 juta ekor. Angka fantastis ini membuktikan bahwa wilayah bawah es tersebut merupakan habitat krusial yang sangat penting bagi kelangsungan hidup spesies ikan es.
Meskipun usulan untuk menjadikan kawasan Laut Weddell ini sebagai Kawasan Perlindungan Laut (Marine Protected Area) telah digodok sejak tahun 2016 oleh Uni Eropa dan Komisi Internasional untuk Konservasi Sumber Daya Hayati Laut Antartika (CCAMLR), hingga saat ini kesepakatan resmi tersebut masih dalam proses berjalan dan belum sepenuhnya terwujud.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang