12 Truk Bantuan dari Surabaya Melaju ke Nagekeo, Bawa Logistik hingga Dukungan untuk Anak Korban Gempa - Kompas
SURABAYA, KOMPAS.com - PT Dharma Lautan Utama (DLU) bersama Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) memberangkatkan 12 truk bantuan kemanusiaan dari Surabaya menuju Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pengiriman ini merupakan bagian dari upaya membantu masyarakat yang masih menghadapi dampak gempa dan keterbatasan bantuan di wilayah tersebut.
Bantuan ditujukan bagi lebih dari 1.000 kepala keluarga terdampak gempa.
Logistik bantuan dan tantangan distribusi
Penasehat Utama DLU, Bambang Haryo Soekartono, menyatakan bahwa Nagekeo menjadi prioritas karena informasi mengenai keterbatasan bantuan yang masuk ke wilayah tersebut.
Potret NTT 4 Hari Pasca Gempa: Warga Bertahan di Tenda Darurat, Evakuasi Tim SAR Berlanjut
Baca juga: Bantuan Kurang, Anak-anak Korban Gempa Manggarai Timur NTT Makan Nasi Campur Kopi
“Nagekeo menjadi prioritas karena informasi yang kami terima, bantuan yang masuk ke wilayah tersebut masih cukup terbatas. Karena itu, kami berupaya mengirimkan bantuan secara langsung agar kebutuhan masyarakat dapat segera terpenuhi,” ujarnya kepada jurnalis.

Lihat Foto
Bantuan yang disiapkan mencakup susu, obat-obatan, perlengkapan ibu dan anak, selimut, generator set (genset), kabel, serta berbagai logistik lainnya, berdasarkan koordinasi dengan posko bencana dan masyarakat di lokasi.
Proses pengiriman mempertimbangkan tantangan distribusi akibat kerusakan infrastruktur seperti jalan dan jembatan di beberapa titik terdampak.
“Kami berharap proses pengiriman dan distribusi dapat berjalan lancar. Memang kondisi infrastruktur di beberapa titik terdampak cukup berat, ada jalan dan jembatan yang mengalami kerusakan."
Baca juga: Belum Dapat Bantuan Usai Gempa, Warga Manggarai Adang Mobil Polisi
"Namun, kami akan berupaya agar bantuan ini tetap bisa sampai kepada masyarakat yang membutuhkan,” imbuhnya.
Ia menambahkan, koordinasi dengan pihak di lokasi dilakukan untuk memastikan bantuan yang dikirim sesuai dengan kebutuhan penyintas.
“Kami tidak ingin bantuan yang dikirim justru tidak sesuai kebutuhan. Karena itu, sebelumnya kami berkoordinasi dengan posko bencana dan masyarakat di lokasi untuk mengetahui barang apa saja yang paling dibutuhkan para penyintas,” tutur pria yang biasa disapa BHS itu.

Lihat Foto
Baca juga: Pertamina Patra Niaga Hadir Terdepan Membawa Energi dan Kepedulian untuk Warga Flores
Pemulihan psikologis dan pendidikan
Selain kebutuhan logistik, penanganan pascabencana juga harus memperhatikan kondisi psikologis masyarakat, terutama anak-anak.
Pengalaman menghadapi bencana dapat meninggalkan trauma yang membutuhkan pendampingan.
“Trauma healing harus menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana. Anak-anak yang mengalami atau menyaksikan bencana tentu membutuhkan pendampingan agar trauma mereka tidak berlarut-larut,” ujar Bambang.
DLU menyertakan mainan edukatif dalam bantuan yang dikirim ke lokasi pengungsian untuk membantu anak-anak kembali bermain dan beraktivitas.
Baca juga: Dedi Mulyadi Datang Langsung ke Lokasi Gempa NTT, Rumah Rusak Berat Dapat Bantuan Rp 20 Juta
“Kami juga menyertakan mainan edukatif untuk anak-anak. Ini memang sederhana, tetapi kami berharap bisa membantu mereka kembali ceria dan memberikan ruang untuk bermain di tengah situasi sulit yang mereka alami,” sambungnya.
Keberlangsungan pendidikan anak-anak juga menjadi perhatian.
Kerusakan fasilitas sekolah akibat gempa dinilai perlu segera ditangani agar aktivitas belajar tidak terhenti terlalu lama.

Lihat Foto
Baca juga: Mendagri Ungkap Prioritas Pemerintah Dorong Pemulihan Pascagempa Berbasis Data di NTT
“Jangan sampai anak-anak terlalu lama kehilangan haknya untuk mendapatkan pendidikan. Sekolah yang rusak harus segera didata dan dilakukan percepatan pembangunan atau perbaikan agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan normal,” ujarnya lagi.
Kolaborasi penanganan bencana
Bambang mengapresiasi langkah pemerintah pusat yang mengerahkan sejumlah menteri untuk mempercepat penanganan bencana di NTT.
Ia menilai proses pemulihan membutuhkan kolaborasi dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, relawan, serta masyarakat.
Baca juga: Memutus Isolasi Gempa NTT Seperti di Aceh: Medan Berat Jadi Tantangan Penyaluran Logistik
“Yang paling penting sekarang adalah memastikan masyarakat tidak merasa sendirian menghadapi bencana."
"Semua pihak harus bergerak bersama, baik dalam memenuhi kebutuhan dasar, memberikan pendampingan psikologis maupun mempercepat pemulihan infrastruktur dan pendidikan,” pungkasnya.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT