Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Gempa Bumi Kesehatan Lintas Peristiwa NTT Spesial

    2 Korban Gempa di Pulau Palue Kritis, Akses Darat Terisolasi dan Butuh Helikopter - Kompas

    3 min read

     

    MAUMERE, KOMPAS.com – Dua warga korban gempa bumi di Dusun Awamale, Kampung Watupuli, Desa Nitunglea, Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan dalam kondisi kritis.

    Keduanya membutuhkan penanganan medis, tetapi proses evakuasi terkendala akses menuju lokasi yang terisolasi.

    Kedua korban tersebut adalah Fulgensia Sopu dan Edita Lanu. Mereka tertimpa reruntuhan bangunan saat gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026).

    Baca juga: 552 KK Korban Gempa di Ngada Mengungsi, Ini Sederet Kebutuhan Mendesak

    “Pasien Fulgensia Sopu punya riwayat penyakit Asma. Pada saat ini asmanya kambuh lagi,” ujar Yosef Karmianto Eri, anggota DPRD Sikka asal Palue, saat dihubungi, Selasa (18/8/2026).

    Indonesia di Jalur Cincin Api, Ini Daftar Provinsi Rawan Gempa

    Karmianto mengatakan, Dusun Awamale merupakan salah satu wilayah yang terisolasi setelah gempa. Untuk mencapai dusun tersebut dari Desa Nitunglea, warga harus berjalan kaki sejauh sekitar tiga kilometer.

    Sementara itu, perjalanan dari Desa Nitunglea menuju pusat Kecamatan Palue yang berjarak sekitar 10 kilometer masih dapat ditempuh menggunakan kendaraan.

    Namun, akses menuju Dusun Awamale tertutup material longsoran berupa batu dan pohon yang runtuh akibat gempa. Kondisi tersebut membuat proses evakuasi melalui jalur darat tidak dapat dilakukan.

    “Kalau mau dibantu hanya bisa lewat udara dengan helikopter. Jalan darat sama sekali tidak bisa dijangkau. Medannya sangat berat, mendaki dan kewati lereng-lereng. Ke sana hanya bisa jalan kaki,” ujarnya.

    Karmianto mengatakan, kondisi medan yang berat membuat evakuasi kedua korban membutuhkan dukungan transportasi udara, terutama untuk membawa mereka ke fasilitas kesehatan agar segera mendapatkan penanganan medis.

    Baca juga: Warga Terdampak Gempa di Cibal Barat Butuh Terpal, Makanan, dan Obat-obatan

    Satu warga meninggal

    Selain dua korban yang dalam kondisi kritis, Karmianto menyebut seorang warga di Dusun Awamale sebelumnya meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa.

    Sebelumnya diberitakan, gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang sejumlah wilayah di NTT pada Sabtu pagi (15/8/2026).

    Gempa tersebut disebut berpusat di Kabupaten Nagekeo, dengan titik gempa sekitar 30 kilometer arah timur laut dan kedalaman 15 kilometer.

    Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026.

    Status tersebut ditetapkan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena melalui Keputusan Gubernur NTT Nomor 305/KEP/HK/2026 tentang Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi di Provinsi NTT.

    Keputusan itu ditetapkan di Kupang pada 15 Agustus 2026, menyusul gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Pulau Flores pada hari yang sama.

    Gempa tersebut berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Momen Korban Gempa NTT Dievakuasi Menggunakan Helikopter

    Komentar
    Additional JS