Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    MENGHUBUNGKAN TRANSMISI...
    Home Berita Featured Kesehatan Makan Bergizi Gratis Spesial SPPG Stunting Zulhas

    Zulhas Pastikan SPPG Baru Segera Dibuka, Wilayah dengan Stunting Tinggi Jadi Prioritas MBG - Viva

    6 min read

     

    Ilustrasi dapur MBG atau SPPG

    Jakarta, VIVA – Pemerintah mempercepat pembukaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari sekitar 13.000 titik SPPG yang telah disiapkan, pembukaan akan dilakukan secara bertahap dengan mendahulukan wilayah yang memiliki prevalensi stunting tinggi.

    Baca Juga

    Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan daerah dengan persoalan stunting tinggi menjadi prioritas pemerintah. Sejumlah wilayah yang mendapat perhatian khusus di antaranya Papua Pegunungan, Papua, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Pemerintah menargetkan SPPG yang sudah siap di wilayah prioritas tersebut dapat dibuka dalam waktu satu bulan. Sementara itu, pembukaan SPPG di wilayah lainnya akan dilakukan dengan tahapan berbeda dan diperkirakan membutuhkan waktu hingga dua bulan.

    Baca Juga

    Zulhas Sebut SPPG di Papua dan NTT Diprioritaskan

    Zulhas menjelaskan, tidak seluruh titik SPPG yang telah disiapkan akan langsung dibuka secara bersamaan. Pemerintah akan memilah lokasi berdasarkan kebutuhan dan kondisi masing-masing daerah.

    Baca Juga

    Wilayah yang masuk kategori prioritas adalah daerah tertinggal dengan angka stunting tinggi. Menurut Zulhas, daerah tersebut terlihat sebagai wilayah merah dalam pemetaan pemerintah sehingga perlu mendapat penanganan lebih cepat.

    "Itu nasibnya bagaimana? Kita bagi dua, yang daerah tertinggal, yang tadi digambarkan oleh Mas Dar (Kepala BGN, Sudaryono) dan Menkes (Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin) itu stunting-nya tinggi, kalau di peta itu daerah merah, itu prioritas. Misalnya ya, Papua Pegunungan, NTT, Papua-Papua dan NTT. Nah ini kita akan selesaikan sebulan ini," kata Zulhas dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (29/7/2026).

    Dari sekitar 13.000 titik SPPG yang telah disiapkan, sebagian besar berada di wilayah seperti Sumatra dan Jawa. Pemerintah membutuhkan waktu lebih panjang untuk mempersiapkan pembukaan SPPG di wilayah tersebut.

    "Dari 13.000 (titik SPPG) itu sebagian artinya. Nah sebagian besar, itu kita perlu waktu dua bulan. Itu ada di Sumatra, ada di Jawa, ya. 3T juga namanya, yang 13.000 tadi. Sebagian kecil, itu yang sangat penting seperti di Papua-Papua Pegunungan, NTT dan lain-lain itu kita salah satu bulan. Sisanya kami akan pelajari, perlu waktu dua bulan," ujar Zulhas.

    Minta Tak Ada Lagi Demonstrasi

    Zulhas juga meminta pihak-pihak yang selama ini menunggu kepastian pembukaan SPPG memahami proses yang tengah dilakukan pemerintah. Menurut dia, pembukaan tidak dilakukan serentak karena pemerintah terlebih dahulu memprioritaskan wilayah dengan kebutuhan paling mendesak.

    Ia pun meminta pihak yang bergerak dalam bidang tersebut tidak lagi melakukan aksi demonstrasi untuk mendesak kepastian pembukaan SPPG.

    "Jadi para teman-teman yang bergerak di bidang ini, kalau sudah membaca komunikasi, harap memahami. Jadi nggak usah datang lagi, apa demo lagi," tutur Zulhas.

    Ia kembali menegaskan bahwa wilayah Papua, Papua Pegunungan, dan NTT yang memiliki angka stunting tinggi akan menjadi prioritas pertama.

    "Yang jauh, itu yang Papua-Papua dan NTT, yang stuntingnya tinggi, satu bulan selesaikan. Yang sisanya dua bulan akan kita set bentuknya apa nanti, kita akan jelaskan berikutnya," sambungnya.

    SPPG Prioritas Diputuskan Sebelum 5 Agustus

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pembukaan SPPG di wilayah dengan angka stunting tinggi merupakan salah satu kesepakatan pemerintah untuk memperkuat implementasi Program MBG.

    Budi mengatakan pemerintah telah memiliki data mengenai lokasi yang membutuhkan perhatian lebih dalam penanganan stunting. Karena itu, SPPG yang telah siap beroperasi akan segera dibuka di daerah-daerah prioritas.

    Ia menyebut keputusan mengenai pembukaan SPPG tersebut ditargetkan dilakukan sebelum 5 Agustus 2026. Langkah ini diharapkan mempercepat pelaksanaan MBG sekaligus membantu penanganan persoalan gizi di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.

    "Yang stunting itu saya baru wa, termasuk sampai lokasi-lokasinya sudah ada Kabupaten/Kota-nya. Itu nanti akan segera diputuskan oleh Bapak Kepala BGN Sebelum tanggal 5 (Agustus) segera SPPG, yang sudah siap itu dibuka langsung di daerah-daerah yang memang stuntingnya tinggi," kata Budi dalam kesempatan yang sama.

    Pembukaan SPPG Dipercepat untuk Perkuat MBG

    Pemerintah berharap pembukaan SPPG di daerah prioritas dapat memperkuat pelaksanaan Program MBG, terutama di wilayah yang menghadapi persoalan stunting. Percepatan tersebut dilakukan bersamaan dengan penyempurnaan sejumlah aspek dalam pelaksanaan program.

    Budi menyebut pemerintah masih melakukan penyempurnaan penentuan sasaran penerima manfaat, standar menu, hingga evaluasi hasil pelaksanaan MBG.

    Dengan tahapan tersebut, pembukaan SPPG tidak hanya diarahkan untuk menambah titik layanan MBG, tetapi juga memastikan program dapat lebih cepat menjangkau daerah yang memiliki persoalan gizi dan stunting tinggi.

    Untuk wilayah prioritas seperti Papua, Papua Pegunungan, dan NTT, pemerintah menargetkan proses pembukaan SPPG yang sudah siap dapat diselesaikan dalam satu bulan. Sementara wilayah lainnya akan mengikuti tahapan berikutnya dengan waktu persiapan hingga dua bulan.

    Ilustrasi siswa sedang menyanta hidangan MBG

    MK Nilai MBG Penting untuk Penuhi Hak Gizi Rakyat, tapi Harus Punya Anggaran Sendiri

    Daniel menjelaskan, sejak awal MBG dirancang sebagai program untuk menekan angka stunting serta mengatasi berbagai persoalan kesehatan yang timbul akibat belum meratanya

    img_title

    VIVA.co.id

    30 Juli 2026

    Komentar
    Additional JS